BMKG: Warga Sulteng jangan terprovokasi informasi hoaks fenomena alam

BMKG: Warga Sulteng jangan terprovokasi informasi hoaks fenomena alam

Ilustrasi - Penjelasan perkembangan cuaca oleh petugas dari BMKG. ANTARA/Norjani/am.

Palu (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengimbau warga Provinsi Sulawesi Tengah jangan sampai terprovokasi informasi tidak benar atau hoaks tentang fenomena alam yang lebih spesifik terhadap kondisi cuaca saat ini.

Kepala BMKG Stasiun Geofisika Palu Nur Alim yang dihubungi di Palu, Jumat mengatakan, informasi beredar di tengah masyarakat saat ini tentang fenomena Aphelion yang katanya letak bumi sangat jauh dari matahari berlaku mulai hari ini hingga Agustus mendatang sehingga menimbulkan cuaca ekstrim, tidak benar adanya.

Selain itu, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) juga telah menegaskan bahwa informasi tersebut juga tidak benar.

"Secara umum, di Indonesia beriklim tropis tetap ada sinar matahari yang selalu menghangatkan permukaan bumi. Fenomena tersebut tidak berdampak langsung pada cuaca di Sulteng," ujar Nur Alim.

Karena itu, ia mengimbau warga lebih cermat mengelola informasi yang beredar di media sosial, khususnya menyangkut fenomena alam, supaya tidak menimbulkan kepanikan berlebihan yang justru dapat membahayakan diri sendiri.

Baca juga: BMKG sebut fenomena Aphelion tidak berdampak ke bumi

Baca juga: BMKG: Fenomena "aphelion" tidak pengaruhi suhu Indonesia

"Masyarakat tidak perlu cemas, karena cuaca di Sulteng masih normal. Kita harus bijak melihat informasi, mana yang betul-betul bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, dan mana informasi yang hanya memprovokasi," tutur Nur Alim.

Ia mengemukakan, berdasarkan analisis BMKG seperti tahun-tahun berlalu cuaca di provinsi ini masih wajar, yang mana pada Bulan Juni-Juli 2021 wilayah Sulteng masih memiliki curah hujan yang cukup tinggi namun tetap bersifat normal.

Perlu di waspadai saat ini, yakni masyarakat yang bermukim di bantaran sungai dan lereng-lereng gunung sebab hujan masih cukup intens yang dapat memicu terjadinya banjir dan tanah longsor, apalagi di satu wilayah memiliki riwayat pernah dilanda banjir bandang.

"Seharusnya potensi banjir dan tanah longsor kita waspadai dengan meningkatkan mitigasi secara mandiri. Menghadapi situasi darurat di butuhkan ketenangan diri supaya tidak gegabah mengambil tindakan," ucap Nur Alim.

Ia menambahkan, kondisi cuaca di Sulteng tidak seperti cuaca pada umumnya di daerah-daerah lain, sebab daerah ini tergolong unik karena masuk kategori cuaca non zoom sehingga sering turun hujan meskipun belum masuk di musim hujan atau pancaroba.

Prakiraan cuaca BMKG untuk tiga hari ke depan berlaku mulai 16-18 Juni wilayah Provinsi Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulteng, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Maluku, Maluku Utara dan Papua Barat serta Papua masih diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang.

"Ancaman banjir, tanah longsor, pohon tumbang dan sebagainya perlu kita antisipasi sejak dini, supaya tidak menimbulkan kerugian harta benda dan korban jiwa," demikian Nur Alim.

Baca juga: BMKG sebut fenomena di Jeneponto adalah 'water spout'

Baca juga: BMKG: Fenomena alam "waters pout" di Manokwari bahaya bagi nelayan

 
Pewarta : Mohamad Ridwan
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021