Selisih angka kesembuhan Indonesia dengan global 7,24 persen

Selisih angka kesembuhan Indonesia dengan global 7,24 persen

Tangkapan layar - Ketua Satuan Tugas Penanganan COVID-19/Kepala BNPB Doni Monardo dalam diskusi Satgas Penanganan COVID-19 di Graha BNPB, Jakarta, Kamis (22/10/2020). ANTARA/Prisca Triferna.

Jakarta (ANTARA) - Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 Doni Monardo mengatakan selisih angka kesembuhan Indonesia dengan global sebesar 7,24 persen, sementara angka kesembuhan nasional mencapai 80,84 persen.

"Satu bulan yang lalu kita masih berada di bawah rata-rata angka kesembuhan global, nah hari ini selisih kita dengan global itu mencapai 7,24 persen," kata Doni dalam konferensi pers virtual yang diadakan di Gedung Graha BNPB, Jakarta, Selasa.

Doni menuturkan peningkatan angka kesembuhan tersebut tentunya juga berkat kerja keras dari tim dokter yang ada di seluruh rumah sakit-rumah sakit COVID-19, rumah sakit darurat serta beberapa fasilitas lainnya yang disiapkan oleh pemerintah baik di pusat maupun di daerah.

Baca juga: Satgas: kemampuan pemeriksaan spesimen lebih 35.000 per hari

Persentase kasus aktif COVID-19 yang semula cukup tinggi tetapi saat ini telah mengalami penurunan, bahkan angka kasus COVID-19 Indonesia sekarang berada jauh di bawah kasus aktif global yaitu berada pada posisi di 15,74 persen.

"Saat ini di beberapa negara sedang mengalami penambahan kasus sementara di negara kita alhamdulillah bisa stabil bertahan walaupun beberapa provinsi menunjukkan gejala peningkatan," tutur Doni.

Doni menuturkan memang angka kematian akibat COVID-19 di Indonesia masih relatif lebih tinggi dari global.

"Namun, kita yakini bahwa kerja keras dari para dokter dan tenaga kesehatan lainnya yang semakin bertambah pengalaman semakin bertambah pengetahuan untuk menangani pasien kita harapkan bisa semakin baik lagi," ujarnya.

Doni mengatakan pasien COVID-19 dengan gejala ringan bisa disembuhkan dengan persentase 100 persen. Apabila kondisi pasien bergeser ke gejala sedang, maka angka kematiannya bertambah yaitu 2,6 persen, sedangkan untuk gejala yang berat, angka kematian mencapai 6-7 persen. Pada keadaan kritis, angka kematian sangat besar yaitu 67 persen.

Dia mengatakan dengan pengalaman dan pengetahuan para dokter dan tenaga medis lain yang semakin bertambah, maka diharapkan gejala para pasien tidak sampai melonjak ke kondisi berat.

Baca juga: Doni Monardo: Seluruh komponen bangsa harus berperan tangani COVID-19

Selain itu, dibutuhkan kesadaran masyarakat untuk segera melakukan pemeriksaan jika melakukan kontak dekat dengan orang positif COVID-19 untuk mengetahui apakah terinfeksi COVID-19 atau tidak. Dengan mengetahui kondisi klinis lebih cepat, maka penanganan dan pengobatan dapat dilakukan dengan dini sehingga tidak sampai jatuh pada kondisi berat yang dapat menurunkan potensi kesembuhan pasien.

Yang memiliki kontak dekat juga harus melakukan karantina atau isolasi mandiri agar tidak terjadi penyebaran kepada orang lain.

"Terutama yang harus kita jaga adalah kelompok yang sangat rentan yaitu lansia dan mereka yang punya komorbid seperti halnya hipertensi kemudian diabet, penyakit jantung, ginjal dan beberapa penyakit paru lainnya," ujarnya.

Baca juga: Doni: Kemampuan pemeriksaan COVID-19 Indonesia meningkat luar biasa
Baca juga: Kepala BNPB: Manfaatkan libur panjang untuk menjaga lingkungan
Baca juga: Kematian dokter Juli-September termasuk yang tertinggi selama COVID-19
Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2020