Pemerintah agresif deteksi penderita COVID-19

Pemerintah agresif deteksi penderita COVID-19

Arsip Foto. Petugas medis yang mengenakan APD mengambil sampel spesimen saat swab test secara drive thru di halaman Laboratorium Kesehataan Daerah (LABKESDA) Kota Tangerang, Banten, Senin (6/4/2020). Berdasarkan data pemerintah hingga Senin (6/4/2020) terkonfirmasi positif COVID-19 di Banten mencapai 187 kasus. ANTARA FOTO/Fauzan/wsj.

Jakarta (ANTARA) - Pemerintah Jokowi-Ma'ruf mengambil langkah agresif untuk mendeteksi setiap orang yang terdeteksi mengidap COVID-19, serta melakukan pelacakan untuk mencegah kemungkinan menularkan virus mematikan itu kepada orang lain, melalui uji spesimen.

"Buku Laporan Tahunan 2020, Peringatan Setahun Jokowi-Ma'ruf: Bangkit Untuk Indonesia Maju" yang dikutip di Jakarta, Selasa, menyebutkan dari hanya ratusan spesimen di bulan pertama masa pandemi COVID-19, kini lebih dari 38 ribu spesimen diperiksa setiap hari.

Pemerintah terus melakukan pelacakan terhadap Setiap orang yang terdeteksi mengidap COVID-19, untuk mencegah kemungkinan menularkan kepada orang lain.

Berdasarkan data Satgas Penanganan COVID-19 per 11 Oktober 2020, jumlah orang yang diperiksa sebanyak 2,31 juta jiwa, dengan jumlah tes sebanyak 8.539 spesimen per 1 juta penduduk, dan menggunakan 376 laboratorium.

Baca juga: Produksi APD dalam negeri terus digenjot Pemerintah Jokowi-Ma'ruf

Baca juga: Setahun Jokowi-Ma'ruf - Inovasi berbasis daring didorong pemerintah


Sebelumnya, Wakil Ketua Komite Kebijakan Pengendalian COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Pandjaitan, menekankan pentingnya pengetesan dan pelacakan kasus COVID-19 sambil menunggu datangnya vaksin pada November mendatang.

Saat ini pemerintah sedang menyiapkan vaksin untuk COVID-19 yang diharapkan November 2020 sudah bisa diterima.

Karena itu, Luhut meminta agar ada rencana antisipasi terkait kemungkinan lonjakan kasus pada akhir Oktober 2020. Pasalnya, pada libur panjang Agustus yang lalu, jumlah kenaikan kasus COVID-19 di Jakarta sempat meningkat tajam hingga lebih dari 60 persen.

Pengetesan dan pelacakan dinilai penting karena penularan COVID-19 didominasi oleh segelintir orang yang terinfeksi, yang disebut sebagai super spreaders. Sebanyak 80 persen kasus baru disebabkan oleh 20 persen orang yang terinfeksi.

Mereka mampu menularkan virus kurang lebih dua hari sebelum timbul gejala, hingga 10 hari setelah bergejala. Oleh karena periode infeksius yang singkat ini, maka waktu dan kecepatan merespons sangat penting untuk memutus rantai penularan.

Bukan hanya testing dan tracing yang penting, pendampingan karantina dan isolasi turut menjadi perhatian. Dengan demikian, tes-lacak-isolasi adalah tiga mata rantai surveilans yang saling terkait. Deteksi dini dan pendampingan pasien menjalani isolasi serta perawatan hingga tuntas adalah kunci penanganan pandemi.*

Baca juga: Pemerintah ringankan beban rakyat akibat pandemi lewat banyak bantuan

Baca juga: Setahun Jokowi-Ma'ruf, cepat dan sigap antisipasi COVID-19
Pewarta : Arief Mujayatno
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020