Pengembangan SMK tidak bisa dilakukan secara parsial

Pengembangan SMK tidak bisa dilakukan secara parsial

Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan, Muhammad Nur Rizal. ANTARA/Dokumentasi pribadi.

Jakarta (ANTARA) - Pelaksana tugas Direktur Direktorat Kemitraan dan Penyelarasan Dunia Usaha dan Dunia Industri (Mitras DUDI) Kemendikbudristek Saryadi mengatakan pengembangan sekolah menengah kejuruan (SMK) tidak bisa dilakukan secara parsial.

“Pengembangan sekolah khususnya SMK tidak bisa dilakukan secara parsial. Kami melihat bahwa harus ada upaya yang saling terkait dan berkesinambungan guna memastikan investasi yang dilakukan oleh pemerintah bisa optimal,” ujar Saryadi dalam diskusi di Jakarta, Ahad.

Dia menambahkan pihaknya kembali bekerja sama dengan Gerakan Sekolah Menyenangkan menyelenggarakan pelatihan penguatan ekosistem SMK melalui Gerakan Sekolah Menyenangkan pada 17 November hingga 19 November 2021. Pelatihan itu diikuti sebanyak 99 kepala sekolah yang bukan SMK Pusat Keunggulan dari hampir seluruh provinsi Indonesia.

Baca juga: Jaklingko dan SMK Muhammadiyah 4 Jakarta kerja sama "link and match"

Gerakan Sekolah Menyenangkan sudah melaksanakan pelatihan perubahan pola pikir dan pendampingan kepada 10 angkatan kepala SMK Pusat Keunggulan dan pusat keunggulan sejak 2020. Pelatihan serupa juga pernah diterapkan kepada 100 kepala sekolah SMK di Papua dan Papua Barat pada Maret lalu.

Pelatihan berdampak pada perubahan ekosistem sekolah di beberapa SMK yang telah mendapatkan pelatihan. Bahkan, banyak kepala sekolah dan guru bergerak untuk saling bertukar praktik baik secara organik antar sekolah.

“Hal ini membuka wawasan baru bagi Mitras DUDI untuk mengadopsi pelatihan perubahan mindset yang awalnya untuk kepala sekolah SMK Pusat Keunggulan, kemudian berlanjut ke bukan SMK Pusat Keunggulan,” terang dia.

Baca juga: 62 SMK di Jatim ajukan otonomi pengelolaan keuangan sebagai SMK BLUD

Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan, Muhammad Nur Rizal, menyampaikan bahwa perubahan pola pikir adalah prioritas utama yang harus dilakukan untuk mengantisipasi sistem pendidikan ke depan, yaitu sebesar 21-27 persen. Selanjutnya diikuti oleh penciptaan ekosistem sekolah 18-23 persen, lalu pengembangan profesionalisme guru 15-19 persen, dan keterhubungan dengan lingkungan rumah dan sosial 11-16 persen.

Data ini dikutip dari analisa McKinsey dalam OECD PISA 2015 terhadap sekolah-sekolah di seluruh benua tentang urutan prioritas perubahan yang harus dilakukan di dunia pendidikan.

Survei dari McKinsey itu sejalan dengan empat strategi perubahan yang dirancang oleh GSM untuk diimplementasikan kepala sekolah setelah melakukan pelatihan perubahan mindset. Strategi perubahan tersebut antara lain kepemimpinan sekolah transformatif, lingkungan belajar positif dan keterhubungan sosial, pembelajaran berbasis penalaran dan kesadaran diri, dan pengembangan praktik bersama.

Strategi itu berdampak pada tumbuhnya ekosistem baru yang memberikan ruang bagi setiap murid dan warga sekolah untuk menemukan potensi terbaiknya yang unik dan beragam.

“Memang sudah saatnya Kemendikbudristek memandang permasalahan ini dengan cara pandang yang baru dan lebih fundamental. Sebab, berbagai permasalahan terkait softskill siswa SMK seperti inisiatif yang kurang, tidak tahan tekanan, kurangnya kemampuan komunikasi dan kerja sama, yang sudah larut terjadi harus segera ditemukan jalan keluarnya.

Padahal, penelitian McKinsey menyebutkan bahwa kompetensi di masa depan lebih membutuhkan kemampuan nonteknis seperti kemampuan berfikir kritis, kreativitas, komunikasi, kemampuan perencanaan, fleksibel, kerjasama, kesadaran diri, dan juga literasi digital,” terang dia.

Baca juga: China beri kursus pariwisata pada 200 guru SMK di Indonesia

Pihaknya ingin mengajak kepala sekolah dan guru-guru di Indonesia untuk mengedepankan ekosistem yang membuat anak-anak kita lebih kreatif dan beyond the book. Hal ini sangat ia tekankan agar jumlah orang yang kreatif dan produktif (top class) dapat semakin banyak sehingga anak Indonesia tidak lagi merasa terancam akan posisinya yang terganti dengan robot dan mesin otomasi.

Perubahan itu hanya bisa dijawab dengan paradigma pendidikan yang berorientasi individual kecakapan manusia, bukan pada penyeragaman dan linieritas. Dengan pembelajaran personalisasi, siswa didorong untuk menemukan versi terbaiknya serta selalu ingin belajar terus menerus memperbaiki diri agar adaptif dengan tuntutan perubahan dunia yang sangat cepat saat ini.

“Sayangnya, seperti keluhan banyak peserta, pelatihan kepada kepala sekolah dan guru yang selama ini terjadi tampak tidak ada korelasi dengan pembiayaan sekolah dan hasil belajar,” kata dia.

Pelatihan kepada kepala SMK bukan Pusat Keunggulan atau PK menjadi lebih menarik karena bisa menjadi awal untuk melakukan pelatihan bagi SMK non-PK lainnya yang jumlahnya lebih banyak. Sehingga, harapannya, terjadi pemerataan kualitas pendidikan atas kesenjangan lebar yang terjadi di dunia sekolah.

“Komunitas SMK yang terpapar oleh GSM menjadi lebih luas sehingga GSM memiliki kesempatan untuk melakukan pendampingan komunitas SMK yang lebih beragam. Pada akhirnya, yang mendapatkan manfaat adalah siswa didik kita tanpa terkecuali,” jelas Rizal.

 

 

 

 

 

Pewarta : Indriani
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2021