Buaya rawa menjadi kendala pencarian korban kapal karam di Riau

Buaya rawa menjadi kendala pencarian korban kapal karam di Riau

Ilustrasi - Seekor buaya berada di habitatnya yang dipenuhi sampah di muara Sungai Palu, Sulawesi Tengah. ANTARA FOTO/Basri Marzuki/wsj/pri.

Pekanbaru (ANTARA) - Tim SAR gabungan terkendala dalam proses pencarian dua nelayan yang hilang dalam kecelakaan kapal karam di Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), Riau, karena lokasi perairan banyak buaya muara.

"Kendala di lapangan adanya predator dan arus pasang surut sungai Rokan sangat deras. Predator itu maksudnya buaya, jadi kami harus ekstra hati-hati," kata Humas Kantor Basarnas Pekanbaru Kukuh Widodo di Pekanbaru, Kamis.

Ia mengatakan pencarian hari pertama masih nihil. Warga dan keluarga korban berusaha menaikkan bangkai perahu yang karam dan mencari korban di sekitar kapal.

"Pencarian dilakukan di area sekitar perahu yang karam hingga ke kawasan daerah Padamaran dan Pulau Halang," katanya.

Baca juga: Kapal pencari ikan karam di Rokan Hilir Riau, dua nelayan hilang

Karena lokasi pencarian yang dinilai sangat rawan, maka tim SAR tidak bisa melakukan penyelaman di perairan tersebut saat melanjutkan proses pencarian.

"Risikonya besar kalau menyelam, di samping air keruh kan banyak predatornya," katanya.

Proses pencarian melibatkan tim SAR gabungan yang terdiri dari personel TNI AL dua orang, Polair Rohil 10 orang, BPBD Rohil tiga orang, masyarakat 30 orang, serta Unit Siaga SAR Kabupaten Rohil.

Baca juga: Kapal patroli KSOP Kupang masih cari penumpang "Kasih 25" yang hilang

Kapal pencari ikan karam pada Rabu (16/7) dini hari di perairan Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), Provinsi Riau, mengakibatkan dua nelayan hilang. Korban yang masih dalam pencarian bernama Surya dan Ono.

Kronologi kejadian berawal saat empat nelayan yang sedang menebar jaring di Dermaga Syahbandar Rohil pada Selasa (14/7) malam. Setelah menebar jaring mereka beristirahat di dermaga sambil menunggu jaring.

Setelah kapal ditambat, tidak disadari keempat nelayan tersebut tertidur, sehingga air surut tidak diketahui sampai akhirnya kapalnya karam.

Baca juga: Pertemuan arus sulitkan pencarian korban kapal tenggelam di Kupang
Pewarta : FB Anggoro
Editor: Joko Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2020