Kemenhub upayakan konektivitas multimoda di Papua

Kemenhub upayakan konektivitas multimoda di Papua

Direktorat Lalu Lintas Angkutan Laut melakukan trobosan mengoptimalkan kapal tol laut dengan memperluas jangkauan hingga daerah pegunungan Papua yaitu dengan multimoda  bekerjasama angkutan darat dan udara. ANTARA/HO-Kemenhub.

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengupayakan terwujudnya konektivitas multimoda yaitu tol laut, subsidi darat hingga jembatan udara di wilayah Papua dan Papua Barat.

"Bahwa Kementerian Perhubungan secara intensif melakukan dukungan kepada Papua dan Papua Barat dan kerja sama dengan berbagai pihak untuk mewujudkan konektivitas multimoda," kata Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dalam webinar "Transportasi Ujung Tombak Pembangunan Papua" pada Selasa.

Budi Karya mengatakan konektivitas multimoda transportasi sangat dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang merata. Hal itu bergantung pada jalur distribusi yang memadai, ditunjukkan dengan integrasi jaringan jalan yang ada di Papua, dengan simpul-simpul transportasi yang tersedia.

“Dukungan Kementerian Perhubungan dengan memberikan pengembangan subsidi jembatan udara, pengembangan bandara udara, sistem integrasi pelabuhan tol laut, keperintisan darat, sungai, dan penyeberangan serta pembangunan segmen Trans Papua,” ujarnya.

Di sisi lain, perekonomian di Papua masih terkendala oleh tingginya harga bahan pokok dan barang lainnya yang disebabkan oleh kondisi geografis Papua, sehingga menjadi tantangan dalam peningkatan konektivitas infrastruktur di wilayah tersebut.

Menhub menilai diperlukan peningkatan kapasitas dan konektivitas infrastruktur jalan yang menghubungkan antar simpul transportasi serta pusat-pusat pertumbuhan dan permukiman penduduk.

Ia menambahkan pemerintah pusat memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Papua pada 2022 di angka 5,2 – 5,7 persen. Hal itu sejalan dengan adanya pembangunan infrastruktur di Papua dan Papua Barat yang terus diperkuat.

“Ekonomi Papua pada 2022 diproyeksikan tumbuh 5,2 - 5,7 persen. Oleh karena itu perlu diambil langkah-langkah solusi isu strategis terkait dengan produktivitas dan pemerataan infrastruktur,” pungkasnya.

Baca juga: Pengamat optimistis PON berdampak positif bagi transportasi Papua
Baca juga: Transportasi dan kemiskinan masyarakat pedalaman Wondama
Baca juga: KM Fajar Mulai layani transportasi murah wisata Raja Ampat
Pewarta : Adimas Raditya Fahky P
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2021