AS: KTT ASEAN tanpa Myanmar langkah signifikan, tapi belum cukup

AS: KTT ASEAN tanpa Myanmar langkah signifikan, tapi belum cukup

Arsip foto - Panglima junta militer Myanmar Jenderal Min Aung Hlaing (kiri) tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten (24/4/2021). Jenderal Min Aung Hlaing datang untuk menghadiri KTT ASEAN 2021di Sekretariat ASEAN, Jakarta. ANTARA FOTO/Biro Pers-Rusan/hma/foc.

Washington (ANTARA) - Amerika Serikat menganggap keputusan ASEAN untuk mengecualikan pimpinan Myanmar dari KTT kawasan sangat signifikan tetapi masih banyak yang dilakukan untuk mengatasi tantangan yang dihadapi oleh negara tersebut pascakudeta militer 1 Februari, kata pejabat senior AS.

"Ini mencerminkan sebuah langkah yang sangat signifikan," kata Edgard Kagan, direktur senior untuk Asia Timur dan Oseania di Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih pada acara yang digelar lembaga kajian Center for Strategic and International Studies (CSIS), di Washington, Rabu (20/10).

Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN), yang beranggotakan 10 negara, pekan lalu memutuskan untuk mengundang perwakilan nonpolitik Myanmar ke KTT ASEAN pada 26-28 Oktober. Keputusan itu merupakan penghinaan bagi pemimpin militer Myanmar Min Aung Hlaing.

Namun, menurut Kagan langkah ASEAN itu tidak cukup. 

"Jelas,  menurut kami ini tidak cukup, dan menyelesaikan tantangan yang ditimbulkan oleh kudeta di Myanmar, serta kesulitan-kesulitan luar biasa yang kini dihadapi oleh rakyat di Myanmar akibat kudeta ... membutuhkan upaya yang lebih luas dan saya rasa lebih efektif."

Kagan tidak menyebutkan secara spesifik langkah-langkah yang dimaksud.

Baca juga: ASEAN sepakat tidak undang pemimpin junta Myanmar di KTT

Menolak kehadiran Min Aung Hlaing pada KTT merupakan langkah besar yang ditempuh ASEAN.

Negara-negara anggota perhimpunan itu selama ini menganut kebijakan untuk tidak ikut campur urusan satu sama lain.
Mereka juga enggan menerapkan sanksi dan tindakan-tindakan lainnya untuk mengisolasi Myanmar.  
 
Kagan menyebutkan bahwa membahas isu yang dihadapi Myanmar membutuhkan kerja sama antara negara-negara ASEAN, serta mitra asing.

"Sangat jelas bahwa ini bukanlah situasi yang akan membaik dengan sendirinya," ucap Kagan. Ia menambahkan bahwa AS akan bekerja sama dengan ASEAN mengenai isu tersebut.

"Terlihat bahwa muncul frustrasi yang berkembang di kawasan karena situasi di Myanmar, kekhawatiran pun ikut berkembang. Faktanya adalah kualitas pemerintahan di Myanmar anjlok, bahwa rakyat Myanmar sedang menghadapi tantangan yang luar biasa."

Sumber: Reuters

Baca juga: Myanmar bebaskan ratusan tahanan politik atas desakan ASEAN

Baca juga: Menlu RI: ASEAN beri ruang bagi Myanmar pulihkan demokrasi


 

Melihat momen kedatangan para pemimpin negara hadiri KTT ASEAN

Pewarta : Asri Mayang Sari
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2021