Wapres: Pembiayaan penyakit tidak menular paling membebani JKN

Wapres: Pembiayaan penyakit tidak menular paling membebani JKN

Wakil Presiden Ma'ruf Amin memberikan arahan dalam acara puncak peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia Tahun 2021 secara daring dari Jakarta, Rabu (24/3/2021). ANTARA/Asdep KIP Setwapres.

Jakarta (ANTARA) - Wakil Presiden Ma’ruf Amin mengatakan pembiayaan kesehatan untuk pengobatan penyakit tidak menular (PTM) katastropik termasuk kategori yang paling banyak diklaim di program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui BPJS Kesehatan.

"Salah satu proporsi pembiayaan tertinggi dalam JKN ialah pembiayaan penyakit tidak menular (PTM) katastropik. Data BPJS Kesehatan menunjukkan pada 2019, total biaya yang dikeluarkan untuk menangani PTM katastropik mencapai Rp20,27 triliun," kata Wapres Ma’ruf Amin dalam sambutannya pada web seminar Ketahanan dan Kemandirian Kesehatan Indonesia yang diselenggarakan Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia secara daring, Kamis.

Jenis penyakit tidak menular katastropik yang prevalensinya meningkat antara lain hipertensi, dari 25,8 persen menjadi 34,10 persen, dan diabetes melitus (DM) dari 6,9 persen menjadi 10,9 persen.

Menurut Wapres, penyakit tersebut seharusnya dapat dicegah dengan penerapan pola hidup sehat dan bersih di kalangan masyarakat.

Baca juga: Wapres: Pandemi momentum Pemerintah perbaiki sistem layanan kesehatan

Baca juga: Wapres: Klinik BUMN, swasta bantu puskesmas utamakan layanan preventif


"Tingginya biaya kesehatan yang harus ditanggung oleh BPJS Kesehatan disebabkan oleh menurunnya kesadaran masyarakat akan faktor risiko penyakit tidak menular, seperti obesitas, merokok, kurangnya aktivitas fisik, dan rendahnya konsumsi buah dan sayuran," ujarnya.

Tingginya biaya klaim pengobatan PTM katastropik tersebut menunjukkan bahwa keberadaan JKN selama ini masih terpaku pada upaya kuratif dan rehabilitatif.

"Sehingga, masih banyak yang cenderung bertumpu pada rumah sakit dibandingkan dengan memberdayakan masyarakat agar hidup sehat melalui upaya promotif dan preventif," ucapnya.

Oleh karena itu, Wapres mengatakan perlu ada transformasi sistem kesehatan di Indonesia yang mengutamakan pada pemberdayaan masyarakat untuk berperilaku hidup sehat dan bersih.

"Fakta yang disampaikan di atas perlu direnungkan agar dapat menjadi titik balik dalam melakukan transformasi sistem kesehatan di negara kita, yang harus menekankan kepada pemberdayaan masyarakat agar hidup sehat, yang pada dasarnya dapat ditempuh melalui berbagai program upaya promotif dan preventif," ujarnya.*

Baca juga: Wapres minta puskesmas perkuat pelayanan publik

Baca juga: Wapres minta masyarakat lebih banyak dilibatkan pelaksanaan vaksinasi

Pewarta : Fransiska Ninditya
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2021