KKP targetkan konsumsi ikan capai 62 kilogram/kapita pada 2024

KKP targetkan konsumsi ikan capai 62 kilogram/kapita pada 2024

Ilustrasi: Warga membeli ikan di Pasar Pabean Surabaya, Jawa Timur, Jumat (14/2/2020). Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan konsumsi ikan nasional pada tahun 2020 sebesar 56,39 kilogram per kapita per tahun dan ditingkatkan menjadi 62,50 kilogram per kapita per tahun pada tahun 2024. ANTARA FOTO/Didik Suhartono/ama. (ANTARA FOTO/DIDIK SUHARTONO)

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan tingkat konsumsi ikan hingga sebanyak 62 kilogram per kapita per tahun pada 2024, sehingga kementerian itu siap untuk bekerja sama dengan berbagai pihak terkait termasuk swasta dan lembaga pendidikan.

"Angka konsumsi ikan nasional pada 2019 adalah 54,9 kilogram per tahun. Kami menargetkan angka konsumsi ikan nasional pada 2024 mencapai 62,05 kilogram per kapita," kata Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo dalam Webinar Nasional "Gemar Makan Ikan untuk Pencegahan Stunting" yang digelar Universitas Binawan, Sabtu.

Menurut Edhy, pihaknya telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan konsumsi tersebut termasuk menggalakkan Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan.

Baca juga: KKP memastikan program Gemarikan selalu mengandung nilai edukasi

Selain itu, ujar dia, telah pula dibangun pasar ikan modern dan berbagai kebijakan yang ada untuk memperkuat distribusi logistik untuk perikanan domestik.

KKP telah memberikan berbagai pelatihan pengolahan berbagai komoditas kelautan dan perikanan sebagai upaya menumbuhkan kreativitas dalam mengolah ikan di masyarakat, yang bisa pula menjadi sumber pendapatan bagi keluarga.

"Kami siap bekerja sama dengan Universitas Binawan untuk mengatasi stunting dan menyebarluaskan gemar makan ikan," katanya.

Baca juga: KKP: Tingkatkan imunitas dengan konsumsi ikan di tengah COVID-19

Sementara itu Plt Rektor Universitas Binawan Ayu Dwi Nindyati juga menyatakan pihaknya siap bersama-sama dengan pemerintah untuk bekerja sama dalam mengurangi stunting atau kekerdilan di Indonesia.

Ayu Dwi Nindyati mengemukakan bahwa hal itu penting karena stunting dapat memiliki efek yang berkelanjutan hingga ke kualitas generasi penerus bangsa Indonesia.

Sedangkan Dekan FKM Univ Binawan Agung Cahyono Triwibowo menyatakan bahwa stunting menjadi masalah utama, karena Indonesia diperkirakan masih memiliki prevalensi hingga sekitar 30 persen padahal batasan menurut WHO seharusnya dalam kisaran 10-20 persen.

Untuk itu, ujar Agung, penting agar budaya makan ikan dapat terus ditingkatkan sehingga menjadi sumber protein utama di Indonesia.

Baca juga: Menkop UKM ingatkan konsumsi ikan tumbuh paling pesat secara global

Baca juga: KKP siapkan industri pakan alami zooplankton dongkrak hasil perikanan
Pewarta : M Razi Rahman
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2020