Vaksin COVID-19 harus dijaga suhunya sangat dingin melebihi antartika

Vaksin COVID-19 harus dijaga suhunya sangat dingin melebihi antartika

Ilustrasi (Pixabay)

Jakarta (ANTARA) - Ada satu tantangan jika nantinya Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menyetujui vaksin COVID-19, yakni menjaga suhunya sangat dingin.

Seperti dikutip dari laman NPR, Rabu, vaksin dari Pfizer harus dijaga agar tetap berada di suhu minus 70 derajat Celcius, yang bahkan lebih dingin daripada musim dingin di Antartika. Sementara vaksin dari Moderna harus dijaga suhunya berada di minus 20 Celcius, kurang lebih sama seperti di lemari pendingin biasa.

Ini artinya, distribusi vaksin ke seluruh penjuru negeri perlu rencana yang matang, apalagi dosis vaksin yang terbatas. Masalah lainnya, ada pada biaya.

Baca juga: Pakar: dunia harus rasional sikapi kasus kematian vaksinasi Korsel

Walau begitu, perwakilan organisasi nirlaba internasional yang berfokus pada kesehatan masyarakat PATH, Debra Kristensen opstimistis hal ini bisa dilakukan.

"Saya yakin ini bisa dilakukan. Vaksin Ebola, misalnya, berhasil digunakan di beberapa negara Afrika dan juga membutuhkan penyimpanan yang sangat dingin ini," kata dia.

Alasan harus tetap dingin

Kandidat vaksin dari Moderna dan Pfizer sama-sama menggunakan pendekatan baru untuk membuka pertahanan kekebalan tubuh yakni menggunakan RNA, atau mRNA, untuk mengubah sel menjadi pabrik yang membuat satu protein virus corona tertentu.

Protein itu memicu respons kekebalan seolah-olah ada infeksi virus corona yang sebenarnya. Kemudian, jika seseorang yang diimunisasi nanti terpapar virus corona, sistem kekebalan tubuhnya akan dapat melawan dengan lebih mudah dan mereka lebih mungkin terhindar dari penyakit serius itu.

Masalahnya, menurut peneliti vaksin yang juga ketua dewan International Society for Vaccines, Margaret Liu, mRNA sangat mudah hancur karena ada banyak enzim yang akan menghancurkannya.

Analoginya begini, vaksin bisa diibaratkan sebatang cokelat yang mudah meleleh. Sama seperti ada cara untuk mencegah cokelat meleleh menjadi lengket, ada hal-hal yang dilakukan pembuat obat untuk melindungi vaksin COVID-19 mereka.

Langkah pertama, memodifikasi nukleosida mRNA atau bahan penyusun vaksin RNA, seperti mengganti resep cokelat agar tidak terlalu meleleh. Selanjutnya, menggunakan nanopartikel lipid, seperti meletakkan cokelat Anda di dalam lapisan permen sehingga cokelat tidak meleleh.

Tetapi, bahkan dengan blok penyusun dan lapisan lipid yang distabilkan, mRNA masih bisa mudah rusak, itulah sebabnya vaksin dibekukan.

Juru bicara Moderna Colleen Hussey menjelaskan, vaksinnya tidak perlu disimpan terlalu dingin karena sifat dan struktur nanopartikel lipid-nya.

"Sekarang kami tidak memerlukan (kondisi ultra-dingin) karena kualitas produk telah meningkat dan (produk) tidak perlu dibekukan terlalu tinggi untuk menghindari degradasi mRNA," jelas Hussey.

Baca juga: Pemerintah pertimbangkan beli vaksin Pfizer

Pihak Pfizer mengatakan, vaksinnya perlu disimpan pada suhu minus 70 derajat Celcius dan dapat bertahan dalam lemari pendingin khusus hingga enam bulan.

Pengangkut khusus bisa menampung hingga lima nampan "kotak pizza" (kotak berisi vaksin), menambahkan es kering setiap lima hari hingga 15 hari untuk menjaga vaksin pada suhu beku yang tepat.

Meski begitu, ada tantangannya. Seorang ilmuwan Pfizer mengatakan kepada dewan penasehat Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) pada Agustus lalu, kotak vaksin tidak seharusnya dibuka lebih dari dua kali sehari dan harus ditutup dalam satu menit setelah dibuka.

Kemudian, setelah dicairkan, vaksin dapat disimpan di lemari es selama lima hari.

Sementara itu, pihak Moderna mengatakan kandidat vaksinnya stabil pada suhu minus 20 derajat Celcius hingga enam bulan, dan setelah dicairkan dapat bertahan di lemari es selama 30 hari. Vaksin juga bisa disimpan pada suhu kamar hingga 12 jam.

Terlepas dari potensi vaksin COVID-19 pertama dari Pfizer dan Moderna, tentunya pengadaan vaksin bukan perlombaan. "Ini sebenarnya bukan perlombaan. Kita mungkin membutuhkan banyak vaksin," kata Liu.

Baca juga: WHO: Tak ada waktu berpuas diri terhadap COVID meski ada kabar vaksin

Baca juga: Calon vaksin COVID Australia hasilkan respons antibodi tahap awal

Baca juga: Bio Farma: Tim uji klinis vaksin Sinovac tunggu hasil monitoring
Pewarta : Lia Wanadriani Santosa
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © ANTARA 2020