BRG berdayakan pengrajin kain Sasirangan di Kalsel

BRG berdayakan pengrajin kain Sasirangan di Kalsel

Pengrajin sedang menyelesaikan proses pembuatan kain sasaringan di Desa Teluk Karya, Kabupaten Balangan , Kalimantan Selatan (Antara/HO-BRG)

Jakarta (ANTARA) - Badan Restorasi Gambut (BRG) melakukan upaya pemberdayaan masyarakat di desa-desa gambut di wilayah Kalimatan Selatan untuk memproduksi kain sasirangan guna meningkatkan kesejahteraan mereka serta menjaga kekayaan budaya daerah.

Plt. Kepala Sub Kelompok Kerja yang mengurusi kemitraan dan pemberdayaan UMKM di BRG G. Yuyus Afrianto di Jakarta, Jumat, menyatakan BRG mendukung pembentukan kelompok usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang memproduksi kain sasirangan di sejumlah Desa Peduli Gambut di Kalimantan Selatan.

Berbagai pelatihan dan akses pasar, lanjutnya, dihubungkan kepada kelompok yang banyak diisi oleh generasi muda tersebut bahkan sejak 2018 pihaknya telah memberikan pelatihan kepada masyarakat di desa-desa gambut membuat kerajinan kain sasirangan.

Baca juga: BRG ajak akademisi dan praktisi temukan teknologi hidrologis gambut

"Pelatihan kepada anggota UMKM itu kini membuahkan hasil. Produksi kelompok usaha kain batik sasirangan telah merambah ke pasar nasional dan telah dipamerkan di mancanegara," ujarnya melalui keterangan tertulis.

Saat ini, tambahnya, kelompok UMKM produsen kain sasirangan tersebut juga sudah mampu memasarkan produk mereka secara online melalui beberapa marketplace.

Dinamisator Desa Peduli Gambut Kalimantan Selatan, Enik Maslahah, mengungkapkan lahan gambut bisa menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat yang hidup di perdesaan itu termasuk menyediakan berbagai warna-warna alam yang indah untuk kain-kain sasirangan.

Baca juga: BRG ajak pemerintah desa jaga infrastruktur pembasahan gambut

Masyarakat menggunakan kunyit, daun rambutan, akar pohon-pohonan hingga bunga kamboja dan kenanga untuk pewarna alami karena mudah mendapatkan bahan baku dari lingkungan sekitar dan efisiensi dari segi biaya produksi sementara nilai jual ternyata lebih tinggi dibandingkan kain sasirangan dengan pewarna buatan.

“Kain sasirangan juga sudah dikenalkan kepada pemerintahan kabupaten, provinsi dan instansi-instansi lain,” katanya.

Awalnya, kegiatan produksi sasirangan hanya dilakukan satu kelompok, yaitu Kelompok Eco Teratai di Kabupaten Hulu Sungai Utara, ujarnya, sekarang, mereka menularkan keterampilan ini kepada desa-desa lain seperti Desa Teluk Karya dan Desa Banuahanyar di Kabupaten Balangan.

Pemerintah daerah juga mendukung kegiatan kelompok usaha kain sasirangan di desa-desa gambut yakni dengan banyak melibatkan kelompok usaha untuk mempromosikannya ke khalayak luas.

Baca juga: BRG dorong budidaya pertanian alami di lahan gambut

Seorang anggota kelompok usaha kain sasirangan di Desa Teluk Karya Kecamatan Lampihong, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan, Laila Hayati menceritakan pembinaan yang dilakukan BRG berhasil membangkitkan ekonomi warga.

Menurut dia dengan menekuni usaha pembuatan kain sasirangan melalui Kelompok Usaha Aneka Karian Sasirangan tersebut warga mampu mendapatkan tambahan pendapatan.

Dalam satu bulan kelompoknya yang beranggotakan 21 orang tersebut bisa mendapatkan Rp10 juta rupiah dengan keuntungan bersih sekitar 5 persen.

"Kami juga bersyukur karena Pemda setempat juga mendukung penuh kegiatan kami," katanya.
 
Pewarta : Subagyo
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2020