Serang (AntaraBanten) - Sekolah Tinggi Perikanan (STP) Serang siap mendorong wirausahawan muda yang akan mengembangkan usaha budidaya udang, melalui teknologi budidaya udang skala mini empang plastik (Busmetik)

Kepala Bagian Administrasi Pelatihan Perikanan Lapangan (BAPPL) STP Serang Tubagus Haeru Rahayu di Serang, Minggu, mengatakan budidaya udang di tambak, kembali bergairah sejak pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencanangkan program revitalisasi budidaya udang yang implementasi awalnya dilakukan di Pantai Utara Jawa (Pantura).

Program tersebut merupakan kebijakan strategis dalam menggerakkan seluruh potensi melalui pengelolaan yang arif dan bertanggungjawab, sehingga secara langsung akan berdampak terhadap peningkatan produksi dan produktivitas serta nilai tambah.

"Kami telah mengembangkan suatu terobosan teknologi budidaya udang yaitu teknologi Busmetik atau budidaya udang skala mini empang plastik yang dapat memberikan 'win-win solution' bagi wirausahawan muda untuk mencoba berusaha dan meyakinkan pihak perbankan agar mengucurkan dananya untuk modal," kata Tubagus Haeru Rahayu.

Ia mengatakan, dengan adanya program revitaliasi budidaya udang yang dicanangkan KKP, akan menjadi pengungkit bagi wirausahawan muda di bidang budidaya udang. Namun terkadang para wirausahan muda kerap terkendala dengan dukungan klasik yaitu modal.

"Semua orang mahfum bahwa budidaya udang membutuhkan biaya untuk investasi dan operasional yang cukup tinggi, yang dapat mencapai ratusan juta rupiah per siklusnya," kata Haeru.

Selain itu, kata dia, aspek pengembangan teknologi udang juga sangat dibutuhkan untuk menjawab hambatan dari berbagai permasalahan dalam pengembangan budidaya udang tersebut, sehingga pihak perbankan berani mengucurkan dananya untuk para wirausahawan muda yang ingin mencoba berusaha budidaya udang.

Menurutnya, teknologi 'Busmetik' diterapkan sebagai instrumen pokok dalam pembelajaran model 'teaching factory' (TEFA) dalam mencetak kader-kader perikanan budidaya yang cakap dan tangguh. Teknologi tersebut dilatarbelakangi karena udang merupakan komoditas unggulan KKP.

Implementasi teknologi tersebut, kata dia, bahkan telah disinergikan dengan beberapa kegiatan lain yang  bisa diintegrasikan sesuai dengan pendekatan ekonomi biru (blue economy) yaitu pemanfaatan limbah budidaya untuk pertumbuhan 'vegetasi mangrove' dan bandeng, bunga mangrove untuk pengembangan lebah madu, daun mangrove untuk konsumsi hewan ruminansia seperti kambing serta pemanfaatan lahan sekitar mangrove  untuk budidaya kepiting, sehingga diharapkan tidak ada lagi limbah yang terbuang tanpa dimanfaatkan. 

"Model ini telah diimplementasikan oleh BAPPL STP Serang dan di diseminasikan kepada peserta didik sehingga nantinya tercipta lulusan yang berjiwa wirausaha yang berorientasi kepada produksi dan mempunyai kreativitas untuk menciptakan inovasi baru yang dapat meningkatkan efisiensi sumberdaya yang ada," katanya.

Menurut Haeru, perhitungan finansial sederhana dari petakan Busmetik dalam satu waktu maksimal 100 hari, budidaya udang melalui teknologi tersebut mendapat margin sekitar Rp44,5 juta dengan biaya investasi sekitar Rp97 juta dan biaya operasionalnya sekitar Rp51 juta.

"Margin tersebut dapat dicapai melalui petakan tambak hanya seluas 600 meter persegi," katanya.

Menurut dia, dengan keberhasilan budidaya udang melalui teknologi Busmetik yang diintegrasikan dengan pendekatan ekonomi biru (Blue Economy) tersebut, Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Kelautan dan Perikanan (BPSMKP) KKP, mencanangkan kampus BAPPL STP Serang sebagai salah satu kampus yang pertama kali mengembangkan budidaya udang dengan pendekatan ekonomi biru.

Pewarta:

Editor : Ganet Dirgantara


COPYRIGHT © ANTARA News Banten 2013