Koalisi gajah dan partai gajah berebut kursi wali kota Surabaya

Koalisi gajah dan partai gajah berebut kursi wali kota Surabaya

Ilustrasi Bakal Pasangan Cawali dan Cawawali Surabaya, Eri Cahyadi dan Armuji dengan Machfud Arifin dan Mujiaman. (AntaraJatim/Naufal Ammar)

Surabaya (ANTARA) - Penantian panjang warga Surabaya untuk mengetahui siapa saja bakal pasangan Calon Wali Kota dan Wali Kota Surabaya pengganti Tri Rismaharini maju di Pilkada Surabaya, 9 Desember 2020, akhirnya terjawab sudah.

Hal ini setelah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang merupakan partai terbesar dan pemenang Pemilu 2019 dengan perolehan 15 kursi di DPRD Surabaya mengumuman bakal pasangan calon yang maju di Pilkada Surabaya 2020 pada Rabu, 2 September 2020.

Calon yang diusung PDIP adalah Eri Cahyadi yang merupakan anak mas Wali Kota Risma dengan jabatan terakhir sebagai Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya berpasangan dengan politisi senior yang juga mantan Ketua DPRD Surabaya Armuji.

Eri-Armuji merupakan pasangan yang ditunggu-tunggu publik selama ini. Hal ini menyusul pasangan calon Machfud Arifin dan Mujiaman yang telah lebih dahulu diusung oleh koalisi delapan parpol di Surabaya yakni PKB, Gerindra, Golkar, PKS, Demokrat, NasDem, PAN, dan PPP.

Machfud Arifin merupakan mantan Kapolda Jatim sekaligus mantan Ketua Tim Sukses Jokowi Ma'ruf Amin di Pilres 2019. Sedangkan Mujiaman merupakan anak buah Tri Rismaharini yang saat itu menjabat sebagai Dirut Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Surya Sembada Surabaya.

Sejumlah analisa menyebut bahwa pertarungan Eri-Armuji dan Machfud Arifin di Pilkada Surabaya 2020 bakal sengit. Hal ini dikarenakan PDIP sebagai partai gajah akan bertanding dengan koalisi partai gajah.

Baca juga: Parpol sepakat taati protokol kesehatan di Pilkada Surabaya 2020

Selain itu, dua paslon ini memiliki rekam jejak yang cukup bagus di bidangnya masing-masing. Sehingga Pilkada Surabaya semakin menarik karena warga Surabaya memiliki pilihan untuk calon pemimpinnya.

"Saya pikir akan sengit setanding dan sebanding di Pilkada Surabaya kali ini," kata Pengamat politik sekaligus peneliti Surabaya Survey Center (SSC) Surokim Abdusalam.

Surokim menilai keputusan Machfud Arifin memilih Mujiaman sebagai wakilnya sudah tepat, selain karena bekas anak buah Wali kota Risma, juga pengalamannya dalam mengelola PDAM, sehingga dianggap memahami manajemen kota.

Selain itu, tipe Mujiaman merupakan pekerja keras dalam senyap yang membuatnya dapat lampu hijau dari Machfud Arifin (MA) dan koalisi parpol.

Meskipun sempat ada kekecewaan dari 31 Pimpinan Kecamatan (PK) di Partai Golkar Surabaya atas keputusan MA memilih Mujiaman karena pertama diusulkan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Surokim mengatakan hal itu menjadi problem klasik dari koalisi gemuk.

Menurutnya yang penting saat ini adalah bagaimana menjaga soliditas dan membuat semua senang tidak saling iri. Harusnya jika melihat latar belakang bahwa Mujiaman adalah profesional dan bukan kader PKB semestinya harus bisa diterima oleh koalisi partai pengusung.

"Apalagi pemilihan beliau kan pasti sudah terlebih dulu dikonsultasikan oleh Pak MA kepada partai pengusung dan harusnya lebih banyak melihat dari latar belakang beliau yang profesional bukan kader PKB. Tapi kebetulan Pak Mujiaman pertama diusulkan oleh PKB," katanya.

Sedangkan keluarnya rekomendasi Eri-Armuji menurut Surokim, menunjukkan relasi kuasa Wali kota Risma kepada Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri adalah relasi kuasa khusus. Dekan FISIP Universitas Trunojoyo ini menilai Risma menjadi kunci keluarnya rekom PDIP untuk paslon Eri Cahyadi dan Armuji.

Baca juga: PDIP Jatim siapkan PAW Armuji dari anggota DPRD karena ikut pilkada

"Kuat sekali pengaruh Bu Risma untuk konsolidasi pasangan calon PDIP untuk Pilkada Surabaya kali ini. Itu menunjukkan kuatnya pengaruh Bu Risma ke Bu Megawati," kata Surokim.

Selain itu, terpilihnya Eri-Armuji menunjukkan bahwa PDIP tetap dengan skema nonkader dan kader. Untuk nonkader mengakomodasi Wali Kota Risma dan kader untuk mengakomodasi kader PDIP.

Meski demikian publik perlu bersabar karena tahapan Pilkada Surabaya saat ini baru memasuki pendaftaran dilanjutkan dengan tes kesehatan. Visi misi dan kedua pasangan calon hingga kini belum terekspose. Namun keduanya telah menyiapkan strategi kampanye dalam memenangkan Pilkada 2020.

Unjuk kekuatan perdana

Tidak mau ketinggalan kereta, paslon yang diusung PDIP bergerak cepat dengan mendaftarkan diri di hari pertama pendaftaran pilkada ke kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Surabaya Jalan Adityawarman, Surabaya pada 4 September 2020.

Sebelum ke KPU Surabaya, Eri dan Armuji bersama pendukungnya menggelar mimbar bebas di depan kantor DPC PDIP Surabaya di Jalan Setail Nomor 8 Surabaya. Tampak ratusan pendukung dan simpatisan dari berbagai kalangan berkumpul di kantor PDIP.

Hadir dalam kesempatan itu Wali Kota Surabaya sekaligus Ketua DPP Bidang Kebudayaan PDIP Tri Rismaharini, Wakil Wali Kota Surabaya sekaligus Wakil Ketua DPD PDIP Jatim Whisnu Sakti Buana, para anggota DPRD Surabaya dari Fraksi PDIP dan sejumlah pengurus PDIP Surabaya mulai dari cabang, anak cabang, ranting dan anak ranting.

Tidak hanya itu para pendukung lainnya juga hadir juga seperti dari kalangan warga Nahdliyin, Muhammadiyah, jamaah pengajian hingga simpatisan lainnya.

Ketua DPC PDIP Kota Surabaya Adi Sutarwijono mengatakan banyaknya pendukung Eri-Armuji menunjukkan kekuatan gotong royong partai yang siap bergerak dalam Pilkada Surabaya, 9 Desember 2020.

Hal ini merupakan perwujudan dari ajaran Ketua Umum PDI Perjuangan Ibu Megawati Soekarnoputri, bahwa kesolidan adalah separuh dari kemenangan. Separuh lagi diwujudkan dalam kerja-kerja menyeluruh untuk merebut hati rakyat.

Baca juga: Pakar sarankan KPU bentuk tim pengawas cegah klaster Pilkada Surabaya

"Bu Risma dan Mas Whisnu Sakti adalah ikon kader-kader tangguh PDI Perjuangan di Kota Surabaya dan keduanya akan hadir," ujarnya.

Sedangkan, Risma dalam sambutannya memohon kepada semua pihak, baik kader, simpatisan hingga para tokoh agama untuk memberikan doa dan restu sekaligus dukungan kepada paslon Eri Cahyadi-Armuji agar mampu memenangkan Pilkada Surabaya.

"Kita berangkat diniatkan bukan untuk mencari kekuasaan, tetapi kita berangkat bertujuan menyejahterakan warga Kota Surabaya, sesuai cita-cita Pancasila, bahwa kita bersama dapat hidup damai sejahtera, adil makmur dan sentosa," kata Risma.

Tidak hanya itu, Wali Kota Risma juga memberikan pesan khusus kepada paslon agar terus memperjuangkan nasib anak-anak Surabaya untuk mendapatkan dan menyelesaikan pendidikan dengan baik.

Eri Cahyadi dalam pidato politiknya secara khusus menyampaikan ucapan terima kasih kepada Ketua Umum PDIP Megawati Soekarno Putri atas amanah yang diberikan kepada dirinya. Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada mantan atasannya yakni Risma sekaligus juga pengurus PDIP Surabaya yang ikut andil dalam keluarnya rekomendasi PDIP.

"Dengan kepercayaan itu, kami akan berjuang sekuat tenaga dengan hati nurani untuk wong cilik di Kota Surabaya. Kami akan menjalankan dan melanjutkan serta menjaga cita cita Ibu Tri Rismaharini untuk Surabaya ke depan menjadi lebih baik lagi untuk wong cilik," ujarnya.

Jika Eri-Armuji pendaftar pertama, maka bakal paslon Machfud Arifin dan Mujiaman mendaftar sebagai peserta Pilkada di KPU Surabaya di hari terakhir, tepatnya Munggu, 6 September 2020. Sebelum menuju KPU, Machfud dan Mujiaman bersama rombongan berziarah ke Makam Sunan Bungkul dan shalat Ashar berjamaah.

Setelah itu bertemu dan menyapa delapan pengurus partai pendukung yakni, PKB, Gerindra, PKS, Golkar, Demokrat, Nasdem, PAN dan PPP. Para pengurus partai ini sudah berkumpul di Surabaya Town Square (Sutos).

Setelah dari Sutos rombongan paslon berangkat ke kantor KPU Surabaya dengan jalan kaki. Pada saat tiba kantor KPU, pasangan calon sudah dinanti dengan sambutan dari seni tradisional Islam hadrah banjari dan juga seni budaya tradisional Jula-Juli.

Baca juga: Kreativitas gerakan para relawan Eri-Armuji bermunculan di Surabaya

Pada saat di KPU, Machfud dan Mujiaman memakai pakaian Sawunggaling. Menurut Ketua Tim pemenangan dari Pasangan Calon (Paslon) Machfud-Mujiaman, Miratul Mukminin atau akrab dipanggil Gus Amik, Sawunggaling merupakan sosok Adipati yang pertama kali melakukan babat alas atau membersihkan hutan sehingga menjadi Kota Surabaya seperti saat ini.

"Sawunggaling adalah Adipati, simbul seorang pahlawan, jujur dan berani. Kota Surabaya butuh pemimpin jujur dan berani. Maju kotanya, maju warganya," kata Gus Amik.

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Surabaya Nur Syamsi mengatakan pihaknya sudah menerima berkas pendaftaran dari dua paslon Eri-Armuji dan Machfud-Mujiaman. Untuk selanjutnya, jika ada kekurangan bisa dilengkapi sesuai jadwal yang ada.

Sedangkan untuk mengantispasi klaster baru COVID-19, Nur Syamsi mengajak semua pihak mentaati peraturan KPU Nomor 10 Tahun 2020 yang mengatur tata cara tentang berbagai tahapan yang dilaksanakan di tengah pandemi dan tidak hanya mengatur tentang penyelenggara.

"Termasuk mengatur tentang tata cara kampaye juga diatur, dan mari kita semua mentaati protokol kesehatan," katanya.

Dengan munculnya dua bakal paslon yang diusung oleh koalisi gajah dan partai gajah tersebut, maka warga Surabaya untuk menentukan siapa calon pemimpin Surabaya pengganti Risma.

Baca juga: Ratusan pendukung kawal Machfud-Mujiaman daftar ke KPU Surabaya

Jika Wali Kota Risma dinilai telah berhasil membangun Kota Surabaya dengan berbagai penghargaannya baik di level internasional maupun nasional, maka publik berharap calon wali kota mendatang bisa lebih baik lagi.

Paslon Eri-Armuji dan Machfud-Mujiaman memiliki keunggulan masing-masing. Saat ini kedua paslon serta tim suksesnya masing-masing beradu strategi pemenangan di Pilkada Surabaya. Terkadang kedua pihak juga saling serang dan mencari titik lemah dari masing-masing kandidat.

Hingga saat ini belum ada survei untuk kedua paslon tersebut. Warga Surabaya hanya bisa menilai siapa didukung siapa dan siapa saja yang dibalik kedua paslon. Tentunya semua itu akan terjawab pada 9 Desember 2020.
Pewarta : Abdul Hakim
Editor: M Arief Iskandar
COPYRIGHT © ANTARA 2020