Unpar wakil Indonesia di kompetisi hukum humaniter internasional

Unpar wakil Indonesia di kompetisi hukum humaniter internasional

Tim Ekspedisi Bandung Juara Indonesia, dari Mahitala Universitas Parahyangan (Unpar) Sofyan Arif (kiri), Nunu Nugraha (2 kiri) dari Mapenta Universitas Islam Bandung (Unisba), Rektor Unisba Thaufiq Siddiq Boesoirie, (3 kiri) serta ketua tim Ekspedisi Regi Kayong Munggaran, berfoto di Kampus Unisba, Bandung, Jawa Barat, Senin (7/10). Mapenta Unisba bekerja sama dengan Mahitala Unpar menggelar ekspedisi ke puncak Gunung Ama Dablam, Nepal. Ekspedisi di salah satu titik di kawasan Pegunungan Himalaya itu akan dilakukan pada 10 Oktober - 10 November 2013, dalam rangka memperingati Sumpah Pemuda serta Hari Kebangkitan Nasional. (ANTARA FOTO/Agus Bebeng)

Sukabumi, Jabar (ANTARA News) - Universitas Parahyangan (Unpas)  Bandung mewakili fakultas hukum universitas dan sekolah tinggi di Indonesia pada kompetisi tingkat internasional Peradilan Semu Hukum Humaniter Internasional (HHI).

"Unpar mewakili Indonesia ke kompetisi HHI di Hong Kong pada Maret 2019, setelah menjadi juara I tingkat nasional mengalahkan Universitas Indonesia di final Kompetisi Peradilan Semu HHI," kata Kepala Delegasi Regional Komite Palang Merah Antarbangsa (International Committee of the Red Cross/(ICRC) untuk Indonesia dan Timor Leste, Alexandre Faite, di Sukabumi, Jawa Barat, Senin.

Seluruh universitas di dunia, katanya, secara rutin melaksanakan kompetisi ini, baik di Asia, Eropa maupun Amerika.

Indonesia sudah melaksanakan kompetisi tersebut yang ke-13 dan untuk sekarang yang  mewakili Indonesia di ajang yang sama, tetapi di tingkat internasional adalah Unpar.

Nantinya di Hong Kong, kata dia, mereka akan bertanding dengan universitas dari berbagai negara yang juga merupakan juara kompetisi peradilan semu HHI. Tentunya mahasiswa dari Indonesia yang akan berkompetisi tersebut harus fasih berbahasa Inggris dan mengerti hukum humaniter.

Kompetisi yang bertajuk "13th Indonesian Round of the International Humanitarian Law Moot Court Competition" 2018 diikuti mahasiswa dari 26 universitas di Indonesia, yang melakukan penelitian terlebih dahulu selama delapan bulan.

Fokus dan tema penelitian sudah ditentukan yakni konflik yang sedang terjadi di wilayah yang disebutkan sebagai "Provinsi Bonham, Republik Donka",  setelah berakhirnya era penjajahan asing.

Ada dua finalis dalam kompetisi iu, yakni Unpar dan UI, di mana keduanya berdabat sengit dalam menyampaikan pemaparan, solusi hingga menjadi penengah yang tentunya semuanya dituangkan dalam bahasa Inggris.

Namun yang menjadi pemenang adalah Unpar dengan selisih nilai tipis dari UI sehingga menjadi universitas yang mewakili Indonesia di ajang internasional.

Sementara itu, salah seorang mahasiswa Unpar yang ikut dalam kompetisi tersebut Kevin Setiadi menambahkan bahwa timnya sempat hampir kehabisan kata-kata saat berkompetisi dengan mahasiswa dari UI karena mereka pun bisa dikatakan ahli mengupas tentang hukum humaniter tersebut.

Namun persiapan yang dilakukan timnya selama delapan bulan terakhir tidak sia-sia, ujarnya.

"Kami mempersiapkan diri semaksimal mungkin, tapi tidak melupakan perkuliahan. Secara akademik, indeks prestasi kami masih di atas tiga, jadi bisa mengatur waktu antara kuliah dan persiapan." tambahnya.

Pada kompetisi tingkat internasional Peradilan Semu Hukum Humaniter Internasional (HHI), Unpar mengirimkan tiga mahasiswanya yakni Kevin Setiadi, Theo Prawiradirdja dan Moses Mesakh.

Baca juga: Unpar siapkan 1.200 beasiswa
Baca juga: Tiga pendaki Unpar menuju puncak Aconcagua
Pewarta : Aditia Aulia Rohman
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2018