Tangan dingin Maiko Kurogouchi di balik koleksi Fall/Winter terbaru

Tangan dingin Maiko Kurogouchi di balik koleksi Fall/Winter terbaru

Koleksi Fall/Winter lifewear dari kolaborasi Mame Kurogouchi x Uniqlo (ANTARA/HO)

Jakarta (ANTARA) - Perancang busana Maiko Kurogouchi atau yang lebih dikenal dengan nama Mame Kurogouchi kembali berkolaborasi dengan Uniqlo merilis koleksi lifewear Fall/Winter setelah sukses dengan debut kolaborasi pada awal tahun ini.

Masih sama dengan yang lalu, kali ini tangan dingin Maiko merangkul tubuh dan jiwa dengan keindahan lewat palet warna bernuansa abu-abu khas yang hangat.

"Komponen kunci dari kolaborasi ini adalah bahwa warnanya sederhana dan mudah ditata. Untuk koleksi Fall/Winter, saya membayangkan palet warna yang didasarkan pada nuansa abu-abu hangat yang bisa dilapis dengan gaya apapun dengan cantik saat musim dingin," kata Mame dalam keterangannya pada Rabu.

Lekukan yang elegan, bagian belakang yang cantik, dan detail berkelas lainnya terpancar dari koleksi pakaian tersebut. Cardigan rajutan 3D berkontur dan celana bergaris menonjolkan kecantikan feminin.

Dengan koleksi ini, Mame ingin menampilkan potongan pakaian dan keindahan tubuh wanita yang hidup berdampingan dengan sentuhan alam yang lembut. "Saya juga ingin membuat koleksi ini dapat diakses oleh wanita di seluruh dunia."

Mengusung tema "transisi tanpa batas antara pakaian dalam dan pakaian", Mame berupaya menciptakan koleksi innerwear yang tidak hanya bisa dikenakan di dalam sweater dan kardigan, tetapi juga berfungsi dengan indah sebagai pakaian.

"Saya yakin bahwa innerwear dapat serbaguna, memungkinkan untuk berbagai pilihan gaya. Itulah tujuan dari koleksi ini dan apa yang saya maksud ketika saya mengatakan 'transisi tanpa batas'."

Mame menggunakan bahan kain katun AIRism untuk tetap nyaman bahkan di musim dingin, ketika menggunakan pakaian berlapis yang membuat berkeringat.

Baca juga: UNIQLO ajak masyarakat kontribusi dalam program donasi pakaian

Baca juga: UNIQLO akan bantu pasarkan produk UKM lokal


Halaman selanjutnya: Kardigan dan turtleneck rajut

Kardigan dan turtleneck rajut

Dua fitur desain terbaru yang diusung Mame dalam koleksi lifewear kali ini adalah kardigan dan turtleneck rajutan.

"Sweater turtleneck adalah produk wajib musim dingin bagi saya dan mungkin bagi kebanyakan wanita lain. Dikombinasikan dengan gaya dasar, rajutan 3D menjadi lebih luar biasa. Kesederhanaan adalah fokus pembaruan pada kardigan dan potongan lainnya."

Sementara untuk kardigan, Mame berpandangan bahwa Kesederhanaan adalah fokus pembaruan pada kardigan dan potongan lainnya. "Kami mencurahkan banyak waktu untuk pembuatannya."

Untuk kolaborasi kedua bersama Uniqlo ini, Mame sengaja meringkaskan pilihan koleksinya karena dia ingin fokus pada innerwear, yang merupakan inti kolaborasinya bersama Uniqlo.

"Setelah menawarkan innerwear di musim pertama, kami ingin terus menawarkannya karena saya pikir kontinuitas itu penting. Kami sedikit memperbarui potongan beberapa item dari musim pertama untuk membuat pilihan koleksinya lebih canggih dan indah."

Pandemi dan karya

Sebagai seorang desainer yang dituntut terus berkarya meski dalam kondisi pandemi COVID-19 yang sudah berlangsung setahun lebih, Mame mengaku memiliki trik tersendiri untuk bisa tetap berkreasi di dunia fesyen.

Dia kini terbiasa dengan ritme kehidupan sehari-hari selama pandemi. Kenyamanan menjadi fokus utama setiap dia mulai menciptakan pakaian di babak setelah pandemi menerpa.

"Mengenakan pakaian tersebut selama setahun terakhir telah memberi saya kesempatan untuk berpikir lebih banyak tentang kesesuaian dan kenyamanan daripada desain itu sendiri. Saya bisa berpikir banyak tentang apa yang dilakukan innerwear untuk wanita di dalam pakaiannya yang berlapis-lapis."

Dalam berkreasi, Mame tidak mengatur ulang pendekatannya. Dia masih saja membuat desainnya dari dalam, lantas melapisi ide-ide untuk menghasilkan koleksi.

"Saya merancang turtleneck rajut untuk digunakan terikat atau bebas. Ketika potongan itu diselipkan ke dalam celana, lengan dan pergelangan tangan Anda terlihat ramping dan halus. Jika tidak diselipkan, kurva hem mengangkat pinggul dengan indah. Dipakai sendiri atau berlapis, produk ini akan bagus digunakan dengan pakaian Anda."

Baca juga: UNIQLO hasilkan kolaborasi simple dan elegan ala New York

Baca juga: UNIQLO hadirkan outerwear dan fleece karya Yosuke Aizawa

Baca juga: "Mix and match" busana ala Isyana Sarasvati dan Afgan


Halaman Selanjutnya: Sosok Maiko Kurogouchi
Sosok Maiko Kurogouchi

Maiko Kurogouchi menggunakan panggilan kesayangan semasa kecil yakni Mame sebagai brand miliknya. Lewat Mame Kurogouchi, dia mengembangkan ciri khas desain yang feminin, mengalir perpaduan antara tradisi kerajinan tangan Jepang dan gaya elegan kontemporer.

Pada kolaborasi pertamanya bersama Uniqlo, Mame Kurogouchi menciptakan rangkaian koleksi wanita yang terdiri dari innerwear dan lougewear.

Maiko Kurougouchi membawa konsep curvaceous styling yang diwujudkan lewat teknologi Airism dan material 3D Knit dari Uniqlo, yang mendobrak batasan antara pakaian sehari-hari dan pakaian dalam.

Kiprah Maiko Kurougouchi dalam menggeluti dunia fesyen dimulai di tahun 2005 ketika Maiko masih menjalani studi di Bunka Fashion College: universitas yang memiliki nama besar sebagai almamater desainer seperti Yohji Yamamoto, Kenzo Takada, hingga Junya Watanabe.

Saat masih menempuh studi di Bunka Fashion College itu Maiko pernah mewakili Jepang pada helatan Jeunes Createurs de Mode di Paris dan memenangkan Grand Prix tersebut.

Diikuti dengan berbagai penghargaan lainnya yang kian menggaungkan kemampuan desain Maiko, hingga pada tahun 2006 membawanya pada Issey Miyake Design Studio dan terlibat dalam berbagai proyek penting.

Salah satu yang mengibarkan namanya adalah perannya sebagai konseptor bagi lini ethical Issey Miyake yaitu Apoc, yang pertama kali diluncurkan pada tahun 1997 hingga menjadi pengawas bagi perencanaan dan desain untuk Issey Miyake Paris collection.

Maiko yang lahir di Nagano, Jepang itu lantas mendirikan merek Mame Kurogouchi di tahun 2010 yang beroperasi di jantung kota Tokyo. Maiko juga mendirikan bisnis lainnya berupa pabrik garmen di tahun 2019 yang dinamakan Atelier Project, yang bertujuan untuk terus melambungkan semangat dari Made In Japan.

Pesona desain Maiko setelah diluncurkannya Mame Kurogouchi kian bersinar, di tahun 2014 ia bahkan memenangkan Mainichi Fashion Grand Prix Shiseido Sponsorship Award untuk kategori Best New Fashion Designer. Dan di tahun 2018, Maiko dianugerahi Fashion Prize Tokyo yang menjadi tiket baginya untuk mempresentasikan koleksi Mame Kurogouchi di sirkuit Paris Fashion Week.

Tahun lalu, Maiko merayakan satu dekade berdirinya Mame Kurogouchi melalui presentasi koleksi SS2020.

Dengan mengedepankan teknik tradisional, serta budaya Jepang yang mementingkan detail sebuah kreasi, Mame Kurogouchi menjadi merek yang difavoritkan berbagai department store terkemuka.

Pada tahun 2019, Mame Kurogouchi tercatat memiliki 83 stockist di berbagai negara.

Baca juga: UNIQLO siap hadirkan koleksi bersama Mame Kurogouchi di 17 Desember

Baca juga: +J Fall/Winter 2021 dari UNIQLO kembali hadir mulai 11 November

Baca juga: UNIQLO hadirkan koleksi Travel Essential


 
Pewarta : Ida Nurcahyani
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2021