MPR ajak Italia kerja sama bangun sirkuit F1 di Bali

MPR ajak Italia kerja sama bangun sirkuit F1 di Bali

Ketua MPR, Bambang Soesatyo (kiri), menerima Duta Besar Italia untuk Indonesia, Benedetto Latteri, di ruang kerjanya, Jakarta, Selasa. ANTARA/HO-MPR.

Jakarta (ANTARA) - Ketua MPR, Bambang Soesatyo, melalui Duta Besar Italia untuk Indonesia, Benedetto Latteri, mengajak para investor Italia bekerja sama membangun sirkuit balapan Formula 1 (F1) di Bali.

Soesatyo menilai Bali merupakan destinasi wisata nomor satu di Indonesia, dan juga telah memiliki reputasi pariwisata terbaik di dunia sehingga pembangunan sirkuit F1 di daerah tersebut sangat menjanjikan.

"Baik dari sisi investor karena potensi pasarnya sudah sangat jelas, maupun dari sisi masyarakat Bali sebagai pengembangan potensi ekonomi dan daerah," kata dia, di Jakarta, Selasa.

Hal itu dia katakan usai menerima Latteri, di ruang kerja ketua MPR, Jakarta, Selasa.

Baca juga: Ketua MPR uji coba sirkuit F1 Istambul Park Turki

Ia mengatakan, ke depan bisa dikerjasamakan lahan pemerintah daerah seijin gubernur Bali yang sangat strategis, yaitu sekitar 200 Hektare untuk pembangunan sirkuit F1 di Bali.

Ia menilai, Italia, sebagai negara yang memiliki industri otomotif terbesar dunia seperti Ferrari, Lamborghini, dan Maserati, punya peluang besar bekerja sama mengembangkan industri otomotif di Indonesia, salah satunya dengan membangun sirkuit F1.

Menurut dia, pertumbuhan pecinta otomotif di Indonesia sangat pesat, misalnya dalam setahun, tidak kurang dari 1.600 acara otomotif digelar di berbagai daerah.

"Bahkan setiap pagelaran F1 di Singapura, Singapore Tourism Board selalu menargetkan sedikitnya 5.000 penonton dari Indonesia. Itu menunjukkan betapa besarnya kecintaan warga Indonesia terhadap F1," ujarnya.

Baca juga: Ferrari ingin Sirkuit Mugello tuan rumah balapan ke-1000 mereka di F1

Menurut dia, akses penerbangan internasional dari dan menuju Bali sudah sangat banyak, menjangkau berbagai negara besar dunia. Sehingga memudahkan pecinta F1 dari berbagai negara untuk datang menyaksikan F1 di Bali.

Ia menjelaskan, penyelenggaraan F1 di berbagai negara bisa mendatangkan keuntungan hingga triliunan rupiah, misalnya perusahaan akuntan global PriceWaterhouseCoopers memperkirakan Azerbaijan mendapatkan keuntungan ekonomi mencapai 506.000.000 dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp7 triliun selama empat tahun menyelenggarakan F1.

"Sebagai langganan tuan rumah yang rutin menyelenggarakan balapan F1, Italia tentu telah memiliki segudang pengalaman seperti dalam pembangunan sirkuit hingga manajemen penyelenggaraan agar mendapatkan keuntungan maksimal. Karena itu tidak salah jika kita mengajak Italia untuk bekerjasama, Duta Besar pun menyambutnya dengan antusias," katanya.

Baca juga: F1 resmi masukkan Sirkuit Mugello dan Sochi di revisi kalender 2020

Ia menilai, sudah selayaknya Indonesia memiliki sirkuit F1, melengkapi pembangunan sirkuit Mandalika yang akan digunakan untuk Moto GP.

Hal itu menurut dia karena negara tetangga di skala ASEAN sudah memiliki sirkuit untuk balapan F1 misalnya Malaysia dengan Sirkuit Sepang, Singapura dengan Sirkuit Jalan Raya Marina Bay, dan Viet Nahm dengan Sirkuit Jalanan Hanoi.

"Sebagai negara terbesar dari segi luas wilayah, jumlah penduduk, maupun kekuatan ekonomi, Indonesia sepatutnya sudah bisa membuat Sirkuit F1. Bali adalah pilihan terbaik," ujarnya.

Ia menilai, selain karena kondisi sosial masyarakat yang mendukung, para pecinta F1 tidak akan keberatan datang ke Bali karena bisa menonton keseruan balapan, setelah itu menikmati berbagai destinasi wisata alam dan budaya di Pulau Dewata.

Baca juga: PM Mahathir siap menggelar lagi F1 di Malaysia

Pewarta : Imam Budilaksono
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2020