Industri keramik modernisasi teknologi di tengah pandemi COVID-19

Industri keramik modernisasi teknologi di tengah pandemi COVID-19

Presiden Direktur PT Surya Toto Indonesia Tbk Hanafi Atmadireja saat memberi sambutan pada acara Monitoring dan Evaluasi penerapan Izin Operasional dan Mobilitas Kegiatan Industri (IOMKI) di pabrik milik Toto di Cikupa, Tangerang, Banten. ANTARA/Sella Panduarsa Gareta/am.

Jakarta (ANTARA) - Industri keramik milik PT Surya Toto Indonesia Tbk (STI) tengah memodernisasi salah satu dari tujuh pabrik miliknya di Cikupa, Tangerang, Banten, dengan nilai investasi sebesar Rp381 miliar.

"Tahun ini pabrik Cikupa dalam proses modernisasi teknologi di pabrik 1, yaitu pabrik yang paling lama. Nanti akan diubah untuk mengekspor 216.000 buah produk saniter per tahun," kata Presiden Direktur STI Hanafi Atmadireja di Cikupa, Kabupaten Tangerang, Banten, Selasa.

Hanafi memaparkan ketujuh lini pabrik Toto di Cikupa menghasilkan sebanyak dua juta buah produk saniter dengan 400 jenis setiap tahunnya.

Adapun 70 persen dari kapasitas produksi itu akan memenuhi kebutuhan dalam negeri, sementara 30 persen lainnya diekspor ke 33 negara.

Saat PPKM diberlakukan, Hanafi mengatakan bahwa utilitas sempat mengalami penurunan 20 persen menjadi 80 persen, namun hal itu juga dipengaruhi adanya upaya modernisasi sehingga lini produksi ditutup.

Baca juga: PPKM sebabkan utilitas produksi keramik hingga plastik turun

Kendati demikian, Hanafi optimistis masih banyak peluang pasar saniter di Indonesia yang belum tergarap. Sehingga, Toto sangat optimistis modernisasi yang dilakukan akan sangat baik untuk perusahaan.

"Indonesia pasarnya 260 juta penduduk, jadi kami optimistis untuk mengisi pasar dalam negeri," kata Hanafi.

Pada kesempatan itu, Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Muhammad Khayam mengapresiasi Toto karena sebagai penerima Izin Operasional dan Mobilitas Kegiatan Industri (IOMKI), Toto menerapkan protokol kesehatan dengan baik.

"Kami apresiasi karena penerapan prokes yang dilakukan semakin detil, bahkan telah dibuat sistem ketika ada yang terpapar. Jadi, 6M (Mencuci Tangan, Memakai Masker, Menjaga Jarak, Menjauhi Kerumunan, Mengurangi Mobilitas, Menjaga Pola Makan Sehat) dan 3T (Testing, Tracking Treatment) sudah dijalankan dengan baik," ujar Khayam.

Khayam menyebut bahwa penerapan prokes di lingkungan pabrik menjadi kunci agar pabrik dapat terap berproduksi di tengah pandemi COVID-19.

Baca juga: Kemenperin: Industri kian detail terapkan protokol kesehatan

Pewarta : Sella Panduarsa Gareta
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2021