Pedagang ikan hias di Tulungagung sulit dapat oksigen

Pedagang ikan hias di Tulungagung sulit dapat oksigen

Pekerja memasukkan ikan koi (Cyprinus rubrofuscus) ke dalam kantomg plastik yang diberi oksigen di sentra budidaya ikan koi Tulungagung, Jawa Timur, Selasa (13/7/2021). (ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko)

Tulungagung, Jatim (ANTARA) - Sejumlah pedagang ikan hias yang biasa mengirim paketan ikan hias ke berbagai daerah di Indonesia mulai mengeluhkan dampak kelangkaan oksigen yang saat ini terkonsentrasi untuk kebutuhan medis.

"Tanpa oksigen, ikan-ikan yang dikirim tidak bisa bertahan lama dalam kantung plastik tertutup," terang Moh Majid Makruf, pembudidaya sekaligus pedagang ikan hias asal Desa Bendiljati Wetan, Tulungagung, Jawa Timur, Selasa.

Ia saat ini hanya bisa mengandalkan oksigen cadangan yang masih tersisa. Banyak pedagang ikan lain yang saat ini kelimpungan tak bisa mengirim pesanan ikan hias karena tak mendapat pasokan oksigen dari agen dan pangkalan.

Di agen pengisian oksigen di Tamanan, misalnya, sejumlah pedagang dan suplier ikan banyak yang harus balik kanan dengan tabung tetap kosong.

Pihak agen pengisian oksigen kini banyak menolak mengisi tabung oksigen untuk komersil karena difokuskan untuk memenuhi kebutuhan oksigen medis. Baik dari rumah sakit, puskesmas, RSDC, mau pun permintaan warga yang menjalani isolasi mandiri di rumah.

"Prioritasnya sementara, terutama selama PPKM darurat ini adalah untuk memenuhi kebutuhan oksigen medis. Semua harus bersabar dan memaklumi situasi yang berkembang saat ini. Ini demi kemanusiaan," ujar Meme, pemilik agen pengisian oksigen di selatan simpang empat Tamanan, Kota Tulungagung.
Pekerja mengisikan gas oksigen ke dalam kantomg plastik berisi ikan ikan koi (Cyprinus rubrofuscus) di sentra budidaya ikan koi Tulungagung, Jawa Timur, Selasa (13/7/2021). Meningkatnya kebutuhan O2 untuk medis secara tidak langsung telah mempengaruhi penjualan ikan-ikan hias ke luar daerah karena minimnya jatah pasokan oksigen untuk komersil atau nonmedis. ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko (ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko)

Akibat kelangkaan oksigen ini, pedagang cenderung menahan pengiriman. Sebagian masih ada yang berhasil memperoleh oksigen dari agen atau pangkalan, namun harganya saat ini juga sudah melambung dua kali lipat.

Menurut pengakuan Majid, oksigen untuk tabung ukuran satu kubik yang biasanya dihargai Rp45 ribuan, kini telah naik menjadi Rp75 ribu.

Sementara oksigen untuk tabung ukuran enam kubik yang biasanya hanya Rp75 ribu, kini telah dinaikkan menjadi Rp200 ribu. Itu pun sangat sulit didapat.

"Biaya kirim menjadi lebih mahal dengan harga oksigen yang naik dua kali lipat begini," katanya.

Di Tulungagung, pedagang dan suplier ikan seperti Majid Makruf ada puluhan. Produk ikan hias yang dijual dan dikirim ke luar daerah seperti jenis ikan koi, mas Koki, Osar dan sebagainya.

Ikan-ikan hias yang dikemasi dalam wadah plastik transparan itu diisi air seperempat wadah, diberi obat penenang agar ikan tidak mabuk, lalu diisi oksigen agar ikan yang ada di dalamnya bisa bertahan hingga 24 jam.

Jika tujuannya jauh, pedagang biasanya menyediakan oksigen cadangan untuk pengisian ulang saat diperjalanan. (*)
Pewarta : Destyan H. Sujarwoko
Editor: Adi Lazuardi
COPYRIGHT © ANTARA 2021