Kampanye "Gemarikan" menyasar santri pelosok desa

Kampanye

Siswa TK AL-Irsyad memasak ikan hasil tangkapan sisiwanya saat 'Fish Education For School' di pembibitan ikan air tawar Dinas Perikanan, Pamekasan, Jawa Timur, Rabu (14/11/2018). Kegiatan Belajar Mengajar di luar ruangan tersebut untuk memberikan pemahaman tentang manfaat ikan kepada masyarakat sejak usia dini. ANTARA FOTO/Saiful Bahri/hp.

Pamekasan, Jatim (ANTARA News) - Santri pondok pesantren di berbagai pelosok desa di Kabupaten Pamekasan, Pulau Madura, Jawa Timur menjadi sasaran kampanye Gerakan Makan Ikan (Gemarikan) guna memenuhi kebutuhan gizi dan meningkatkan daya tahan tubuh dari berbagai serangan penyakit.

"Ikan ini mengandung gizi yang bagus dan lebih bagus dibanding daging. Tapi masyarakat, khususnya di perdesaan belum banyak yang paham tentang hal ini," kata Wakil Bupati Pamekasan Raja`e saat menyampaikan sambutan dalam acara kampanye "Gemarikan" di Pondok Pesantren Nurul Ulum, Dusun Karang Manggis, Desa Palengaan, Kecamatan Palengaan, Pamekasan, Kamis.

Wabup bersama istri Yuni Lailatul Fitriyah datang secara langsung ke pondok pesantren yang terletak sekitar 17 kilometer ke arah utara Kota Pamekasan itu menyosialisasikan pentingnya gerakan makan ikan.

Wabup menyampaikan sosialisasi kepada santri putra, sedangnya istri Wabup Pamekasan kepada santri putri.

Raja`e dalam kesempatan itu menjelaskan, selain karena banyak masyarakat yanh belum paham tentang manfaat mengonsumsi ikan, juga karena ada persepsi yang berbeda di kalangan masyarakat.

Sebagian masyarakat di pedesaan berpandangan, bahwa mengonsumsi daging memiliki nilai sosial lebih, karena harganya jauh lebih mahal dibanding ikan.

"Yang kita butuhkan adalah nilai manfaat, bukan status sosial yang tercipta di masyarakat," katanya.

Mantan Ketua Umum Himpunan Mahsiswa Islam (HMI) Cabang Pamekasan ini lebih lanjut menjelaskan, pihaknya sengaja memilih lembaga pondok pesantren sebagai tempat sosialisasi kampanye Gemarikan karena beberapa pertimbangan.

Selain karena banyak santri yang tinggal di pesantren itu, juga gerakan kampanye melalui pesantren akan lebih efektif.

"Efektifnya, karena santri memang tinggal di pesantren, sehingga kami yakin gerakan ini akan mudah terwujud," katanya.

Raja`e juga mengajak peran aktif semua tokoh masyarakat dan tokoh ulama di Pamekasan untuk ikut membantu menggencarkan kampanye Gemarikan itu, demi terwujudnya generasi masa depan bangsa yang sehat dan berkualitas.

Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Pemkab Pameksan Nurul Widiastutik menyatakan, target ideal setiap orang mengonsumsi ikan adalah 40 kilogram per tahun.

Dengan target ini, maka kebutuhan ikan selama satu tahun untuk sekitar 800 ribu jumlah penduduk di Pamekasan, dibutuhkan ikan sebanyak 32 ribu ton.

Prokduksi ikan laut di Pamekasan berdasarkan hasil tangkapan nelayan sekitar 20 ribu ton, atau kurang sekitar 12 ribu ton.

"Tapi kekurangan ini berupaya kita tutupi dengan konsumsi ikan air tawar dan saat ini sudah banyak petani di Pamekasan yang membudidayakan ikan air tawar, seperti ikan lele," kata Nurul, menjelaskan.

Selain meningkatkan produksi ikan, DKP Pamekasan juga telah mengembangkan alat pelacak ikan berupa global positioning system (GPS), yang fungsinya membantu nelayan menemukan titik-titik ikan di laut, kemudian bantuan jaring dan rumpon ikan.

"Harapannya untuk meningkatkan hasil tangkapan nelayan, sehingga produksi ikan secara otomatis juga meningkat, selain pengembangn budidaya ika air tawar," kata Nurul.

Baca juga: Pemerintah sosialisasikan makan ikan ke pondok pesantren

Baca juga: Pamekasan berikan beasiswa santri penghafal Al Quran

 
Pewarta : Abd Aziz
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019