Batu Bukit Langara Loksado Kalsel merupakan fosil binatang laut

Batu Bukit Langara Loksado Kalsel merupakan fosil binatang laut

Salah satu bukit kapur di Pegunungan Meratus. (ANTARA/Latif Thohir)

Banjarmasin (ANTARA) - Kepala Bidang Air Tanah, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kalimantan Selatan Ali Mustofa mengatakan berdasarkan hasil penelitian ternyata batu gamping di Bukit Langara berasal dari fosil binatang laut yang membeku.

Menurut Ali, di Banjarmasin Jumat, batu kapur yang berada di Bukit Langara, Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalsel, tersebut merupakan jenis batu gamping yang tercipta sekitar 180 juta tahun.

"Batu kapur tersebut merupakan yang tertua di wilayah ini," katanya.

Menurut dia, batu di Bukit Langara ada sejak zaman kapur, awalnya hanyalah batuan yang terbentuk di laut, hasil pengendapan hewan laut jenis orbitulina.

Baca juga: Kenapa fosil Ichthyosaurus berusia 180 juta tahun dijuluki naga laut?

Baca juga: Fosil naga laut terbesar ditemukan di Inggris Raya


Batu ini sudah terbentuk sejak lempeng benua Australia yang bergerak dan menumbuk lempeng Sunda Land yang sekarang berada di lingkungan bersama dengan ofiolit Meratus.

Ali mengungkapkan, Batu Bukit Langara beda dibandingkan batu gamping di daerah lain, seperti batu gamping di daerah Bajuin, Kabupaten Tanah Laut.

Batu Langara dari hasil penelitian geologi justru adalah binatang kerang yang membatu.

"Batuan ini sama persis seperti batu gamping yang ada di Australia, rupanya saat jutaan tahun lalu, batu Australia ini migrasi atau terpental ke Gunung Langara ini," tuturnya.

Batu kerang semacam ini, kata dia, tak mungkin hasil pembekuan kawasan sungai atau kawasan danau, ini pasti dari laut dalam karena berupa kerang.

Batu Langara termasuk batu unik dan menarik bagi para peneliti, untuk mengetahui asal muasal bumi sejak ratusan juta tahun yang lalu.

Sekarang Bukit Langara yang ada di desa Lumpangi, Loksado ini sudah menjadi tujuan wisata petualangan terutama oleh kawula muda yang suka mendaki gunung dan berswafoto di puncak bukit.

Hanya saja bagi yang sudah berumur, kalau nekad mendaki maka harus hati hati karena naik ke tebing yang terjal dengan hutan bambu, dan daun bambu yang kering berjatuhan di tanah jika terpijak pendaki bisa jatuh lantaran licin.*

Baca juga: KKP lepasliarkan dua "fosil hidup" di Sumatera Utara

Baca juga: Fosil tanaman hijau tertua, rumput laut China usia 1 miliar tahun
Pewarta : Ulul Maskuriah/Hasan Zainuddin
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2022