MUI imbau masyarakat lebih selektif dalam memahami ilmu agama

MUI imbau masyarakat lebih selektif dalam memahami ilmu agama

Sekertaris MUI Jawa Barat, Rafani Achyar. (Bagus Ahmad Rizaldi)

Bandung (ANTARA) - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat mengimbau kepada masyarakat untuk dapat selektif dalam memilih pandangan para tokoh agama agar dapat memahami agama dengan benar.

Sekretaris MUI Jawa Barat, Rafani Achyar mengatakan cukup gembira dengan merebaknya semangat masyarakat dalam mencari ilmu tentang agama, namun perlu lebih berhati-hati memilih pendakwah.

"Kami sih gembira melihat gairah masyarakat kepada agama, tapi di sisi lain harus bisa memilah-milah, mana ustad yang benar-benar memahami agama dengan benar, bukan menafsirkan agama berdasarkan persepsi pribadi," kata Rafani di Kantor MUI Jawa Barat, Jalan L.L.R.E Martadinata, Kota Bandung, Selasa.

Menurutnya menafsirkan agama harus berdasarkan tafsir dari sebuah kitab suci dan rujukan lainnya seperti hadist dalam agama islam. Jika di luar itu, kata dia, tidak bisa dibenarkan, karena persepsi tentang agama dapat menjadi liar.

"Soal terjadi perbedaan pendapat boleh saja, asal itu ada dasarnya," kata dia.

Dia mengatakan di tengah-tengah perbedaan tersebut, bangsa Indonesia dapat menciptakan sebuah negara dengan adanya kerukunan dan kebersamaan. Jika agama tidak dipahami dengan benar, maka menurutnya akan menyebabkan bibit konflik.

"Akibat agama dipahami tidak berdasarkan kaidah penafsiran, yang akan terjadi adalah bibit-bibit konflik, bbit-bibit perpecahan," kata dia.

Saat ini tengah beredar video ceramah dari Rahmat Baequni tentang nama-nama pulau di Indonesia yang berasal dari bahasa Arab. Menurut Rafani, hal tersebut dapat menyebabkan pengaburan sejarah.

Rahmat Baequni menyebutkan arti nama-nama pulau berdasarkan persepsinya dalam bahasa Arab. Diantaranya Pulau Sumatera yang menurutnya berasal dari kata 'Asyamatiro' dengan artian mahkota.

“Syamatir jadi Syumatra. Tapi karena orang Syumatra enggak bisa menyebut ‘sya’, jadi pake ‘sin’, Sumatra jadi dari kata asyamatiro, mahkota,” kata Rahmat Baequni.

Sementara itu nama Pulau Jawa, menurut Rahmat Baequni, itu berasal dari bahasa Arab Al Jawwu yang artinya tempat yang tinggi dan dingin.

“Sementara (pulau) Kalimantan, tanah daratan yang memiliki rawa. (Berasal dari kata) Barna’un jadi Barna’u, Borneo,” katanya.

Baca juga: MUI luncurkan program dai untuk Papua
Baca juga: Tingkatkan kualitas dai, MUI bentuk pusat pengembangan dakwahBaca juga: MUI bentuk peta dakwah selesaikan masalah nasional

Pewarta : Bagus Ahmad Rizaldi
Editor: Budi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019