Aplikasi karantina ikan KKP raih 5 besar inovasi pelayanan publik

Aplikasi karantina ikan KKP raih 5 besar inovasi pelayanan publik

Ilustrasi - Pelaku usaha perikanan menunjukkan aplikasi Si Chupang yang merupakan inovasi dari Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Mataram, NTB. ANTARA/HO-KKP

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengapresiasi keberhasilan Aplikasi Cukup Mudah dan Gampang (Si Chupang) dari Balai Karantina Ikan Mataram NTB terpilih dalam jajaran lima besar Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (KIPP) 2021.

"Alhamdulillah, setelah bersaing dengan puluhan inovasi lain, Si Chupang terplih masuk jajaran 5 besar (Kategori Replikasi Inovasi Pelayanan Publik)," kata Kepala Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) KKP, Rina, dalam siaran pers di Jakarta, Jumat.

Rina mengungkapkan melalui pemanfaatan Si Chupang, kondisi geografis Nusa Tenggara Barat yang terbentang dari Pulau Lombok dan Sumbawa serta pulau-pulau kecil lainnya, kini bukan jadi penghalang bagi pelaku usaha yang ingin memperluas akses pasar produknya.

Hal tersebut, lanjutnya, karena para pengguna jasa tersebut tak perlu ke Kantor BKIPM Mataram untuk mendapatkan pelayanan. Aplikasi Si Chupang bisa diunduh di Playstore.

"Tentu ini bukti, pengabdian dan pelayanan optimal, akan mendapatkan hasil yang maksimal," ujarnya.

Dikenalkan sejak 2019, aplikasi ini berhasil memangkas waktu layanan dari 1 - 4 hari menjadi hanya sekitar 30 menit.

Rina menuturkan dampak aplikasi ini diantaranya peningkatan ekspor, dari yang semula 148 frekuensi pengiriman menjadi 271 atau naik sebesar 83,11 persen.
Sedangkan nilai ekspor yang dihasilkan pun meningkat, lanjutnya, yaitu dari yang mulanya Rp20,6 miliar menjadi Rp66,8 miliar, atau naik sebesar 223,97 persen. Kemudian pengiriman domestik juga turut meningkat, dari 19.067 menjadi 22.869 frekuensi pengiriman, naik sebesar 19,94 persen.

"Nilainya naik dari Rp1,30 triliun menjadi Rp1,39 triliun atau naik sebesar 7,13 persen," paparnya.

Dari sisi penerbitan sertifikat CKIB (Cara Karantina Ikan yang Baik) juga meningkat 72,73 persen dan sertifikat HACCP naik 21,05 persen sejak penggunaan aplikasi ini. Sementara sertifikat CPIB dari 8 menjadi 29 sertifikat, naik sebesar 262,5 persen.

Dampaknya pun peningkatan PNBP dari Rp545 juta menjadi Rp660 juta, atau naik sebesar 21,01 persen, dan tingkat kepuasan masyarakat terhadap BKIPM Mataram dari yang mulanya 86,25 menjadi 96,13.

Sementara Kepala Balai KIPM Mataram, Suprayogi mengaku bersyukur dengan capaian ini. Dia pun mengapresiasi kerja keras jajarannya dalam penyempurnaan sekaligus layanan Si Chupang, seperti sertifikasi lalu lintas komoditas perikanan, pengujian penyakit Ikan karantina, sertifikasi Cara Karantina Ikan yang Baik (CKIB), sertifikasi Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) dan pembayaran online Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).

"Akses layanan Si Chupang terdiri dari akses untuk umum dan akses untuk internal Balai KIPM Mataram," katanya.

Tak hanya itu, ujar dia, aplikasi SI Chupang juga memuat profil pengguna jasa dengan user name dan password masing-masing, sehingga memudahkan pengguna jasa dalam pelayanan sertifikasi. Kemudian notifikasi di layar handphone juga dikirim, secara real time, serta terdapat layanan 24 jam dengan chat yang terhubung langsung melalui aplikasi whatshapp.

Baca juga: KKP berupaya pertahankan layanan sertifikasi tetap prima
Baca juga: Balai Karantina sosialisasi UU karantina hewan, ikan dan tumbuhan
Baca juga: Badan Karantina Ikan perlu sidak antisipasi kasus ekspor China
Pewarta : M Razi Rahman
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2021