China: Ketahanan pangan dan energi harus dipikirkan saat batasi emisi

China: Ketahanan pangan dan energi harus dipikirkan saat batasi emisi

Foto udara memperlihatkan polusi berasal dari cerobong asap yang memancarkan polusi karbondioksida di kawasan pabrik besar di Chengde, China (22/10/2018). (ANTARA/Shutterstock/Bonandbon/aa.)

Beijing (ANTARA) - Pemerintah China pada Minggu menguraikan langkah-langkah menuju sasarannya mencapai emisi karbon puncak pada 2030 dan netralitas karbon sebelum 2060.

Namun, pemerintah itu mengatakan ketahanan pangan dan energi harus dipertimbangkan di tengah upaya tersebut.

Pernyataan itu muncul ketika kelangkaan parah energi di China mengancam membayangi upaya Beijing dalam mengekang emisi gas rumah kaca, tepat ketika negara-negara bersiap untuk mengikuti putaran baru pembicaraan iklim di Glasgow mulai 31 Oktober.

China harus "mengelola hubungan antara pengurangan polusi dan pengurangan karbon dan keamanan energi, keamanan rantai pasokan industri, keamanan pangan dan kehidupan normal rakyatnya," menurut dokumen pemerintah yang diterbitkan oleh media resmi Xinhua.

Dokumen itu juga berisi seruan agar tanggapan yang efektif dijalankan terhadap risiko ekonomi transisi hijau dan rendah karbon, untuk "mencegah reaksi berlebihan, dan memastikan pengurangan karbon yang aman".

Pengamat iklim berharap penghasil emisi gas rumah kaca terbesar di dunia itu dapat dibujuk untuk mulai mengurangi konsumsi batu bara lebih awal dari target saat ini pada 2026.

Namun, kelangkaan parah energi menekan pemerintah China untuk segera meningkatkan produksi bahan bakar.

Sumber: Reuters

Baca juga: Badan PBB minta AS ikuti EU dan China soal target netralitas karbon

Baca juga: Kadar CO2 di China diprediksi memuncak lebih awal pada 2022 


 

Bus beremisi rendah China mengaspal di Siprus

Pewarta : Mulyo Sunyoto
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2021