Untuk tangani DBD, RSUD Komodo-NTT kekurangan tenaga kesehatan

Untuk tangani DBD, RSUD Komodo-NTT kekurangan tenaga kesehatan

Pendidikan Anak Pulau Komodo Sejumlah siswa menunggu dimulainya pelajaran di SDN Pulau Komodo, Manggarai Barat, NTT, Rabu (29/5). Pendidikan di Pulau Komodo hanya sampai tingkat SMP sehingga anak-anak yang ingin melanjutkan pendidikan SMU harus ke Bima atau ke Labuan Bajo. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)

Kupang, (ANTARA News) - Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Komodo di Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) kekurangan tenaga kesehatan guna menangani pasien demam berdarah dangue (DBD), sehingga hampir seluruh tenaga di puskesmas-puskesmas dikerahkan untuk menangani kasus tersebut.

"Semua tenaga perawat, tenaga analis untuk pemeriksaan laboratorium, farmasi, dokter, semua kami kerahkan ke RSUD Komodo untuk melayani pasien DBD," kata Wakil Bupati Manggarai Barat, Maria Geong, kepada Antara ketika dihubungi dari Kupang, Jumat, terkait upaya penanganan penyakit DBD yang menyerang warga di wilayah itu.

Ia mengatakan, para tenaga medis dari  puskesmas-puskesmas di Kota Labuan Bajo dan sekitarnya yang aktivitas pelayanan pasiennya tidak padat telah dialihkan ke RSUD Komodo.

Menurut dia, pasien DBD harus mendapat pelayanan cepat karena penyakit yang disebabkan gigitan nyamuk aedes aegypti ini tidak ada obatnya.

"Walaupun pasiennya cukup banyak, setiap hari lebih dari 30 orang di RSUD Komodo tapi kami bisa tangani dengan dukungan jumlah tenaga medis yang lebih banyak," katanya.

Ia menjelaskan, pemerintah setempat menerapkan manajemen pelayanan satu pintu untuk penanganan DBD yang dipusatkan di RSUD Komodo milik pemerintah daerah.

Menurut dia, sistem pelayanan dilakukan untuk mengisolasi penyakit DBD agar tidak meluas karena banyak tamu yang keluar-masuk ke daerah setempat.

Ia mengatakan, di sekitar area RSUD Komodo telah dilakukan sterilisasi dengan pengasapan (fogging) untuk memastikan aman dari jentik nyamuk.

"Jadi hanya satu manajemen pelayanan untuk semua pasien yang positif DBD. Kalau penuh baru bisa dialihkan ke puskesmas," katanya.

Ia menambahkan, selama Januari-22 Februari 2019, jumlah pasien kasus DBD di Manggarai Barat tercatat telah mencapai 452 orang dengan jumlah korban sebanyak 5 orang.

"Meskipun trend kasusnya semakin menurun tapi kami masih bersatus kejadian luar biasa (KLB) dan upaya-upaya penanganan terus kami lakukan secara intensif," katanya.

Baca juga: 5 orang meninggal akibat DBD di Manggarai Barat NTT
Pewarta : Aloysius Lewokeda
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019