Kemenkes dorong pemberian ASI eksklusif tangani stunting saat pandemi

Kemenkes dorong pemberian ASI eksklusif tangani stunting saat pandemi

Ilustrasi - Ibu menyusui. (ANTARA/HO-Aspri)

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan mendorong para orang tua untuk memberikan air susu ibu (ASI) eksklusif selama enam bulan kepada bayinya sebagai salah satu langkah penanggulangan stunting yang bisa dilakukan di masa pandemi.

Direktur Gizi Masyarakat Dhian Probhoyekti dalam bincang-bincang mengenai pekan ASI di Kemenkes Jakarta, Senin, menerangkan bahwa pemberian ASI eksklusif kepada bayi pada usia nol sampai enam bulan dan dilanjutkan hingga dua tahun merupakan salah satu upaya menekan angka stunting di Indonesia yang bisa dengan mudah dilakukan di saat pandemi.

"Stunting punya sasaran 1.000 hari pertama kehidupan sejak hamil sampai dua tahun setelah dilahirkan. Menyusui jadi bagian prioritas untuk kesehatan ibu dan anak," kata dia.

Baca juga: Akademisi: Kampanye ASI eksklusif harus terus diintensifkan
Baca juga: Bayi kurang ASI eksklusif bisa turunkan potensi Bifidobacterium


Dhian menjelaskan bahwa anak yang mendapatkan ASI eksklusif selama enam bulan akan tidak mudah sakit dikarenakan zat-zat yang dikandung ASI juga mencakup imunoglobulin yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh bagi bayi. Anak yang tidak mendapatkan ASI eksklusif dari ibunya memiliki risiko sakit lebih besar dibandingkan dengan yang mendapatkan ASI.

Pada saat anak mengalami sakit, kata Dhian, tubuh bayi beserta dengan organ-organ di dalam tubuhnya ikut terhenti perkembangannya sehingga bisa menghambat tumbuh kembang anak yang bisa berakibat pada stunting.

"Dengan menyusui, mengurangi risiko sakit dan akan mengurangi risiko stunting, anak jadi tidak mudah sakit, anak tidak mengalami gagal tumbuh dan anak akan berkembang normal," kata Dhian.

Berdasarkan data Survey Demografi Kesehatan Tahun 2017 disebutkan baru separuh anak dengan usia kurang dari enam bulan yang mendapatkan ASI eksklusif. "Pemerintah memiliki target agar ASI eksklusif dapat diberikan kepada sebanyak 60 persen bayi pada 2024," katanya.

Baca juga: Selasi dorong kakek-nenek dukung ibu menyusui
Baca juga: Upaya jamin hak anak peroleh ASI eksklusif di kondisi bencana


Dia mengakui bahwa pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama pada bayi saat ini masih kurang dikarenakan berbagai faktor.

Selanjutnya apabila anak sudah mendapatkan ASI eksklusif selama enam bulan maka dilanjutkan dengan pemberian ASI hingga usia dua tahun disandingkan dengan makanan pendamping ASI (MPASI). Dhian juga menyayangkan pemberian ASI dan MPASI ini masih kurang pada bayi di atas enam bulan hingga dua tahun.

"Dari penelitian yang ada memperlihatkan masih banyak pemberian ASI sampai enam bulan belum diberikan dengan baik. Selain itu MPASI yang diberikan kualitas zat gizinya pun belum memenuhi kebutuhan gizi anak," kata Dhian.

Oleh karena itu Dhian mendorong bagi para ibu yang memiliki bayi di bawah dua tahun agar dapat memberikan ASI eksklusif selama enam bulan dan dilanjutkan dengan MPASI hingga usia anak dua tahun.

Baca juga: Butuh peran ayah terkait pemenuhan hak anak atas ASI
Baca juga: Diingatkan akan pentingnya ASI eksklusif bagi anak
Pewarta : Aditya Ramadhan
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2020