Ahli toksikologi AS minta negara maju tanggung jawab atas limbahnya

Ahli toksikologi AS minta negara maju tanggung jawab atas limbahnya

Prof Emeritus Paul Connett (kanan) berbicara tentang zero waste, Jakarta, Sabtu (13/07/2019). (ANTARA/Martha Herlinawati Simanjuntak)

Jakarta (ANTARA) - Ahli toksikologi dan kimia lingkungan sekaligus aktivis lingkungan asal Amerika Serikat Prof Emeritus Paul Connett mengatakan negara-negara maju harus bertanggung jawab sendiri atas limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang dihasilkan bukan justru mengirimnya ke negara berkembang.

"Ini adalah isu besar. Saya pikir negara-negara di Asia Tenggara punya hak dan seharusnya melarang impor sampah karena sampah meracuni lingkungan dan manusia," kata Paul yang merupakan salah satu penggagas konsep nol sampah (zero waste) usai  konferensi pers Zero Waste Campaign Tour oleh Prof Paul Connett kepada Antara di Jakarta, Sabtu.

Paul mengampanyekan tentang zero waste sebagai solusi yang berkelanjutan untuk permasalahan sampah di dunia dan menolak penerapan insinerator atau alat pembakar sampah tidak mendukung keberlanjutan lingkungan.

Dia mengatakan negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Kanada serta sejumlah negara di Uni Eropa tidak seharusnya mengirimkan limbah ke luar negeri terutama ke negara-negara berkembang, melainkan harus mampu mengelola sendiri seperti pesan yang mereka sampaikan kepada banyak pihak untuk mengelola dan memilah sampah.

Baca juga: Legislator ingin pabrik kertas domestik tidak impor bahan baku sampah

"Jika anda menghasilkan limbah, maka anda harus mengurusnya. Jika anda tidak ingin mengurus limbah anda, maka jangan membuatnya. Jadi pesan ke Amerika (negara-negara maju) adalah jangan kirim limbah ke luar negeri, anda harus mengelolanya," ujar dia.

Dia mengatakan Indonesia juga dapat membuat peraturan untuk melarang impor B3 karena berbahaya bagi lingkungan dan kehidupan.

"Ini adalah perbuatan yang tidak adil jika membuang sampah anda sendiri ke negara lain," ujar dia.

Dia mengatakan tindakan negara yang membuang limbahnya ke negara lain menunjukkan ada masalah dalam kemampuan mereka mengelola dan memproses sampah.

"Kita harus seaktif mungkin untuk mempromosikan zero waste di mana-mana," lanjutnya.

Baca juga: Walhi nilai Permendag impor limbah terlalu longgar

Baca juga: Kelompok masyarakat sipil ajak gerakan tolak plastik sekali pakai

Baca juga: Bea Cukai: Sampah impor di Surabaya dari Australia
Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor: Virna P Setyorini
COPYRIGHT © ANTARA 2019