Yang menjadi soal berikutnya sebelum proses belajar mengajar secara tatap muka dilakukan adalah adanya virus corona jenis baru sehingga ini menjadi pertimbangan penting apakah sekolah akan tetap dibuka
Jayapura (ANTARA) - Dinas Pendidikan, Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Papua mempertimbangkan kembali pembukaan sekolah secara tatap muka pada awal Januari 2021.

Kepala Dinas Pendidikan, Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Papua Christian Sohilait di Jayapura, Rabu, mengatakan pertimbangan ini salah satunya dikarenakan evolusi virus COVID-19 dengan gejala baru.

"Yang menjadi soal berikutnya sebelum proses belajar mengajar secara tatap muka dilakukan adalah adanya virus corona jenis baru sehingga ini menjadi pertimbangan penting apakah sekolah akan tetap dibuka," katanya.

Menurut dia berdasarkan rapat bersama dengan kepala Dinas Pendidikan provinsi se-Indonesia yang dilakukan sebelumnya, akhirnya ada beberapa provinsi yang menarik kembali edaran akan dilakukannya proses belajar mengajar tatap muka.

"Oleh karena itu, kami meminta segera adanya masukan dari Kepala Dinas Pendidikan se-Papua," ujarnya.

Dia menjelaskan pihaknya akan mendorong diterbitkannya satu peraturan berupa edaran gubernur yang mengatur secara umum mengenai proses belajar mengajar secara tatap muka sesuai dengan SK Bersama Kementerian.

"Karena kebijakan di Papua tidak bisa disamaratakan bahwa sekolah semua harus dibuka atau ditutup," katanya.

Dia menambahkan hal ini disebabkan di salah satu sisi angka penularan COVID-19 di Papua terus meningkat dan adanya virus baru yang sedang mengancam.

Sementara jika memaksakan sekolah terus ditutup ada daerah yang tidak dapat dijangkau oleh internet sehingga sangat sulit belajar daring, demikian Christian Sohilait.

Baca juga: Sejumlah 289 anak usia sekolah di Papua positif COVID-19

Baca juga: Disdik Papua klaim 80 persen SMA-SMK-SLB siap dibuka awal 2021

Baca juga: Disdik Papua minta sekolah jangan dibuka jika tidak punya masker

Baca juga: Kasus positif COVID-19 di Papua tembus di atas 10 ribu orang

Pewarta: Hendrina Dian Kandipi
Editor: Andi Jauhary
Copyright © ANTARA 2020