Suami Istri yang tak lagi bekerja bisa jalani operasi berkat JKN-KIS

Suami Istri yang tak lagi bekerja bisa jalani operasi berkat JKN-KIS

Seorang warga Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, menunjukkan kartu JKN-KIS yang membantu meringankan beban biaya pengobatan di rumah sakit. (ANTARA/Akhmad Nazaruddin Lathif)

Jepara (ANTARA) - Pasangan suami istri asal Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, merasakan manfaat program JKN-KIS karena saat mereka berdua tidak lagi bekerja masih bisa menjalani pengobatan dan operasi di rumah sakit tanpa harus mengeluarkan biaya.

"Awalnya sebagai pekerja di rumah makan sate kambing, lantas menganggur dan hanya sesekali menerima pekerjaan ketika ada yang membutuhkan dalam hal menyajikan aneka masakan serta membantu membersihkan rumah saudaranya dengan honor yang tidak banyak," kata Romlah, salah satu pemegang kartu JKN-KIS asal Desa Kelet, Kecamatan Keling, Jepara, Selasa.

Sementara suaminya hanya pekerja bangunan yang menunggu ketika ada permintaan untuk membangun rumah atau lainnya. Sedangkan awal masa pandemi proyek bangunan cenderung lesu sehingga praktis tidak ada aktivitas kerja.

"Kami berdua sama-sama memiliki riwayat penyakit. Saya sendiri memiliki penyakit benjolan di bagian dada dan setelah diperiksa divonis kanker payudara," ungkapnya.

Baca juga: Peserta JKN-KIS tidak terbebani pembiayaan perawatan kesehatan di RS

Baca juga: Mahasiswa peserta JKN-KIS apresiasi kemudahan pelayanan kesehatan


Awalnya, kata perempuan kelahiran bulan Juni 1963 itu, dirinya tidak memiliki niat mendaftarkan diri sebagai peserta JKN-KIS pada tahun 2019 karena tidak memiliki penghasilan yang cukup, mengingat untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari saja masih kurang.

Untuk membayar iuran bulanan, dia menyatakan tidak akan mampu. Setelah mendapat masukan dari saudara-saudaranya akhirnya dirinya didaftarkan sebagai peserta JKN-KIS kelas II oleh anaknya, termasuk iuran bulanannya juga ditanggung.

Setelah memiliki kartu JKN-KIS, akhirnya memberanikan diri untuk periksa kesehatan baik dirinya maupun suaminya.

Pertama kali periksa, suaminya karena mengalami keluhan benjolan yang semakin membesar di bagian leher. Selanjutnya diambil tindakan operasi di RSUD Rehatta Kelet dan dilanjutkan kemoterapi di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang.

Setelah selesai kemoterapi, giliran dirinya yang harus masuk ke meja operasi di RSUD Rehatta Kelet. Ternyata harus diulang tindakan serupa di RS Ken Saras Ungaran Kabupaten Semarang, termasuk kemoterapinya juga di rumah sakit yang sama.

"Hingga saat ini, saya masih menjalani kemoterapi di RS Ken Saras karena rencananya berlangsung selama 35 kali," ujarnya.

Ia mengakui tidak bisa membayangkan jika harus menanggung biaya semua tindakan medis tersebut, sedangkan dirinya sejak tidak bekerja di rumah makan hanya membantu membersihkan rumah saudaranya serta kerja tambahan ketika ada hajatan. Kalaupun ada pemasukan tentunya tidak cukup untuk membiayai operasi dirinya dengan suaminya.

"JKN-KIS sungguh sangat membantu, terutama bagi warga yang tidak memiliki penghasilan tetap seperti saya, dan mengimbau agar masyarakat yang belum menjadi peserta JKN-KIS agar segera mendaftarkan diri beserta keluarga sebelum sakit." ujarnya.*

Baca juga: Kehadiran program JKN-KIS dinilai memiliki banyak manfaat

Baca juga: BPJS Kesehatan kembangkan jaringan ekosistem kesehatan digital
Pewarta : Akhmad Nazaruddin
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2021