"Shrimp estate" Sei Raja, sumbangsih Kalteng kuasai pasar udang dunia

Gubernur Kalimantan Tengah Sugianto Sabran meninjau kawasan tambak udang vaname atau "shrimp estate" di Desa Sei Raja, Kecamatan Jelai, Kabupaten Sukamara beberapa waktu lalu. ANTARA/HO-Pemprov Kalteng.

Jakarta (ANTARA) - Mendengar istilah shrimp estate mungkin masih belum begitu dikenal secara umum, bahkan di kalangan pembudi daya perikanan sekalipun.

Namun, tatkala Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memberikan uraian bahwa istilah itu adalah skema atau model pengembangan kawasan budi daya udang yang terintegrasi, maka akan lebih banyak kalangan yang bisa memahami.

Dalam laman kkp.go.id disebutkan bahwa shrimp estate adalah budi daya udang berskala besar di mana proses hulu hingga hilir berada dalam satu kawasan.

Proses produksinya pun didukung oleh teknologi agar hasil panen lebih optimal, mencegah penyakit serta lebih ramah lingkungan yang sesuai dengan konsep budi daya terintegrasi, yakni dengan pendekatan konsep hulu-hilir, korporasi perikanan budi daya berbasis kawasan dan zero waste (meminimalkan limbah, mulai dari produksi sampai berakhirnya suatu produksi), hilirisasi produk perikanan budi daya, akuakultur modern 4.0 serta pengelolaan kawasan budi daya tambak udang secara terintegrasi dengan melibatkan seluruh unsur, baik pemerintah pusat dan daerah, masyarakat dan pihak swasta.

Gagasan membangun shrimp estate, menurut Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono adalah sebagai upaya mencapai target produksi 2 juta ton produksi udang nasional pada 2024.

Apa tujuannya? "Agar Indonesia mampu menguasai pasar udang dunia," kata Trenggono, saat menjadi pembicara kunci pada ajang "Shrimp Talks: Support the Target of 250 % Increase in Shrimp Export Value" pada 14 Juni 2021, saat Dies Natalis ke-16 Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran di Bandung.

Disebutkannya udang merupakan komoditas perikanan yang paling banyak diminati pasar global dengan merujuk data selama kurun waktu 2015-2019 udang menjadi permintaan pasar nomor dua setelah ikan salmon.

Indonesia sendiri selama kurun waktu 2015-2020 menyumbang pemenuhan pasar udang dunia rata-rata sebesar 6,9 persen.

Karenanya, potensi pasar ini harus digarap serius, khususnya pasar yang memberikan nilai tinggi terhadap udang produksi Indonesia agar mampu menguasai pasar udang dunia.

Indonesia pada 2019 (https://kkp.go.id/artikel/33251) berada di urutan kelima eksportir udang dunia dan di 2020 total volume udang Indonesia di pasar dunia sebesar 7,15 persen.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP Tubagus (Tb) Haeru Rahayu menyatakan pada 2019-2020 produksi udang nasional mencapai 856.753 ton, padahal mimpinya adalah menjadi 2 juta ton.

Menurut dia, waktu kita miliki tidak banyak menuju 2024, sehingga butuh terobosan-terobosan.

KKP memiliki program terobosan untuk menggenjot produktivitas dan kesinambungan budi daya udang di Indonesia.

Guna mewujudkan program terobosan itu, KKP bekerja sama dengan pemerintah daerah dengan membangun shrimp estate pertama, di kawasan seluas 100 hektare di Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah, yang pembangunan fisiknya direncanakan dimulai 2022.

Tb Haeru Rahayu mengatakan tambak udang berbasis kawasan di Kebumen itu akan menjadi percontohan yang nantinya dapat direplikasi di daerah lain di Indonesia.
Gubernur Kalimantan Tengah Sugianto Sabran didampingi Bupati Sukamara Windu Subagio meninjau tanaman mangrove di bibir Pantai Jelai, Desa Kuala Jelai, Kecamatan Jelai, Selasa, (23/2/2021). (FOTO ANTARA/Donefrid Lalang)

Sei Raja Kalteng

Imbas dari skema shrimp estate itu, kini juga dikembangkan oleh Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng) Sugianto Sabran.

Ia melakukan terobosan dengan percepatan pembangunan kawasan shrimp estate udang vaname dengan lokasi tahap pertama di Desa Sei Raja, Kecamatan Jelai, Kabupaten Sukamara.

Program di Sei Raja itu juga bagian dari upaya pemulihan ekonomi nasional, khususnya di Kalteng, di tengah pandemi COVID-19.

Merujuk pada dampak pandemi COVID-19 di semua di hampir semua sektor, dan memerlukan terobosan untuk pemulihan, Sugianto mengatakan kita harus mampu bangkit dengan inovasi-inovasi yang dapat membangun perekonomian rakyat.

Rencana program itu didukung potensi kelautan dan perikanan Kalteng yang memiliki panjang garis pantai kurang lebih 703,91 km dan potensi laut mencapai 94.500 km2 berada di tujuh kabupaten pesisir yang berhadapan langsung dengan Laut Jawa.

Potensi kelautan kita, menurut dia, sangat besar, khususnya perikanan. Potensi ini harus dikembangkan dengan maksimal untuk menggerakkan perekonomian, terlebih dampak pandemi COVID-19.

Pemilihan Kabupaten Sukamara sebagai lokasi shrimp estate tahap pertama itu mengingat wilayah tersebut memiliki garis pantai kurang lebih 77,48 km, dengan eksisting tambak sebesar 832 hektare (ha).

Dengan potensi rencana pengembangan shrimp estate mencapai 1.999 ha, maka kondisi itu mendukung pelaksanaan pembangunan shrimp estate di Kabupaten Sukamara.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Kadislutkan) Kalteng H Darliansjah menambahkan terpilihnya Kabupaten Sukamara sebagai lokasi pengembangan kawasan shrimp estate sudah melalui penelitian dan kajian teknis yang cukup panjang.

Untuk tahap pertama ini, katanya, gubernur memprioritaskan dari sisi komitmen bupatinya terhadap pembangunan sektor kelautan, terutama dalam pengembangan shrimp estate. Lalu, dari sisi ketersediaan lahan clear and clean (CNC), dari eksisting dan kajian-kajian teknisnya, sehingga pemprov perlu mendukung untuk melakukan pengembangan ini.

Untuk kesiapan teknisnya, telah digandeng Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara. Jateng, dan CP Prima Sidoarjo.

Berdasarkan kajiannya, diketahui tambak Sukamara sangat prospektik dan layak untuk dikembangkan pembangunan pengembangan shrimp estate berkelanjutan.

Serapan tenaga kerja

Gubernur Kalteng mengharapkan pembangunan shrimp estate itu dapat menjadi model nasional yang memberikan dampak bagi tumbuhnya pelaku usaha tambak udang vaname di Kalteng.

Selain itu, dapat mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi daerah, khususnya peningkatan pendapatan para pelaku usaha perikanan dan masyarakat pesisir, dan juga penyerapan tenaga kerja dan peningkatan pendapatan asli daerah (PAD).

Program shrimp estate dengan total luas 40 ha yang ingin dikembangkan Pemerintah Provinsi Kalteng itu dapat terintegrasi dengan wisata dan industri perikanan dengan kelengkapan fasilitas yang akan dibangun, seperti lima klaster tambak, irigasi tambak, instalasi pengolahan air limbah (IPAL), laboratorium kesehatan lingkungan (kesling), laboratorium nutrisi pakan, hatchery, cold storage dan dan pabrik pakan.

Pada gilirannya, kata Sugianto Sabran, program itu nantinya dikembangkan menjadi satu kawasan yang terintegrasi dengan wisata dan industri, mulai dari hulu sampai ke hilirnya agar sektor lainnya tumbuh dan berkembang secara beriringan dan memiliki nilai tambah yang signifikan.

Sementara itu Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) melalui surat balasan kepada Gubernur Kalteng yang ditandatangani Deputi Bidang Pengembangan Regional Rudy Soeprihadi Prawiradinata pada 18 November 2021 merespons rencana pengembangan upaya pengembangan pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Disebutkan bahwa terhadap berbagai upaya pengembangan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi dan hilirisasi pengelolaan sumber daya alam (SDA) sebagaimana yang diusulkan, disampaikan bahwa upaya-upaya tersebut sudah sejalan dengan arah kebijakan dan strategi pengembangan wilayah Kalimantan pada RPJMN 2020-2024.

Arah itu, yakni mempercepat pertumbuhan wilayah melalui diversifikasi kegiatan ekonomi, melalui peningkatan investasi dan optimalisasi pengelolaan kawasan-kawasan strategis dan pengembangan komoditas unggulan wilayah, yaitu sawit, karet dan perikanan dengan beriorientasi pada peningkatan produktivitas dan penguatan rantai pasok.

Sementara kebijakan dan strategi pengembangan pusat pertumbuhan ekonomi di Kalimantan Tengah saat ini diwujudkan melalui rencana pengembangan sejumlah major project (MP) yang sedang dan akan dilaksanakan di Provinsi Kalimantan Tengah, yaitu Kawasan Industri Prioritas dan 31 smelter, Kawasan Industri (KI) Surya Borneo dan KI Batanjung, dan food estate, yakni Kawasan Sentra Produksi Pangan.

Sinergi dan kolaborasi parapihak mewujudkan shrimp estate di Desa Sei Raja, Kecamatan Jelai, Kabupaten Sukamara, Kalteng, itu agaknya menjadi terobosan bersama, pusat dan daerah bahwa inovasi di tengah pandemi tidak padam, dengan cita-cita Indonesia dapat menjadi pemain utama pasar udang dunia.
Pewarta : Andi Jauhary
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2021