Bengawan Solo hilir Jatim belum aman banjir, ini penjelasannya

Bengawan Solo hilir Jatim belum aman banjir, ini penjelasannya

Arsip - Bengawan Solo di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, (3/10/2017). (ANTARA FOTO/Aguk Sudarmojo)

Bojonegoro (ANTARA News) - Bengawan Solo di hilir, masih belum aman, meski air cenderung surut karena di hulu tidak terjadi banjir.

"Ketinggian air Bengawan Solo di hilir Jawa Timur cenderung turun, karena di daerah hulu tidak terjadi banjir," kata Petugas Posko Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Bengawan Solo di Bojonegoro, Jawa Timur,  Budi Indro, Selasa.

Sesuai data disebutkan ketinggian air Bengawan Solo di Bojonegoro yang semula (19/3) merangkak naik, berangsur-angsur surut menjadi 12,00 meter, Selasa pukul 06.00 WIB.

Begitu pula di Karangnongko, Kecamatan Ngraho, sekitar 70 kilometer dari kota, ketinggian air pada waktu bersamaan juga di bawah siaga banjir, yakni mencapai 24,75 meter.

Namun, di hilir Babat, Laren, Karangeneng, dan Kuro di Lamongan masih siaga banjir masing-masing 7,29 meter (siaga I-hijau), 2,29 meter (siaga I-hijau), 5,02 meter (siaga II-kuning) dan 1,93 meter (siaga I-hijau).

"Air Bengawan Solo lancar mengalir ke laut," ujarnya.

Hal senada disampaikan Kasi Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro MZ Budi Mulyono yang menyebutkan kondisi Bengawan Solo di daerahnya aman di bawah siaga banjir.

Meski demikian, menurut dia, BPBD tetap memberlakukan siaga dalam menghadapi ancaman bencana banjir luapan Bengawan Solo, banjir bandang, tanah longsor, juga bencana lainnya sampai akhir Maret.

Pertimbanganya, menurut dia, curah hujan yang terjadi selama Maret tertinggi bisa mencapai 401 milimeter dan berpotensi menimbulkan bencana, baik banjir maupun tanah longsor.

Data di BPBD menyebutkan kerugian dalam tiga kali banjir luapan Bengawan Solo di daerah setempat termasuk dalam dua kali kejadian banjir bandang mencapai Rp13,1 miliar.

Banjir luapan Bengawan Solo terjadi selama kurun waktu Januari sampai 14 Maret itu melanda 96 desa di 12 kecamatan.

Daerah yang dilanda banjir luapan Bengawan Solo, antara lain Kecamatan Kota, Dander, Balen, Kanor dan Baureno, dan kecamatan lainnya. Banjir sungai terpanjang di Jawa itu merendam tanaman padi seluas 1.582 hektare dan palawija 299 hektare.

Warga terdampak banjir Bengawan Solo sebanyak 3.165 kepala keluarga (KK). Selain itu banjir juga merendam jalan paving di desa sepanjang 41,3 kilometer dan jalan kabupaten sekitar 7 kilometer.

Dalam kurun waktu Januari-22 Februari banjir bandang juga melanda 26 desa di Kecamatan Temayang, Gondang, Dander, Balen, Bubulan dan Sukosewu.

Banjir merusak tanaman padi seluas 363 hektare, dan palawija 59 hektare, dan banjir merusak sejumlah jembatan desa. Warga terdampak di daerah banjir bandang tercatat 4.254 KK, serta merendam jalan desa.
 
Pewarta : Slamet Agus Sudarmojo
Editor: Aditia Maruli Radja
COPYRIGHT © ANTARA 2018