Survei sebut penanganan COVID-19 di Indonesia membaik

Survei sebut penanganan COVID-19 di Indonesia membaik

Foto dokumen: Petugas medis menyuntikkan vaksin COVID-19 bagi pelajar tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Taman Sekartaji, Kota Kediri, Jawa Timur, Senin (16/8/2021). ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani/aww.

Jakarta (ANTARA) - Penanganan COVID-19 di Indonesia semakin membaik setiap harinya, dikutip dari Survei Nasional Evaluasi Kebijakan dan Peta Politik di Masa Pandemi yang dilakukan oleh Charta Politika.

Terkait hal tersebut dr. Siti Nadia Tarmizi M.Epid, Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kemenkes RI menyampaikan tingginya kepercayaan masyarakat terhadap upaya-upaya pemerintah dalam menangani pandemi tidak terlepas dari komitmen besar pemerintah serta dukungan dari berbagai elemen masyarakat.

"Salah satu contoh komitmen pemerintah adalah dalam meningkatkan upaya tes dan lacak. Selama sebulan terakhir, kita melihat adanya kenaikan tes dan lacak dari 50 ribu ke 200 ribu. Semua ini tercapai akibat dukungan semua pihak seperti lab-lab daerah yang sudah melakukan analisis PCR dan antigen," kata Nadia dalam keterangannya pada Senin.

Sebagai informasi, pada Maret-Desember 2020, Indonesia hanya mampu melakukan 140 pengurutan keseluruhan genom, genom sequencing. Namun hingga saat ini sudah hampir kita sudah mampu melakukan hingga 4.000 genom sequencing.

Baca juga: Ipsos: 60 persen masyarakat puas dengan komunikasi penanganan COVID-19

Hal itu adalah bukti nyata hasil kerja keras dari semua pihak yang terdiri dari berbagai laboratorium penelitian, universitas dan swasta dalam jejaring genome sequencing dan Kemenkes sangat mengapresiasi dukungan yang diberikan,.

Dari hasil survei yang dilakukan selama periode 12-20 Juli 2021, sebanyak 51,4 persen responden mengatakan bahwa penanganan COVID-19 di Indonesia saat ini sangat baik dan baik, sementara 45.6 persen menyatakan tidak baik.

Dari total responden 1.200 orang, 53,1 persen menyatakan percaya dengan data yang dirilis oleh pemerintah terkait COVID-19, sementara 43,3 persen lainnya menyatakan tidak percaya.

Vaksinasi

Berbicara tentang penanganan COVID-19 pasti terkait dengan program vaksinasi yang juga dijalankan oleh pemerintah. Masih mengutip data dari hasil riset Charta Politika, 72,4 persen responden menyatakan bersedia untuk menerima vaksin COVID-19 sementara hanya 23,9 persen yang tidak bersedia, dan sisanya tidak tahu.

"Tentu saja ini sebuah informasi yang melegakan. Kita memang melihat di beberapa daerah, antusiasme masyarakat untuk divaksinasi begitu tinggi. Walau sejumlah daerah juga menunjukkan tingkat penerimaan vaksinasi yang rendah. Pemerintah akan terus berupaya untuk meningkatkan penerimaan masyarakat terhadap vaksinasi, salah satunya melalui program edukasi yang terus menerus dilakukan. Kami juga berulang kali menegaskan kepada masyarakat untuk jangan percaya dengan hoaks. Vaksin sudah terbukti efektif mencegah keparahan hingga kematian akibat virus COVID-19," kata Nadia.

Sebuah studi yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes RI membuktikan bahwa vaksin mampu menurunkan risiko terinfeksi COVID-19, serta mengurangi perawatan dan kematian bagi tenaga kesehatan. Studi ini dilakukan terhadap 71.455 tenaga kesehatan di DKI Jakarta meliputi perawat, bidan, dokter, teknisi, dan tenaga umum lainnya sepanjang periode Januari-Juni 2021.

Baca juga: Luhut klaim pemerintah terus tingkatkan testing COVID-19

Hal itu sejalan dengan Data dari Public Health England (PHE), vaksin AstraZeneca, salah satu merk vaksin yang digunakan pemerintah dalam program vaksinasi nasional, menawarkan perlindungan tingkat tinggi dari varian delta. Dua dosis vaksin AstraZeneca, dapat mencegah risiko rawat inap akibat varian delta hingga 92 persen, dan bahkan tidak ada kematian di antara mereka yang divaksinasi.

Sementara itu, dua dosis lengkap Sinovac bisa menurunkan penularan COVID-19 hingga 94 persen, mencegah 96 persen perawatan Rumah Sakit dan menghindari kematian hingga 98 persen.

PHE juga menyampaikan hasil penelitian terkait vaksin jenis Pfizer-BioNTech. Vaksin yang rencananya mulai bulan depan juga akan masuk ke Indonesia ini, dua dosis vaksin Pfizer-BioNTech, 96 persen terhindar dari rawat inap tanpa kematian. Vaksin jenis ini juga diklaim 88 persen efektif melawan COVID-19 bergejala yang disebabkan oleh varian Delta dua minggu setelah dosis kedua.

Pemerintah terus bekerja keras untuk mendatangkan vaksin guna mempercepat pelaksanaan program vaksinasi nasional. Di Agustus ini, Indonesia akan kedatangan 70 juta dosis vaksin. Stok vaksin yang ada di daerah bisa mencapai 80 juta dosis, sehingga diharapkan 2 juta vaksin di Agustus itu bisa tercapai.

"Yang perlu diingat adalah vaksin melatih kekebalan tubuh kita sehingga tercipta pasukan yang siap sedia dan dengan cepat melawan virus COVID-19 di tubuh kita. Potensi tertular akan tetap ada. Maka pelonggaran pembatasan sosial masyarakat harus digantikan dengan disiplin protokol kesehatan 3M (menjaga jarak, memakai masker, dan mencuci tangan) dalam menghadapi virus dan varian baru COVID-19," pungkas Nadia.

Baca juga: Presiden ingin penanganan COVID-19 di Kudus dan Tasik jadi contoh

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebutkan jumlah pasien yang telah dinyatakan sembuh dari COVID-19 pada hari Senin mengalami penambahan sebanyak 29.925 pasien.

Dari data tersebut Jawa Barat menjadi daerah dengan pasien yang sembuh paling banyak, yakni sebanyak 4.157 pasien disusul oleh Jawa Tengah sebanyak 4.115 pasien.

Jawa Timur menempati posisi ketiga dengan jumlah pasien sembuh sebanyak 3.784 pasien. Sedangkan posisi keempat ditempati oleh Kalimantan Timur dengan total pasien sebanyak 1.892 pasien.

Posisi kelima ditempati oleh Riau dengan jumlah pasien sembuh sebanyak 1.684 pasien. Jumlah spesimen yang telah diperiksa pada hari Senin ada sebanyak 129.010 spesimen.

Baca juga: Ketua DPR tegaskan sektor kesehatan kunci pemulihan ekonomi

Baca juga: Penerima vaksin COVID-19 dosis lengkap capai 27.793.556

Baca juga: Bamsoet-Jokowi bahas percepatan penanganan COVID-19
Pewarta : Ida Nurcahyani
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021