Permintaan hewan kurban dari Gunung Kidul sangat tinggi

Permintaan hewan kurban dari Gunung Kidul sangat tinggi

Kondisi Pasar Hewan Terpadu Pengasih di Kabupaten Kulon Progo mulai terpantua ramai menjelang Idul Adha. (ANTARA/Sutarmi)

Gunung Kidul (ANTARA) - Permintaan hewan kurban dari Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, sangat tinggi karena wilayah ini terkenal sebagai gudang ternak di DIY.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunung Kidul Bambang Wisnu Broto di Gunung Kidul, Jumat, mengatakan wilayah Gunung Kidul merupakan gudang ternak di DIY, dengan populasi ternak di atas 100 ribu ekor.

"Sebagai gudang ternak, permintaan ternak untuk disembelih pada Idul Adha 2020 sangat tinggi, seperti dari Jakarta dan Jawa Barat, serta di sekitar DIY," kata Bambang Wisnu.

Ia mengatakan kasus antraks yang pernah terjadi di wilayah ini tidak berpengaruh pada permintaan hewan ternak untuk disembelih pada Idul Adha nanti. Menurutnya, hewan ternak yang dijual di Gunung Kidul sudah dinyatakan sehat dan harus memiliki surat keterangan sehat hewan (SKSH) dari petugas.

Baca juga: Warga Mulusan Gunung Kidul dapat hewan kurban Presiden Jokowi

Baca juga: Pemkab imbau masyarakat menggunakan daun jati distribusikan daging


"Sejauh ini, konsumen masih mempercayai ternak dari Gunung Kidul. Selain itu, kami memberlakukan secara ketat, hewan ternak yang keluar dan masuk ke Gunung Kidul harus memiliki SKSH," katanya.

Bambang Wisnu Broto mengatakan harga hewan kurban juga mengalami kenaikan kisaran Rp1 juta untuk sapi dan, Rp300 ribu sampai Rp500 ribu untuk kambing. Saat ini, harga sapi jantan dewasa siap kurban, harganya rata-rata Rp19 juta sampai Rp 20-an juta. Untuk kambing dewasa Rp2,8 juta sampai Rp3,5 juta per ekor.

"Kenaikan hewan ternak untuk kurkan memang tidak bisa dikendalikan, hal ini sesuai hukum pasar," katanya.

Bambang mengakui pangsa pasar yang tinggi untuk hewan ternak di Gunung Kidul menarik perhatian pedagang asal Jawa Timur untuk mendatangkan sapi dari pulau Madura. Sapi yang relatif kecil ukurannya dijual dengan harga lebih murah antara Rp15 juta hingga Rp16 juta per ekor.

"Hewan ternak yang masuk wajib disertai surat keterangan sehat, begitu pula yang keluar dari sini. Dari sini aman dari antraks," kata Bambang.*
Pewarta : Sutarmi
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020