Merkel tekan negara bagian Jerman untuk tegas soal pembatasan COVID

Merkel tekan negara bagian Jerman untuk tegas soal pembatasan COVID

Para komuter tiba dari Polandia dan berdiri di samping perbatasan Jerman-Polandia saat mereka menunggu giliran untuk tes penyakit virus corona (COVID-19), di Frankfurt (Oder), Jerman, Senin (22/3/2021). ANTARA FOTO/REUTERS/Hannibal Hanschke/hp/cfo

Berlin (ANTARA) - Kanselir Angela Merkel, Minggu (28/3), menekan pemerintah negara-negara bagian Jerman untuk meningkatkan upaya mengekang penyebaran infeksi virus corona yang meningkat dengan cepat.

Merkel juga menekan mereka untuk mempertimbangkan memberlakukan jam malam guna mengendalikan gelombang ketiga COVID-19.

Merkel menyatakan tidak puas bahwa beberapa negara bagian memilih untuk tidak menghentikan pembukaan kembali ekonomi secara bertahap, bahkan ketika jumlah infeksi per 100.000 orang selama tujuh hari telah meningkat di atas 100 orang. Ukuran tersebut sebenarnya telah disepakati oleh dia dan para pemimpin negara bagian pada awal Maret.

"Kita punya rem darurat ... sayangnya, itu tidak dihormati di mana-mana. Saya berharap ada gerakan tentang ini," kata Merkel.

Infeksi virus corona telah meningkat pesat dalam beberapa minggu terakhir, didorong oleh jenis virus yang lebih mudah menular.

Kepala staf Merkel memperingatkan pada Minggu bahwa negara itu berada dalam fase pandemi paling berbahaya dan harus menekan virus sekarang juga. Jika tidak, katanya, Jerman akan menghadapi kemungkinan mutasi berbahaya yang kebal terhadap vaksin.

Pada Minggu, kasus virus corona per 100.000 naik menjadi 130 dari 104 minggu lalu.

Jumlah total kasus virus corona yang dikonfirmasi di Jerman bertambah 17.176 menjadi 2.772.401 kasus, menurut data Robert Koch Institute (RKI) untuk penyakit menular, Minggu.

Korban jiwa yang dilaporkan naik 90 menjadi 75.870 orang, penghitungan menunjukkan.

Peluncuran vaksinasi Jerman dimulai dengan lambat karena terkendala pasokan.

Hingga Minggu, 10,3 persen dari populasi negara itu sudah menerima setidaknya suntikan dosis pertama vaksin COVID-19. Persentase itu jauh di belakang beberapa negara lain, seperti Israel, Amerika Serikat, dan Inggris.

Merkel mengatakan bahwa jika negara tidak segera mulai menerapkan langkah-langkah secara serius, dia harus mempertimbangkan langkah-langkah apa yang dapat diambil secara nasional.
 
Salah satu opsinya adalah mengubah Undang-Undang Perlindungan Infeksi untuk menetapkan target-target di bawah skenario tertentu, kata Merkel,

Ia menambahkan bahwa pemerintah pusat dan negara bagian wajib menahan laju infeksi.

Tempat-tempat usaha mungkin juga harus menerapkan tes COVID-19  terhadap staf, yang tidak dapat bekerja dari rumah, kalau mereka tidak dapat melakukannya sendiri, katanya. 

Merkel mengatakan dia tidak yakin tindakan yang diambil hingga saat ini sudah cukup untuk memutus gelombang ketiga pandemi.

"Bagaimanapun, saya tidak akan berdiam diri dan membiarkan 100.000 orang terinfeksi," katanya. Ia mengacu pada peringatan Presiden RKI Lothar Wieler bahwa kasus harian dapat melonjak hingga tingkat itu jika pembatasan yang lebih ketat tidak diterapkan.

"Tindakan tambahan apa yang kita butuhkan? ... Kita perlu berbuat lebih banyak. Kita memiliki kemungkinan untuk menerapkan pembatasan bepergian, pembatasan kontak lebih lanjut, pemakaian masker lebih lanjut ... ditambah strategi pengujian di semua tempat: jadi di sekolah dua kali seminggu".

Sumber : Reuters

Baca juga: Jerman pertengahan April terima pengiriman awal vaksin COVID J&J

Baca juga: Infeksi virus corona di Jerman meningkat

Baca juga: Mayoritas warga Jerman tervaksin pada akhir musim panas


 

Varian baru COVID-19 menyebar di Eropa

Pewarta : Azis Kurmala
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2021