BEI raih The Best Islamic Capital Market tiga kali berturut-turut

BEI raih The Best Islamic Capital Market tiga kali berturut-turut

Tangkapan layar Dirut BEI Inarno Djajadi saat membuka Public Expose yang disiarkan secara real time melalui fasilitas webinar, yaitu Public Expose (Pubex) LIVE 2021, di Manado, Senin (06/09/2021). ANTARA/NANCY LYNDA TIGAUW. (1)

Jakarta (ANTARA) - Bursa Efek Indonesia (BEI) meraih penghargaan untuk ketiga kali berturut-turut sebagai The Best Islamic Capital Market dalam ajang penganugerahan bagi industri keuangan syariah dunia Online Awards Ceremony (OAC) of the 11th Global Islamic Finance Awards (GIFA) yang digelar dan disiarkan langsung dari London, Inggris.

"Suatu kehormatan bagi kami untuk diakui oleh GIFA sebagai The Best Islamic Capital Market untuk yang ketiga kalinya. Tahun ini bukan hanya merupakan tahun yang penuh dengan tantangan, namun juga kesempatan. Penghargaan ini memicu kami untuk terus berinovasi dalam mengembangkan industri pasar modal syariah Indonesia," ujar Dirut BEI Inarno Djajadi dalam keterangan di Jakarta, Selasa.

Sebelumnya, BEI telah menerima secara berturut-turut penghargaan sebagai The Best Islamic Capital Market pada 2019 dan 2020. Kategori tersebut merupakan penghargaan yang tertinggi dalam industri pasar modal syariah global. Selain itu, BEI juga telah menerima penghargaan sebagai The Best Supporting Institution for Islamic Finance of the Year 2016, 2017 dan 2018, serta penghargaan sebagai The Best Emerging Islamic Capital Market of the Year 2018.

Baca juga: BEI: Perusahaan masih antusias galang dana di pasar modal

BEI dinilai secara konsisten berhasil mendorong perkembangan pasar modal syariah di Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir dengan melakukan berbagai inisiatif dan kegiatan pengembangan bersama para pemangku kepentingan yang tidak hanya untuk mendorong pangsa pasar namun juga untuk menjaga agar tetap sesuai dengan kaidah syariah.

Hal tersebut diwujudkan dalam beberapa pencapaian, di antaranya pasar modal syariah Indonesia masih konsisten bertumbuh di tengah tekanan pasar akibat situasi pandemi COVID-19 yang melanda dunia. Sampai dengan Agustus 2021, jumlah saham syariah tercatat di BEI yang tergabung dalam Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) masih mendominasi dengan persentase mencapai 57 persen dari total keseluruhan saham tercatat di BEI.

Kapitalisasi pasar saham syariah mencapai 46,5 persen dari total kapitalisasi pasar. Sedangkan dari nilai rata-rata transaksi harian, perdagangan saham syariah berkontribusi sebesar 53,4 persen, frekuensi transaksi 57,6 persen dan volume transaksi sebanyak 45,8 persen.

Baca juga: BEI: 44 perusahaan akan rights issue senilai total Rp116,57 triliun

Selain itu, kinerja pertumbuhan jumlah investor saham syariah di Indonesia sangat signifikan. Berdasarkan data yang dihimpun dari Anggota Bursa (AB) penyedia layanan Sharia Online Trading System (AB-SOTS), sejak peluncuran SOTS pertama pada 2011, jumlah investor syariah telah meningkat lebih dari 18.782 persen menjadi 100.266 investor per Juli 2021.

Pasar modal syariah Indonesia juga tercatat sebagai pasar modal di dunia dengan transaksi saham yang secara end to end telah memenuhi prinsip syariah. Mulai dari mekanisme transaksi di BEI, mekanisme kliring dan penjaminan di PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), hingga mekanisme penyimpanan serta penyelesaian transaksi di PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Semuanya telah memiliki fatwa dari Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI).

BEI dan Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) meluncurkan indeks saham syariah baru, yaitu IDX-MES BUMN 17. Indeks tersebut berisikan 17 saham syariah perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan afiliasinya yang berkapitalisasi pasar besar, dengan likuiditas serta fundamental baik. Saat ini terdapat empat indeks saham syariah di BEI, yaitu ISSI, JII, JII70, dan IDX-MES BUMN 17.

Pasar modal syariah Indonesia masih dianggap paling inovatif dan satu-satunya di dunia yang memiliki produk terlengkap, serta mengintegrasikan investasi syariah di pasar modal dengan filantropi Islam. Selain memiliki produk wakaf saham, zakat saham, sedekah saham, dan wakaf sukuk, Pasar modal syariah Indonesia juga memiliki sukuk wakaf yang merupakan sukuk wakaf pertama di dunia.

Pasar modal syariah Indonesia juga dianggap sangat mendukung pengembangan green investment. Sejak 2018, pasar modal syariah Indonesia telah konsisten menerbitkan green sukuk dan BEI merupakan anggota Sustainable Stock Exchanges Initiative.

Baca juga: Wapres sebut masih ada keraguan masyarakat berinvestasi syariah

BEI adalah bursa efek pertama di dunia yang mengembangkan sistem transaksi secara daring dengan memenuhi prinsip syariah atau SOTS. Sistem tersebut terintegrasi mulai dari layanan pembukaan rekening saham syariah melalui AB-SOTS, proses penyelesaian efek sampai dengan fasilitas Rekening Dana Nasabah (RDN) pada Bank Syariah.

Pasar Modal Syariah Indonesia memiliki perusahaan efek yang mengembangkan sistem perdagangan syariah (Islamic Windows Securities Companies) terbanyak di dunia dengan pertumbuhan paling cepat. Dalam waktu sembilan tahun terdapat 16 AB-SOTS, yaitu PT Indopremier Sekuritas, PT Mirae Sekuritas, PT BNI Sekuritas, PT Trimegah Sekuritas, PT Panin Sekuritas, PT Mandiri Sekuritas, PT Phintraco Sekuritas, PT SucorInvest Sekuritas, PT First Asia Capital Sekuritas, PT MNC Sekuritas, PT Henan Putihrai Sekuritas, PT Phillip Sekuritas, PT RHB Sekuritas, PT Samuel Sekuritas, PT Maybank Sekuritas, dan PT BRI Danareksa Sekuritas.
Pewarta : Citro Atmoko
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2021