Pemerintah libatkan milenial dalam pengembangan EBT

Pemerintah libatkan milenial dalam pengembangan EBT

Direktur Konservasi Energi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Hariyanto saat launching Hackathon by New Energy Nexus secara virtual, Kamis (24/9/2020). ANTARA/Dokumentasi Humas Kementerian ESDM

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membuka ruang bagi generasi milenial untuk terlibat aktif dalam menjawab tantangan pengembangan energi baru  dan terbarukan (EBT).

Partisipasi ini diharapkan dapat membantu misi pemerintah dalam menurunkan emisi gas rumah kaca, bauran EBT hingga peningkatan rasio elektrifikasi.

"Kami harapkan kegiatan semacam ini dapat melibatkan anak-anak muda yang kreatif untuk mengembangkan model bisnis EBT yang dapat diimplementasikan," kata Direktur Konservasi Energi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Hariyanto dalam informasi tertulis yang diterima ANTARA di Jakarta, Jumat.

Hal tersebut disampaikan Hariyanto saat mewakili Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM FX Sutijastoto dalam launching Hackathon by New Energy Nexus secara virtual, Kamis (24/9/2020).

Baca juga: Kantor KESDM dinobatkan sebagai gedung paling hemat energi

Menurut Hariyanto, akselerasi pencapaian target tersebut, terutama untuk pembangkit EBT off grid di wilayah terpencil, tidak cukup hanya dibebankan kepada pemerintah baik pusat maupun daerah secara mandiri.

"Di samping keterbatasan pendanaan adalah masalah keberlanjutannya," ujarnya.

Untuk itu, peran swasta dan PT PLN (Persero) pun dinilai pemerintah cukup krusial. Terobosan ini patut dilakukan mengingat masih tingginya biaya investasi awal untuk proyek berbasis ramah lingkungan tersebut. 

"Keterlibatan BUMD dan BUMDes sebagai perusahaan lokal juga penting," tegas Hariyanto.

Lebih lanjut, Hariyanto berharap peran pemuda dalam menyebarkan informasi dan pengetahuan EBT melalui media sosial, mengubah kultur atau kebiasaan hemat energi pada peralatan elektronik sehari-hari guna mendukung program konservasi energi, memberikan dukungan atas program pemerintah dalam pengembangan EBTKE hingga menggali pengetahuan tentang teknologi pengembangan EBTKE pada masa depan.

Menurut Hariyanto, Indonesia punya potensi besar dalam pengembangan EBT. Beberapa sumber energi yang bisa dioptimalkan, antara lain surya 207,8 gigawatt (GW), air 75 GW, bayu/angin 60,6 GW, bioenergi 32,6 GW, panas bumi 23,9 GW, dan samudera 17,9 GW.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) Surya Darma menggarisbawahi pentingnya EBT sebagai kultur global baru sebagai sumber energi. 

"Tren dunia sekarang mengalihkan penggunaan energi fosil ke energi terbarukan. Ini akan mengubah pola sikap, pola hidup, pola manajemen," katanya.

Surya mengungkapkan penggunaan EBT di dunia akan mengalami lonjakan hingga 50 persen pada 2025 dan meningkat ke 80 persen pada 2050. 

"Ini bukan hanya sebagai tantangan, tapi juga peluang karena Indonesia memiliki sumber EBT yang komplit dibandingkan negara lain," jelasnya.

Hackathon New Energy Nexus merupakan hackathon pertama Nexus yang diselenggarakan di Indonesia.

Dengan mengusung tema energi pintar dan terbarukan, [RE]energize Indonesia, Nexus membuka kesempatan bagi tiap individu maupun tim mencari solusi berbasis EBT dalam menyelesaikan permasalahan di bidang kesehatan dan produktivitas masyarakat.

Pendaftaran secara daring program hackathon ini dibuka mulai 24 September 2020 hingga 10 Oktober 2020. 

Sepuluh tim yang terseleksi akan mempresentasikan solusinya pada demo day dan mendapatkan bimbingan dari enam ahli di bidangnya untuk menajamkan inovasi yang mereka usung.

Pemenang hackathon akan meraih total hadiah sebesar Rp100 juta dan mendapatkan akses ke program Smart Energy Incubation and Acceleration.

Baca juga: Menteri ESDM: Penerapan smart grid jadi opsi penuhi target bauran EBT
Baca juga: ESDM-USAID peringati 5 tahun kemitraan energi bersih berkelanjutan

Pewarta : Afut Syafril Nursyirwan
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020