Selaksa semangat dalam "catatan harian" penyintas COVID-19

Selaksa semangat dalam

Buku berjudul "28 Hari Menjemput Doa"dengan Penerbit "Stiletto Indie Book" Yogyakarta yang ditulis Pramesti Yudhi alias Ame dari pengalaman pribadi saat terpapar COVID-19 sejak 29 Mei hingga 12 Juni 2020. ANTARA/tangkapan layar buku/2021.

Denpasar (ANTARA) - Seperti judulnya, yakni "28 Hari Menjemput Doa", buku ini menyajikan kisah penulis dan keluarganya saat terpapar COVID-19 dengan gaya "catatan harian" yang personal, namun dibalik itu ada selaksa semangat juang yang menginspirasi siapapun.

Halaman 1 dari buku dengan Penerbit "Stiletto Indie Book" Yogyakarta itu mencatat peristiwa pertama pada 29 Mei 2020, kala itu penulis buku dengan nama lengkap Pramesti Yudhi itu mengikuti "rapid test" massal di depan Gedung Siola, Surabaya dan menerima pengalaman "reaktif" yang mengagetkan.

"Sabar ya, Bu. Percayalah ini skenario terbaik dari Allah," kata penulis yang biasa disapa 'Ame' itu kepada ibunya saat 'terciduk' dalam rapid test massal yang membuatnya bersama ibunda diharuskan menjalani isolasi untuk menunggu hasil "swab test" yang juga dilakukan pada tanggal itu.

Selain ibunya, bapaknya yang bernama Andreas juga terkonfirmasi positif COVID-19 dengan komorbid diabetes yang sudah terlebih dulu menjalani isolasi di RSUD dr Soetomo Surabaya pada 15 Mei 2020. Dari pengalaman bapaknya itu, Ame dan ibunya pun mengikuti "rapid test" massal itu untuk mengecek kesehatannya, sedangkan adiknya "rapid test" mandiri.

"Bisa juga virus itu masuk karena perjalanan kerjaku, Bu. Aku mulai sakit akhir Maret 2020 sepulang dari acara di Lombok. Demam, sembuh, demam, batuk, sembuh," kata Ame yang mantan jurnalis itu dalam obrolan dengan ibu menjelang keberangkatan dengan truk ke lokasi isolasi di sebuah hotel. (halaman 4).

Catatan tanggal 30 Mei 2020 pada halaman 10 menyebutkan kebiasaan baru Ame berjemur setiap pagi di kamar isolasi di lantai 6 di sebuah hotel, sedangkan ibunya di lantai 17. Halaman demi halaman pun dilengkapi dengan foto-foto mulai dari kamar isolasi, kegiatan bersama, hingga pemeriksaan kesehatan.

Tak lama berselang saat "chat" dengan temannya melalui WA, Ame mendengar petugas yang mengenakan APD mengetuk pintu kamar dan memberikan tas kresek berisi kurma dan madu. Juga, makanan (halaman 12).

"Bu apakah hari ini sudah dapat wedang pokak dan telur rebus?," tanyaku kepada ibu di lantai 17 lewat WAG Keluarga pukul 20.00 WIB. Dari ujung telepon, suara Ibu terdengar syok dan mengaku tidak bisa tidur.

Apa boleh buat, Ame mengaku dirinya tidak boleh menemani ibunya di kamar berbeda. Ame yang hingga kini masih aktif menulis meski bekerja di perusahaan ritel multinasional itu hanya bisa merenung di atas sajadah malam itu.

Berbekal aplikasi di layar mungil telepon pintar, alumnus Komunikasi Unair pada 2015 itu kembali rajin melafalkan ayat-ayat suci Alquran yang sudah lama jarang disimaknya. (halaman 15).

"Entah ini teguran, atau memang cara-Nya untuk menjadikan hidup kami lebih baik dan kembali dekat pada-Nya. Ya, Allah, sebesar apapun cobaan-Mu, ikhlaskan kami menerimanya," ucap Ame dalam doanya pada bukunya yang merupakan cetakan pertama yang terbit pada Agustus 2020.

Catatan tanggal 1 Juni 2020 menceritakan pengalaman sang bapak yang lima kali pindah kamar isolasi hingga terjadi insiden pemukulan oleh pasien COVID-19 yang stres di kamar sebelahnya. (halaman 18-21).

Baca juga: Kisah penyintas COVID-19, percaya teori konspirasi sampai kena "badai"

Baca juga: Bunga harapan untuk penyintas COVID-19 di RS Unand


Bukan aib

Tanggal 2 Juni 2020, Ame mencatat informasi tentang hasil swab test untuk dirinya dan ibunya yang positif, sedangkan adiknya Tanty yang isolasi mandiri di rumahnya dinyatakan negatif. Mereka yang positif dipindahkan ke HAH (Hotel Asrama Haji) Sukolilo, Surabaya. (halaman 30).

"Beruntung, di tengah keterpurukan aku memiliki saudara dan teman-teman yang selalu memberikan dukungan. Bahkan, ketika malam hari, setelah mengetahui kabar positif COVID-19, teman-teman kantor dari cabang Lombok, Makassar, Balaraja, Lampung, head office, melakukan panggilan video di grup," kata Ame di halaman 33.

Pada "diary" tanggal 3 Juni 2020, Ame menceritakan hasil positif dari "swab test" untuk kedua kalinya yang justru dikabarkan kepada teman-teman di kantor, namun ibunya menyarankan untuk tidak dikabarkan kepada tetangga melalui grup WA RT/RW agar tidak dikucilkan karena anggap COVID-19 sebagai aib. (Halaman 36-37).

Beruntung, teman kantor anggap bukan aib, bahkan banyak membantu. "Kamu fokus sembuh dulu. Urusan pekerjaan, aku yang back up," kata Pak Faruq, regional manager, yang dikenal Ame sejak sama-sama menjadi jurnalis/wartawan. (Halaman 41).

Tak lama kemudian, GM Pak Nur Rachman, juga menanyakan kabar dan memberi support yang melegakan. "Ya, sudah, yang penting kamu sembuh dulu. Nanti, semua biaya pengobatan kamu sampai sembuh jangan lupa klaim ke Rizky agar diproses." Ya, sebuah kemudahan tiba. (Halaman 43).

Hikmah yang juga penting dicatat Ame pada "diary" tanggal 4 Juni 2020 adalah kemudahan itu sering datang karena kebaikan dengan suka menolong dan juga selalu berprasangka baik kepada orang lain. (Halaman 44). Hikmah yang juga penting adalah pengalaman yang menjadi buku pertama. (Hal.47).

Catatan harian pada 5 Juni 2020 adalah dua peristiwa penting yakni Ame dan ibunya dipindahkan ke HAH Sukolilo Surabaya, lalu bapaknya sudah diizinkan pulang, karena gula darah sudah normal dan D-dimer-nya sudah 900. "Puji Tuhan, satu per satu masalah selesai," kata Ibu. (Halaman 49).

Kegiatan di lokasi isolasi yang baru di HAH antara lain senam pagi, pemeriksaan darah hampir setiap hari, berjemur bersama, hingga swab test untuk ketiga kalinya. Yang seru adalah ngobrol dan ngerumpi dengan teman kerja di WA grup kantor di Jatim, Bali, dan NTT-NTB (Halaman 59-79).

Catatan tanggal 9 Juni 2020 menceritakan kegembiraan, karena hasil swab test pertama yang negatif. "Puji Tuhan, negatif," kata Ibu yang langsung memeluk Ame. Teman-teman kantor juga menunjukkan kegembiraannya melalui WA grup dan telepon langsung selama berjam-jam. (Hal. 80-83).

Esok harinya atau tanggal 10 Juni 2020, Ame mencatat pada halaman 85 bahwa ada dua korwil di kantornya yang tidak percaya adanya COVID-19.
Catatan terakhir Ame adalah tanggal 12 Juni 2020 yang merupakan hari kepulangan dengan menunggu kendaraan penjemput pada pukul 08.00-12.00 WIB. (Halaman 97).

Namun, sehari sebelumnya atau tanggal 11 Juni 2020 pukul 20.00 WIB sudah ada kabar tentang hasil swab test kedua yang negatif. Ame pun bersyukur dengan shalat pada sepertiga malam (Shalat Tahajud). (Halaman 98).

"COVID-19 ini seperti hantu. Hanya mereka yang pernah menjumpai atau merasakan keberadaannya baru akan percaya," kata Ame pada halaman 85 dari total halaman 104 lembar sejak 29 Mei 2020 hingga 12 Juni 2020.

Baca juga: Kisah penyintas COVID-19, dirundung hingga ingin ubah stigma buruk

Baca juga: Wagub DKI perkuat imun tubuh dengan baca kisah penyintas COVID-19

 
Pewarta : Edy M Yakub
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021