Universitas Pertamina kembangkan purwarupa pengolahan limbah tekstil

Universitas Pertamina kembangkan purwarupa pengolahan limbah tekstil

Dokumentasi. Petugas membandingkan air limbah batik (kiri) dengan air hasil proses penguraian dari limbah batik (kanan) di Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di Kampung Batik Kauman, Pekalongan, Jawa Tengah, Rabu (28/11/2018). ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra/foc.

Jakarta (ANTARA) - Peneliti Universitas Pertamina mengembangkan purwarupa alat pengolahan limbah industri tekstil menggunakan teknik penyerapan dan koagulasi yang dapat menurunkan kadar kekeruhan air limbah.

Ketua tim peneliti Nona Merry Merpati Mitan mengatakan teknik pengolah limbah itu merupakan tepat guna yang mudah digunakan oleh pengrajin batik skala rumah tangga.

"Alat pengolah limbah yang tersedia di pasaran harganya sangat mahal. Kami berharap inovasi ini akan terus dikembangkan dan diproduksi untuk dapat membantu para pelaku industri batik kecil-menengah,” kata Merry dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah sungai yang tercemar berat mencapai 45 persen di Indonesia.

Sedangkan sungai-sungai di ibu kota negara terdapat 57 persen berisikan sampah dan 8,2 persennya merupakan limbah tekstil versi National Geograpic.

Merry menyampaikan limbah yang mengalir di sepanjang sungai mengancam kehidupan biota dan berbahaya bagi kesehatan manusia mulai dari penyakit kulit hingga potensi penyakit kanker, jika air yang tercemar limbah dikonsumsi.

Pada 2019, tim peneliti Universitas Pertamina berkesempatan mengunjungi kawasan industri batik skala rumah tangga di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat.

Dalam penelitian lapangan tersebut, mereka mewawancarai beberapa pengrajin batik yang meminta ada pengolahan limbah cair tekstil agar industri batik tetap bisa menjaga kualitas air di daerah tersebut.

Berangkat dari temuan itu, maka Universitas Pertamina mengembangkan purwarupa pengolah limbah cair batik.

Edukasi terkait bahaya limbah cair batik bagi lingkungan dan kesehatan, lanjut Merry, juga terus dilakukan kepada para pengrajin batik untuk membangun kesadaran dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Mereka juga bekerja sama dengan Pemerintah Kota Tasikmalaya dalam menangani masalah pencemaran akibat limbah tekstil.

"Perlahan upaya ini dapat membantu mengurangi pencemaran sungai di Indonesia," ujar Merry.

Para peneliti juga melibatkan mahasiswa mereka dalam pembuatan purwarupa alat pengolah limbah, salah satu Desi Fitriana yang kuliah di jurusan Kimia Universitas Pertamina.

"Kami dapat secara langsung mempraktikan pembelajaran yang kami dapatkan di kelas dan praktikum yang rutin kami lakukan di laboratorium. Selain meningkatkan pemahaman, kami juga jadi lebih siap untuk terjun ke industri setelah lulus nanti,” kata Desi.

Baca juga: Universitas Pertamina kembangkan software pengolahan data seismik
Baca juga: BPPT ingatkan pentingnya pengolahan limbah baterai kendaraan listrik
Baca juga: KKP dorong riset pemanfaatan limbah pengolahan komoditas rumput laut

 
Pewarta : Sugiharto Purnama
Editor: Biqwanto Situmorang
COPYRIGHT © ANTARA 2021