NSLIC/NSELRED-Kemendes PDTT pertemukan investor dengan UKM Bali

NSLIC/NSELRED-Kemendes PDTT pertemukan investor dengan UKM Bali

Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Abdul Halim Iskandar (kanan), Acting Head of Development Global Affairs Canada (GAC) Elizabeth Geagea (kedua kanan), Senior Manager Local Regional Economic Development (LRED) Proyek NSLIC Natalie Leondhart (kedua kiri) dan General Manager Divisi Bisnis Usaha Kecil dan Program Bank Negara Indonesia Bambang Setyatmojo (kiri) berbincang saat kegiatan Pertemuan Bisnis di kawasan Kuta, Badung, Bali, Senin (25/10/2021). ANTARA/Naufal Fikri Yusuf

Badung (ANTARA) - Proyek National Support for Local Investment Climates/National Support for Enhancing Local and Regional Economic Development (NSLIC/NSELRED) bersama dengan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) menyelenggarakan pertemuan bisnis di wilayah Provinsi Bali.

Pertemuan bisnis tersebut menjembatani antara pelaku UKM di wilayah Provinsi Bali dengan investor dari dalam dan luar negeri untuk membuka akses pasar bagi UKM dari Buleleng, Klungkung, dan Tabanan ke pasar domestik dan internasional.

"Melalui pertemuan bisnis hari ini, kami berupaya lebih memperkuat kerja sama kemitraan dengan seluruh pemangku kepentingan terkait pengembangan potensi ekonomi dan kelembagaan desa lokal," ujar Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Abdul Halim Iskandar di kawasan Kuta, Kabupaten Badung, Senin.

Ia mengatakan, salah satu prioritas Kementerian Desa adalah pemulihan ekonomi pedesaan. Hal tersebut dilakukan melalui program Dana Desa yang tepat sasaran untuk pemberdayaan masyarakat dan dilakukan secara swakelola melalui Padat Karya Tunai Desa (PKTD).

Baca juga: Kemendes ajak investor kembangkan BUMDes percepat pemulihan desa

PKTD dilakukan dengan melibatkan warga desa terutama mereka yang kehilangan pekerjaan, keluarga miskin, Pekka atau Perempuan Kepala Keluarga, serta kelompok marginal lainnya.

"Telah banyak inovasi pengembangan ekonomi desa yang lahir dari desa dan menjadi kekuatan desa. Inovasi-inovasi tersebut dilaksanakan melalui kegiatan pemberdayaan dan pendampingan untuk meningkatkan nilai tambah produk unggulan perdesaan dari hulu ke hilir serta penguatan kelembagaan ekonomi desa yaitu BUMDesa/BUMDesma," katanya.

Pada temu bisnis itu, NSLIC dan Kemendes PDTT mengajak Astra Internasional, Elevania, BNI, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia, UKM Mendunia, TaniHub, Tokopedia, SEA Group (Shopee) serta 12 investor lainnya untuk melihat langsung produk-produk yang dihasilkan oleh kurang lebih 500 petani dan perajin yang tergabung dalam 25 kelompok usaha di tiga daerah Bali.

Ketiga daerah tersebut telah menerima dukungan teknis dari NSLIC melalui skema program Responsive Innovation Fund (RIF) untuk pengembangan kualitas komoditas unggulan dan produk turunannya, penguatan kelembagaan, serta peningkatan kapasitas SDM dari BUMDES dan BUMDESMA.

Baca juga: Kemendes PDTT siap fasilitasi pengembangan desa wisata Buru Selatan

Melalui skema RIF, beberapa produk dari Nusa Penida telah lahir di masa pandemi seperti Coconut Chips yang menyediakan rasa karamel gula aren dan tepung mocaf (singkong) yang 100 persen halal dan sehat karena kadar indeks glikemiknya yang rendah, bebas gluten, dan kaya serat, kalsium dan fosfor.

Di Buleleng, pendampingan ditargetkan untuk perbaikan kualitas produk kerajinan bambu dan gula aren. Para perajin bambu kini mampu menciptakan produk-produk dengan desain baru yang sesuai dengan permintaan pasar.

Selain itu, ada juga produk lainnya yang menarik para investor. Dari Tabanan antara lain Beras Organik Pertiwi dan Kopi Leak, lalu ada garam ‘Uyah’ Kusamba dan sabun Kella asal Klungkung, juga produk-produk dari Buleleng seperti kopi robusta Kejapa, mangga Amplem Sari, minyak kayu putih Prani, anggur laut Bali, dan buah stoberi beku.

Duta Besar Kanada untuk Indonesia, Cameron MacKay menjelaskan, pihaknya memberikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap upaya-upaya pemerintah Indonesia untuk mendukung pengembangan usaha mikro dan kecil melalui program NSLIC yang didanai Kanada.

"Program ini telah memberikan hasil nyata untuk masyarakat lokal dan masyarakat lain di Indonesia, khususnya di Bali. Melalui pelatihan dan dukungan konsultasi teknis, petani lokal dan pemilik usaha dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas komoditas, diversifikasi produk, pengelolaan keuangan, keterampilan penjualan, dan bantuan untuk mendapatkan izin dan sertifikat yang diperlukan," katanya.

Menurutnya, kegiatan pertemuan bisnis itu menandai langkah penting bagi usaha lokal untuk berkembang dan memperluas karena NSLIC telah memfasilitasi kerja sama dengan pengusaha besar yang tidak hanya membeli produk lokal, namun juga terus memberikan dukungan bagi usaha-usaha kecil bagaimana mengembangkan produk-produk dan bisnis mereka.

"Kami mendorong para pemangku kepentingan yang hadir pada pertemuan hari ini untuk membantu usaha-usaha lokal ini untuk tidak hanya masuk ke pasar lokal dan domestik, namun dapat masuk ke pasar internasional," ungkap Duta Besar MacKay.

Pada acara Temu Bisnis, beberapa investor yang telah berkomitmen untuk mengadakan kerja sama dengan pelaku UMKM menandatangani Kesepakatan Kerjasama, seperti Elevania yang akan bekerjasama dalam peningkatan akses pasar dan BNI dalam dukungannya pada pendampingan dan pemberdayaan serta penyediaan produk layanan perbankan bagi UMKM.

Sementara Paxel siap memfasilitasi akses distribusi pasar domestik dan internasional, UKM Mendunia pada pelatihan untuk mengekspor produk UMKM, dan PT. Usaha Perdagangan Indonesia yang membuka akses pasar produk hasil pelaku usaha tani secara berkelanjutan.

Kegiatan selama dua hari itu rencananya akan ditutup dengan kunjungan para investor ke beberapa lokasi UMKM untuk melihat produk dan berdiskusi secara langsung dengan perwakilan kelompok UMKM guna membahas peluang kerja sama berikutnya.
Pewarta : Naufal Fikri Yusuf
Editor: Budi Suyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021