Kisah para penghuni Griya Lansia Husnul Khatimah

Kisah para penghuni Griya Lansia Husnul Khatimah

Suasana di Griya Lansia Husnul Khatimah, yang berada di Jalan Suropati, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Senin (1/11/2021). (ANTARA/Vicki Febrianto)

Malang (ANTARA) - Bagi masyarakat yang telah memasuki masa lanjut usia (lansia), berkumpul bersama keluarga, seperti anak dan cucu, merupakan salah satu impian yang ingin dirasakan saat hari tua.

Berkumpul bersama anak dan cucu bagi lansia menjadi salah satu hadiah paling indah yang dirasakan seiring bertambahnya usia. Keceriaan anak dan cucu yang dirawat sedari kecil, memberikan perasaan bahagia bagi mereka.

Namun, impian  tersebut tidak sepenuhnya bisa dirasakan oleh seluruh para lansia. Dalam kondisi tertentu, para orang tua yang kini memasuki masa lanjut usia harus hidup sendiri dan tidak dirawat oleh anak-anak mereka, bahkan jauh dari cucu-cucunya.

Para lansia yang berada dalam kondisi ekonomi kurang beruntung, terkadang harus menghabiskan masa tua mereka seorang diri. Bahkan tidak jarang ditemui para lansia yang hidup telantar di jalanan, karena tidak ada keluarga yang merawat.

Baru-baru ini, di media sosial beredar informasi seorang lansia diserahkan oleh anak-anaknya ke pusat perawatan lansia. Trimah (66), lansia asal Magelang, Jawa Tengah, diserahkan oleh ketiga anaknya ke Griya Lansia Husnul Khatimah, yang ada di Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Selain Trimah, juga ada dua lansia lain yang bernasib serupa. Marti'in (59) asal Sidoarjo, dan Soetiyo (88) asal Jombang, diserahkan pihak keluarga ke Griya Lansia Husnul Khatimah. Soetiyo, telah meninggal dunia pada 29 Oktober 2021, dan dimakamkan di TPU Mergan Kota Malang.

Kondisi Trimah, dan Marti'in, keduanya sedang sakit. Trimah, saat ini tidak bisa berjalan, namun masih bisa berkomunikasi dengan lancar kepada orang lain. Sementara Marti'in, saat ini hanya terbaring, karena mengalami stroke.

Trimah dan Marti'in, saat ini tinggal bersama puluhan lansia lain yang ada di Griya Lansia Husnul Khatimah Kabupaten Malang. Keseharian mereka diisi dengan kegiatan beribadah, seperti shalat dan mengaji yang diajarkan oleh pengelola rumah lansia tersebut.

Sebelum dibawa ke Griya Lansia Husnul Khatimah di Kabupaten Malang, Trimah pernah tinggal bersama salah satu adiknya di Jakarta. Selama satu tahun di Jakarta, Trimah mengalami stroke, sehingga menyebabkan dirinya tidak bisa berjalan lagi.

Dalam kesempatan itu, Trimah mengatakan bahwa ia memiliki tiga orang anak yang saat ini tinggal di Jakarta dan Pekalongan, Jawa Tengah. Trimah yang kurang lebih sudah satu minggu berada di Griya Lansia Husnul Khatimah, mengaku semakin betah.

Namun, tidak jarang juga ia merindukan anak dan delapan orang cucunya. Ia hanya berharap, ketiga anaknya yang saat ini berada di Jakarta dan Pekalongan itu tetap mengingat dirinya sebagai sosok orang tua.

"Saya tidak punya harapan apa-apa, hanya ingin anak saya ingat dengan orang tua," kata Trimah.

Salah seorang lansia asal Magelang, Jawa Tengah, Trimah (66), yang dirawat di Griya Lansia Husnul Khatimah, di Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang, Jawa Timur. (ANTARA/Vicki Febrianto.

Kondisi tidak jauh berbeda juga dialami oleh Marti'in. Marti'in yang dalam kesehariannya hanya bisa terbaring di tempat tidur, juga mengaku betah tinggal di Griya Lansia Husnul Khatimah. Ia bahkan sudah tidak ingin kembali pulang.

Meskipun saat berbicara sudah tidak terdengar jelas, Marti'in masih bisa berinteraksi dengan para perawat yang ada di tempat itu. Marti'in, dalam kesehariannya juga membutuhkan perhatian ekstra dari pengelola Griya Lansia Husnul Khatimah.

Perawatan tanpa biaya

Griya Lansia Husnul Khatimah yang berada di Jalan Suropati, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang, tersebut sudah mulai merawat para lansia sejak 2019. Saat itu, bangunan yang dipergunakan untuk merawat lansia telantar masih seadanya.

Berbekal kepedulian kepada para lansia yang telantar, pada 2021, Griya Lansia Husnul Khatimah selesai dibangun dan memiliki kapasitas untuk merawat 60 orang. Saat ini, kapasitas pada fasilitas perawatan lansia tersebut terisi 56 orang.

Para lansia yang menjalani kehidupan di tempat tersebut, sebagian besar merupakan para lansia yang telantar dan tidak memiliki keluarga. Namun, ada juga para lansia yang memang diserahkan oleh pihak keluarga, seperti Trimah, Marti'in dan Soetiyo.

Penanggung Jawab Griya Lansia Husnul Khatimah, Nurhadi Rahmat (kiri) menyapa salah seorang lansia asal Sidoarjo, Jawa Timur Marti'in (59), yang dirawat di Griya Lansia Husnul Khatimah, di Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang, Jawa Timur. (ANTARA/Vicki Febrianto)

Para lansia yang dirawat di fasilitas tersebut harus memenuhi sejumlah persyaratan yang ditentukan. Pertama, para lansia itu harus benar-benar dalam kondisi telantar dan tidak ada yang merawat.

Kemudian, para lansia yang mayoritas dibawa oleh para relawan untuk dirawat di Griya Lansia Husnul Khatimah itu bukan merupakan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Pada saat pertama kali masuk, juga harus ada penanggung jawab yang melakukan serah terima kepada pengelola.

"Banyak lansia yang telantar dan tidak terurus. Kemudian kami memiliki inisiatif untuk membangun griya lansia ini," kata Penanggung Jawab Griya Lansia Husnul Khatimah, Nurhadi Rahmat.

Para lansia yang dirawat di Griya Lansia Husnul Khatimah tersebut sama sekali tidak dipungut biaya. Biaya kehidupan dan kebutuhan sehari-hari para lansia sepenuhnya menjadi tanggung jawab pihak pengelola griya lansia.

Pembiayaan tersebut berasal dari donasi publik yang memang telah disiapkan oleh pengelola untuk merawat para lansia. Kebutuhan biaya per bulan untuk merawat para lansia itu kurang lebih Rp60 juta.

Pembangunan Griya Lansia Husnul Khotimah berasal dari donasi masyarakat yang dikumpulkan oleh tiga lembaga, yakni Nurul Hayat, Sahabat Yatim Dhuafa, dan Galena. Meskipun kebutuhan biaya tidak sedikit, namun selama ini pengelola tetap memenuhi kebutuhan tersebut.

Besaran biaya tersebut masih belum termasuk biaya perawatan fasilitas griya lansia berupa 18 kamar, tiga bangsal, area taman dan honor bagi para perawat yang bertugas. Saat ini, di Griya Lansia Husnul Khatimah memiliki empat orang perawat.

"Kami bukan panti komersial, jadi kami gratis 100 persen," ujarnya.

Saat ini, mayoritas penghuni Griya Lansia Husnul Khatimah merupakan para lansia yang telantar. Namun, juga ada para lansia yang diserahkan oleh pihak keluarga, dengan alasan kesibukan sehingga tidak bisa merawat, atau bahkan karena kondisi ekonomi yang sulit.

"Untuk yang diserahkan pihak keluarga juga ada. Alasannya karena kesibukan atau juga tidak mampu. Kami tetap menerima dan gratis, tidak ada biaya apapun," ujarnya.

Ia sangat berharap tidak ada lagi kasus serupa yang dialami para lansia, khususnya yang memiliki keluarga. Griya Lansia Husnul Khatimah juga memberikan kesempatan kepada pihak keluarga jika ingin kembali merawat orang tua tersebut.

Para lansia yang berada di Griya Lansia Husnul Khatimah tersebut tidak sekadar dirawat oleh pengelola, namun juga dibimbing dan diarahkan untuk menjadi lebih baik di masa tua mereka.

Pengelola griya lansia memberikan bimbingan keagamaan bagi para lansia tersebut agar lebih siap jika sewaktu-waktu ajal datang menjemput mereka. Keseharian para lansia itu diisi dengan mengaji, shalat berjamaah dan istighatsah rutin setiap pagi.

"Kami membimbing untuk berdoa. Para lansia, rata-rata teringat keluarga dan masa lalu mereka. Untuk keluarga, kami persilahkan untuk mengunjungi, tidak ada syarat khusus," katanya.

Pewarta : Vicki Febrianto
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2021