Kelompok pengebom Kartasura tak terafiliasi jaringan teroris Indonesia

Kelompok pengebom Kartasura tak terafiliasi jaringan teroris Indonesia

Kepala Bagian Penerangan Umum Polri Kombes Pol Asep Adi Saputra (tengah) menunjukkan foto terduga teroris yang berhasil ditangkap di Mabes Polri, Jakarta, Senin (10/6/2019). Tim Densus 88 berhasil menangkap dua orang terduga teroris di Bandarlampung dan Sukoharjo berdasarkan pengembangan kasus bom bunuh diri Sukoharjo. ANTARA FOTO/Dyah Dwi Astuti/Ak/hp.

Jakarta (ANTARA) - Tiga terduga teroris yang terlibat dalam aksi amaliah di Pos Pantau Polres Sukoharjo Simpang Kartasura, Sukoharjo, tidak terafiliasi dengan jaringan teroris yang ada di Indonesia, melainkan langsung membaiat diri kepada ISIS.

Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Pol Asep Adi Saputra di Gedung Mabes Polri, Jakarta, Senin, menuturkan ketiga terduga teroris itu membaiat diri kepada pimpinan ISIS melalui media sosial.

"Berdasarkan pengembangan dari pemeriksaan yang ada, mereka ini sama-sama simpatisan ISIS dan berbaiat langsung kepada Abu Bakr al-Baghdadi. Saat ini seluruh tersangka masih dalam pemeriksaan intensif oleh Densus 88," kata Asep.

Bomber di Kartasura, RA (22) diketahui sebagai eksekutor aksi, sementara AA (30) yang ditangkap di Bandarlampung serta SR (34) yang ditangkap di Sukoharjo pada Minggu (9/6) turut merakit bom untuk aksi.

Meski berdasarkan keterangan para terduga teroris itu mereka tidak terafiliasi dengan kelompok teroris yang dipantau Polri di Indonesia, keterkaitan dengan jaringan-jaringan Indonesia tetap didalami Tim Detasemen Khusus 88 Polri.

"Saat ini rekan-rekan Densus sedang melakukan pendalaman. Yang jelas mereka ini sama-sama bersimpati kepada ISIS dengan berbaiat kepada Abu Bakr al-Baghdadi," ucap Asep.

Polisi juga masih mendalami kemungkinan dua terduga teroris lain berada di tempat yang sama di sekitar Pos Pantau di Kartasura, kemudian melarikan diri setelah RA selamat dari aksinya.

Sementara itu, terdapat beberapa metode para terduga teroris terpapar paham radikal, salah satunya dengan mempelajari dari amir atau pemimpinnya setelah berbaiat serta membaca buku-buku panduan jihad.

Selain itu, seperti yang dilakukan terduga teroris bom bunuh diri di Kartasura, mempelajari berbagai hal melalui media sosial dan belajar merakit bom serta mengumpulkan bahan-bahan dari YouTube.
Pewarta : Dyah Dwi Astuti
Editor: Yuniardi Ferdinand
COPYRIGHT © ANTARA 2019