Freeport-Unipa kerja sama teliti pemanfaatan lahan tailing

Freeport-Unipa kerja sama teliti pemanfaatan lahan tailing

Tim environmental PTFI melakukan perawatan tanaman diatas lahan tailing di area reklamasi Mile 21, Timika, Papua. (ANTARA/Evarianus Supar)

Timika (ANTARA) - PT Freeport Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Pertanian Universitas Negeri Papua (Unipa) Manokwari dalam beberapa waktu belakangan bekerja sama melakukan serangkaian penelitian terkait pemanfaatan lahan tailing, yakni tanah bekas penambangan di wilayah Kabupaten Mimika untuk dapat dikembangkan sebagai areal produktif bagi tanaman pangan.

Pratita Puradyatmika selaku Pengawas Umum Reklamasi Daratan Tinggi PT Freeport Indonesia di Timika, Kamis, mengatakan, melalui serangkaian penelitian dan pengujian restorasi lahan tailing, sekitar lebih dari 140 jenis tumbuhan telah ditanam pada lebih dari 1.000 hektare lahan tailing yang direklamasi.

"Hasil penelitian bersama menunjukan lahan tailing PTFI dapat dimanfaatkan sebagai lahan tumbuh yang aman bagi berbagai jenis tanaman pangan. Didukung dengan pemupukan dan pemberantasan hama secara alami. Tanaman yang tumbuh pun memiliki kualitas teruji dan aman dikonsumsi, sehingga dapat meningkatkan kemandirian pangan di daerah ini," kata Pratita.

Dari hasil uji coba yang dilakukan, katanya, beberapa jenis tanaman pertanian dan perkebunan dapat dibudidayakan di lahan tailing PTFI, bahkan beberapa tanaman buah-buahan seperti nenas, melon, buah naga dan mangga, mampu menghasilkan buah dengan rasa yang lebih manis dibandingkan buah sejenis yang tumbuh di media tanam lain.

Baca juga: Universitas Papua rampungkan penelitian ekstrak tailing PT Freeport

Selain itu, hasil pengujian laboratorium yang dilakukan PTFI dan Unipa menyatakan bahwa tanaman sayur dan buah yang tumbuh di lahan tailing PTFI memiliki kadar logam tembaga (Cu), seng (Zn), Timbal (Pb), Arsen (As) dan Air raksa (Hg) yang jauh lebih rendah dari ambang batas aman makanan yang ditetapkan pemerintah dalam SK Dirjen POM No. 03725/B/SK/VII/89.

“Kami memastikan bahwa tanaman buah dan sayuran yang tumbuh subur di lahan tailing PTFI aman dan layak untuk dikonsumsi oleh masyarakat. Kami berharap agar pengelolaan lahan tailing PTFI terus diteliti lebih lanjut sehingga dapat dimanfaatkan sebagai alternatif lahan produktif akan mampu memperkuat kemandirian pangan Mimika,” tambah Pratita.

Untuk mendukung optimalisasi lahan tailing PTFI sebagai lahan produktif bagi tanaman pangan, kedua belah pihak juga meneliti pemanfaatan pupuk organik untuk menghasilkan tanaman yang lebih baik.

Baca juga: Pemerintah perlu lebih dorong manfaat "smelter" untuk masyarakat

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa penggunaan pupuk organik berupa kotoran ayam dan kotoran sapi bagi tanaman di area tailing PTFI memberikan hasil panen tanaman yang lebih tinggi dan lebih produktif dibandingkan hasil panen tanaman yang tidak diberi pupuk organik.

Dr Sartji Taberima MSi selaku Peneliti Jurusan Tanah Faperta Unipa yang melakukan penelitian penggunaan berbagai jenis pupuk organik menyebut berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada tanaman kakao, memperlihatkan bahwa pemberian pupuk organik sebagai amelioran dapat menekan serapan logam berat dalam jaringan buah kakao dan memperbaiki kesuburan tanah.

"Dengan demikian secara alami, lahan tailing sebagai media tanam mampu meningkatkan ketersediaan kandungan unsur hara esensial, sehingga berdampak pada peningkatan kualitas tanaman dan buah kakao yang dihasilkan. Tidak hanya itu, pupuk organik yang digunakan pun mampu mengurangi serapan logam besi (Fe), seng (Zn), tembaga (Cu), dan mangan (Mn) pada tanaman,” katanya.
Monitoring pertumbuhan tanaman pangan secara berkala oleh Tim Environmental PTFI. (ANTARA/Evarianus Supar)

Selain mengembangkan pemanfaatan pupuk organik untuk meningkatkan produktivitas tanaman, PTFI dan Unipa juga meneliti potensi pemanfaatan tanaman sebagai pestisida Alami.

Dari 277 jenis tumbuhan lokal yang diamati dan diidentifikasi, terdapat 14 jenis tumbuhan yang berpotensi dimanfaatkan sebagai pestisida alami, baik untuk menghambat nafsu makan hama, menolak hama, menghambat perkembangan hama, menghambat aktivitas hama, dan membunuh hama sebagai organisme pengganggu tanaman.

“Pemanfaatan pestisida alami sangat baik untuk tanaman karena materinya yang cepat terurai, memiliki toksisitas yang rendah, serta tidak meracuni dan merusak tanaman. Selain itu, pestisida alami pun cenderung lebih hemat biaya karena pembuatannya yang mudah,” kata Ir Maria J Sadsoeitoeboen MSi, Pakar Biologi FMIPA Unipa yang juga terlibat dalam penelitian ini.

Baca juga: Menteri ESDM: Saya harap smelter Freeport segera selesai

Sejak tahun 1998, PTFI bersama berbagai perguruan tinggi seperti Unipa, Universitas Cendrawasih, Institut Pertanian Bogor, Institut Teknologi Bandung, Universitas Sriwijaya, dan Universitas Lambung Mangkurat secara berkelanjutan melakukan berbagai penelitian lingkungan.

Penelitian dilakukan sebagai upaya PTFI meminimalisasi dampak operasi perusahaan terhadap lingkungan, mempercepat pemulihan lingkungan di lahan bekas operasi, serta mengoptimalkan nilai tambah perusahaan terhadap lingkungan dan masyarakat melalui upaya pelestarian keanekaragaman hayati dan peningkatan produksi pangan, perikanan, dan perikanan di Mimika.

“Kami berharap kolaborasi yang PTFI lakukan bersama dunia pendidikan mampu menjadi kontribusi perusahaan bagi kemajuan ilmu pengetahuan, serta memberi manfaat langsung bagi masyarakat di sekitar area kerja perusahaan,” kata Pratita.

Baca juga: Anggota DPR ingin pemerintah tolak permohonan relaksasi "smelter" PTFI
Pewarta : Evarianus Supar
Editor: Tunggul Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2020