Luhut sebut penanganan COVID-19 saat ini gunakan "science and art"

Luhut sebut penanganan COVID-19 saat ini gunakan

Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi yang juga Ketua Tim Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI) Luhut Binsar Panjaitan menyampaikan sambutannya pada acara Karya Kreatif Indonesia yang diselenggarakan secara daring di Jakarta, Kamis (23/9/2021). (ANTARA/tangkapan layar)

Jakarta (ANTARA) - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan mengibaratkan kebijakan penanganan COVID-19 di Indonesia saat ini menggunakan metode ilmu pengetahuan dan seni (science and art).

"Kita sedang mengevaluasi apakah akan ada penahanan mobilitas penduduk dengan penerapan kembali PCR, (hal itu) sedang kami kaji. Jangan teman-teman berpikir ini tidak konsisten tapi kita menghitung pergerakan manusia dan kenaikan kasus. Ini sekarang seperti 'science and art," kata Luhut dalam konferensi pers melalui sambungan video seusai menghadiri rapat terbatas "Evaluasi pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM)" yang dipimpin Presiden Joko Widodo di Jakarta, Senin.

Luhut yang juga Koordinator PPKM di Pulau Jawa dan Bali meminta masyarakat tidak melihat kebijakan yang diambil pemerintah sebagai suatu bentuk inkonsistensi.

"Memutuskan ini seperti operasi militer kita melihat dengan cermat. Jangan ada pikiran ke mana-mana, kok berubah-ubah? Kita melihat perubahan perilaku COVID-19 ini yang sekarang ada indikasi varian delta plus yang ada di Malaysia, semua kita cermati dengan baik, dan itu juga berasal dari Inggris," tambah Luhut.

Baca juga: Luhut: keberhasilan turunkan kasus COVID-19 tahan perlambatan ekonomi

Per 2 November 2021, diberlakukan adendum Surat Edaran Nomor 20 Tahun 2021 tentang Protokol Kesehatan Perjalanan Internasional pada Masa Pandemi COVID-19 yang menyatakan warga negara asing (WNA) maupun warga negara Indonesia (WNI) yang masuk ke Indonesia diwajibkan melakukan tes PCR ulang serta melakukan karantina selama 5x24 jam bagi mereka yang baru menerima vaksin dosis pertama atau 3x24 jam bagi mereka yang sudah menerima dosis lengkap.

Dengan berlakunya adendum tersebut maka Surat Edaran No 20/2021, Surat Edaran No 18/2021, Addendum Surat Edaran Nomor 18 tahun 2021, dan Addendum Kedua Surat Edaran No.18 Tahun 2021 dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Dalam aturan sebelumnya diwajibkan karantina 8x24 jam dan 5x24 jam bagi pelaku perjalanan internasional.

"Jangan ada pikiran tidak konsisten. Strategi kita, taktik kita akan selalu bermuara pada COVID-19 ini. Tadi disinggung Dari Inggris sudah masuk ke Malaysia itu varian delta AY42 dan menurut saya ini harus kita waspadai," ungkap Luhut.

Luhut juga menyebut pemerintah terbuka untuk kemungkinan kembali meningkatkan waktu karantina menjadi 7x24 jam.

"Kemungkinan karantina naik jadi 7 hari juga tidak tertutup kemungkinannya. Jangan katakan bolak-balik, tidak sama sekali, kita sangat hati-hati di sini. Saya ingin sampaikan proses pengambilan keputusan itu sudah 'science dan art'," tambah Luhut.

Baca juga: Tren kenaikan COVID-19 terjadi di 43 wilayah Jawa-Bali dan Jakarta

Luhut kembali menyebut bahwa pemerintah dengan hati-hati membaca data kenaikan kasus dan penyebaran kasus positif COVID-19 saat ini.

"Dengan membaca data ini karena pengalaman kita sudah cukup sekarang, kita 'confidence' mengatakan cukup jernih melihat hal ini. Jadi saya mohon teman-teman di luar tidak punya pikiran pemerintah tidak konsisten, kami sangat konsisten, yang tidak konsisten itu penyakitnya," ungkap Luhut.

Menurut Luhut, varian Delta AY42 dapat lebih ganas 15 persen dibanding varian Delta saat ini.

"Kalau ada dari kita atau saudara ingin kena, ya kita akan leha-leha, tapi saya tidak mau. Saya tetap akan tegas mengatakan kita akan menyesuaikan atau antisipasi perilaku dari COVID-19 ini. Mudah-mudahan kita lebih utuh dan hati-hati menghadapi ini karena sudah dialami oleh banyak negara," kata Luhut.
 
Pewarta : Desca Lidya Natalia
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2021