KNPI imbau dimunculkannya "iklim politik sehat" di Pemilu 2024

KNPI imbau dimunculkannya

logo Komite Nasional Pemuda Indonesia. ANTARA/HO-KNPI/pri.

Jakarta (ANTARA) - Sekretaris DPD II Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Jakarta Pusat Tri Wahyudi Otto mengimbau agar Pemilu 2024 yang melibatkan lembaga penyelenggara dan seluruh masyarakat menghadirkan iklim politik yang sehat dan rasional.

Menurut dia, iklim politik yang sehat menjelang pemilu mendatang, khususnya pada Pilpres 2024 dapat diwujudkan dengan pemberian informasi dalam kampanye yang didasarkan pada data dan analisis memadai dan akurat.

“Perdebatan atau diskusi yang dinamis, kaya literasi, dan membangun dalam penerapan iklim politik di Pilpres yang akan datang juga merupakan solusi,” tambah Wahyudi Otto saat dihubungi oleh ANTARA, Selasa.

Hal yang ia sampaikan itu tidak terlepas dari keberadaan pengaruh politik identitas dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Daerah Khusus Indonesia (DKI) Jakarta 2017 dan Pemilu 2019 yang menurutnya masih menyisakan trauma dan luka membekas bagi masyarakat.

Baca juga: KNPI Sulsel serukan DPP kongres bersama akhiri konflik organisasi

Pada saat itu, ditemukan beragam muatan isu politik identitas yang mendominasi kampanye sehingga berpotensi memicu keretakan sosial di tengah masyarakat.

Oleh karena itu, lanjut Wahyudi Otto, meskipun politik identitas juga diterapkan di negara-negara besar seperti Amerika Serikat, model kontestasi politik tersebut di Indonesia perlu untuk dikaji lebih mendalam.

“Apakah model kontenstasi ini perlu diterapkan kembali? Mengingat kultur dan masyarakat Indonesia tentu berbeda dengan Amerika,” ucapnya.

Wahyudi Otto pun mengatakan penerapan politik identitas yang memanfaatkan kesamaan dari keanekaragaman untuk mendulang kekuatan itu memiliki muara pada kebinekaan di Indonesia sudah sepatutnya dihalau oleh segenap bangsa, khususnya generasi muda dengan menguatkan persatuan.

Baca juga: Jemmy Krobo terpilih Ketua KNPI Biak

Langkah itu didasarkan pada komitmen berbangsa, berbahasa, dan bertanah air satu yang digelorakan pemuda Indonesia pada 1928, tepatnya dalam momentum Sumpah Pemuda.

“Identitas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) sejujurnya merupakan keniscayaan dan hal paling otentik pada kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia,” jelas Wahyudi Otto.

Dengan demikian, lanjutnya, keberagaman dari setiap identitas itu sepatutnya dimaknai dan dipraktikkan dalam kehidupan sosial-politik masyarakat yang dipenuhi oleh nilai kebijaksanaan dan dipererat dengan tali persaudaraan sesama anak bangsa.

Tri Wahyudi Otto menambahkan, KNPI sebagai wadah atau payung besar organisasi pemuda lintas agama, suku, ras, golongan, dan segala bentuk kebinekaan lainnya akan berperan secara aktif untuk membangun hubungan politik kebangsaan yang rasional dan sehat, seperti yang dicontohkan oleh para pendiri bangsa Indonesia.

Baca juga: Kongres KNPI ke-14 akan digelar di Jakarta

Pewarta : Tri Meilani Ameliya
Editor: Joko Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2021