Tingginya kasus COVID-19 anak di Afsel tak memicu kepanikan

Tingginya kasus COVID-19 anak di Afsel tak memicu kepanikan

Arsip foto - Sejumlah anak tanpa menggunakan masker berlari di depan mural karya Senzart911 yang menggambarkan manfaat penggunaan masker untuk menghindari wabar COVID-19 di Soweto, Kliptown, Afrika Selatan (7/10/2021). ANTARA/REUTERS/Siphiwe Sibeko/aa.

Johannesburg (ANTARA) - Meningkatnya kasus infeksi COVID-19 pada anak selama gelombang keempat wabah di Afrika Selatan yang dipicu varian Omicron tidak membuat panik karena gejalanya ringan, kata pejabat kesehatan pada Sabtu.

Sejumlah besar anak-anak dibawa ke rumah sakit dengan gejala COVID-19 bulan lalu di Tshwane, daerah metropolitan yang mencakup ibu kota Pretoria, dan meningkatkan kekhawatiran bahwa Omicron dapat membawa risiko lebih besar pada anak ketimbang varian lainnya.

Para ilmuwan belum memastikan adanya keterkaitan apa pun dan telah memperingatkan bahwa faktor-faktor lain mungkin ikut berperan.

Ntsakisi Maluleke, spesialis kesehatan publik di provinsi Gauteng yang mencakup Tshwane dan kota terbesar Johannesburg, mengatakan dari 1.511 pasien positif COVID di rumah sakit-rumah sakit di seluruh provinsi, 113 di antaranya adalah anak di bawah 9 tahun, lebih besar ketimbang proporsi pasien anak pada gelombang sebelumnya.

Baca juga: Omicron dijumpai di lima dari sembilan provinsi Afrika Selatan

"Kami lega dengan laporan petugas medis bahwa anak-anak itu mengalami gejala ringan," kata dia dalam wawancara dengan Reuters.

Dia menambahkan pejabat kesehatan dan ilmuwan tengah menyelidiki apa penyebab kenaikan kasus rawat inap di kalangan anak-anak dan berharap bisa memberikan informasi yang lebih jelas dalam dua pekan mendatang.

Karena hanya sejumlah kecil sampel positif COVID-19 di Afsel yang dikirim untuk pengurutan genom, pejabat tidak mengetahui varian mana yang telah menginfeksi anak-anak.

Maluleke mengatakan petugas medis bertindak dengan sangat hati-hati.

"Mereka lebih suka anak-anak dirawat satu atau dua hari (di rumah sakit) daripada membiarkan mereka di rumah dan memperumit (masalah)... namun kami perlu menunggu bukti," kata dia.

Dia mengatakan banyak pasien COVID di Gauteng melaporkan gejala mirip flu yang "tidak spesifik" seperti tenggorokan gatal, bukan gejala lain yang lebih mudah dikenali seperti hilangnya indera penciuman dan pengecapan.

Baca juga: AS belum berlakukan tes baru pada penumpang dari selatan Afrika

Namun dia mendesak para orang tua dan ibu hamil, yang juga banyak dibawa ke RS akhir-akhir ini, untuk tidak menganggap enteng gejala yang mirip flu dan menjalani tes jika memerlukan penanganan lebih lanjut.

"Masyarakat tak perlu takut tapi waspada," kata dia.

Meski jumlah rawat inap meningkat, tingkat keterisian ranjang RS khusus COVID di Gauteng masih sekitar 13 persen, kata Maluleke.

Dia menambahkan bahwa rencana darurat sudah disiapkan jika kapasitas tempat tidur tertekan.

Para ilmuwan masih meneliti tingkat keparahan dari Omicron yang pertama kali terdeteksi di selatan Afrika bulan lalu dan kini telah ditemukan di lebih dari 30 negara, dan apakah varian itu lebih resisten terhadap vaksin yang ada.

Sumber: Reuters

Baca juga: Afrika Selatan dilanda gelombang keempat COVID akibat Omicron
Baca juga: Cegah Omicron, Panama larang masuk pendatang dari 8 negara Afrika
Pewarta : Anton Santoso
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2021