BMKG minta masyarakat pahami tingkat kebencanaan peringatan tsunami

BMKG minta masyarakat pahami tingkat kebencanaan peringatan tsunami

Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Rahmat Triyono. (Antara Sumbar/Aadiaat M. S)

Pariaman (ANTARA) - Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Rahmat Triyono meminta masyarakat untuk memahami tingkatan kebencanaan peringatan tsunami.

"Ada tiga tingkatan peringatan tsunami yaitu waspada, siaga, dan awas," kata dia pada Sekolah Lapang Geofisika di Pariaman, Sumatera Barat (Sumbar), Rabu.

Ia mengatakan masing-masing tingkatan tersebut memiliki ketinggian gelombang tsunami berbeda yang harus diketahui masyarakat.

Keharusan mengetahui tingkatan tersebut, lanjutnya karena banyak masyarakat yang langsung lari ke tempat ketinggian meskipun peringatan tsunami yang disampaikan BMKG berada pada tingkat waspada atau dengan ketinggian gelombang di bawah 50 centimeter.

"Peringatan gempa yang disertai tsunami dengan tingkatan waspada ini sering dikeluarkan di Sumbar pada 2010 dan 2016," katanya.

Namun karena ketidakpahaman, menurut dia,  pada waktu itu masyarakat banyak yang mengungsi ke tempat yang lebih tinggi.

Ia menyampaikan masyarakat dapat meminimalisir potensi dampak tsunami dengan segera menjauhi pantai apabila gempa kuat terjadi.

Sambil menjauhi pantai, lanjutnya masyarakat diminta untuk mencari informasi terkait pusat dan kekuatan gempa serta potensi tsunami.

"Jadi jangan tunggu BMKG keluarkan peringatan atau sirene berbunyi karena memakan waktu," ujarnya.

Jika peringatan yang dikeluarkan tidak berpotensi tsunami maka masyarakat dapat kembali ke tempatnya semula, namun dinyatakan siaga atau awas maka masyarakat diminta mempercepat langkah untuk mencari tempat tinggi.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Pariaman Mardison Mahyuddin mengatakan hingga saat ini daerah itu belum memiliki shelter khusus sehingga masih memanfaatkan gedung bertingkat untuk menyelamatkan diri dari terjangan tsunami.

"Oleh karena itu kami selalu meminta warga atau pihak terkait yang membangun di daerah pantai untuk mendirikan bangunan bertingkat dan ramah gempa agar dapat dimanfaatkan sebagai shelter," ujarnya.

Baca juga: BMKG laksanakan sekolah lapang minimalisasi dampak gempa dan tsunami
Baca juga: BMKG: Banyak negara mengadopsi program sekolah lapang iklim
Pewarta : Laila Syafarud
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019