Ada gerhana bulan penumbra, Lapan sebut tak khawatirkan pelayaran

Ada gerhana bulan penumbra, Lapan sebut tak khawatirkan pelayaran

Dokumentasi - Perahu nelayan melintas saat pulang melaut dilatari matahari terbenam, di perairan pantai Padang, Sumbar, Rabu (10/9/2014). Menurut nelayan, bulan terang atau purnama membuat tangkapan ikan mereka berkurang karena gelombang tinggi pasang laut. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/ss/pd/aa.

Jakarta (ANTARA) - Peneliti astronomi dan astrofisika Pusat Sains Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Rhorom Priyatikanto mengatakan dampak dari fenomena gerhana bulan penumbra pada akhir November 2020 tidak mengkhawatirkan bagi pelayaran.

"Tidak ada yang mengkhawatirkan pelayaran, kecuali bila ada peringatan gelombang tinggi karena cuaca ekstrem," kata Rhorom dihubungi di Jakarta, Kamis.

Gerhana bulan penumbra terjadi ketika purnama di mana ada bagian piringan bulan yang tidak tersinari penuh oleh matahari. Bumi menghalangi sebagian cahaya Matahari tersebut. Itu menyebabkan 83 persen piringan bulan tampak "sedikit" lebih gelap.

Baca juga: Pakar: Gerhana bulan penumbra dan hujan tinggi bisa perparah banjir

Puncak gerhana bulan penumbra terjadi pada 30 November pukul 16.44 WIB.

"Saat puncak, lautan di Indonesia sedang berada pada fase surut," ujar Rhorom.

Beberapa hari sebelumnya yakni pada 27 November 2020, bulan berada di titik terjauhnya dari bumi. Itu berarti pasang-surut saat itu bukan yang tertinggi.

Oleh karena itu, Rhorom menuturkan dampak bulan purnama atau gerhana bulan tidak mengkhawatirkan. Namun, perlu diwaspadai ada kemungkinan cuaca ekstrem akhir November 2020.

Baca juga: Astronom: Pengamatan gerhana bulan penumbra butuh bantuan alat

Sementara itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah memberikan informasi tentang potensi cuaca ekstrem sepekan ke depan di Indonesia yakni pada 21-27 November 2020.

Berdasarkan informasi di laman resminya, BMKG memprakirakan dalam periode sepekan ke depan potensi cuaca ekstrem dan hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang berpotensi terjadi di beberapa wilayah yakni Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu.

Baca juga: Indonesia sedang buat tiga PP dukung kemajuan keantariksaan

Selain itu Kepulauan Bangka Belitung, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Gorontalo, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Maluku, Papua Barat dan Papua.

Oleh karena itu masyarakat diimbau tetap waspada dan berhati-hati terhadap potensi cuaca ekstrem seperti puting beliung, hujan lebat disertai kilat/petir dan hujan es dan dampak yang dapat ditimbulkannya seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, pohon tumbang dan jalan licin.

Baca juga: Lapan targetkan roket sonda dua tingkat diluncurkan 2024

Baca juga: Lapan kembangkan satelit konstelasi bantu sistem peringatan dini

 
Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2020