IDI sarankan masyarakat tetap terapkan protokol kesehatan

IDI sarankan masyarakat tetap terapkan protokol kesehatan

Ilustrasi - Dinas Kesehatan Kota Pontianak kembali melakukan rapid test terhadap 430 ASN di lingkungan Komplek Kantor Wali Kota Pontianak, Selasa. (istimewa)

Pontianak (ANTARA) - Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) wilayah Kalimantan Barat, dr. Rifka memaparkan bahwa kemungkinan COVID-19 ini akan masih terjadi 12 sampai 24 bulan ke depan, untuk itu pemerintah serta masyarakat harus benar-benar mematuhi protokol kesehatan agar bisa menekan angka penularn COVID-19.

"Normal baru (new normal) ini merupakan salah satu langkah yang diambil oleh pemerintah Indonesia dan beberapa pemerintah dunia untuk bisa tetap bertahan di tengah pandemi yang terjadi. Untuk itu diperlukan langkah yang konkrit untuk penanggulangannya di sisi lain kita harus bisa tetap produktif," kata Rifka saat menjadi pemateri pada diskusi yang dilaksanakan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Pontianak, Rabu.

Namun, di tengah produktivitas tersebut masyarakat diingatkan untuk tidak melupakan protokol kesehatan yang ada, agar masyarakat bisa tetap terhindar dari wabah ini. "Makanya menggunakan masker, sering mencuci tangan dan menjaga jarak dalam protokol kesehatan jangan sampai di lupakan dalam penerapan New Normal ini," katanya.

Sementara itu, Ketua Himpunan Psikolog Seluruh Indonesia (HIMPSI) Kalimantan Barat, Dr. Fitri Sukmawati, M.Psi, Psikolog menyebutkan, untuk menghindari dampak COVID-19, psikologi masyarakat harus bisa terus terjaga, salah satu caranya adalah dengan tidak stres.

Baca juga: Dokter-paramedis diimbau IDI Kalbar bekerja sesuai SOP dan pakai APD

Baca juga: Cegah corona, kepala RS, puskesmas dan IDI Singkawang gelar rakor


Tidak panik dapat meningkatkan sistem imun tubuh dalam mencegah penularan COVID-19. 

"Secara psikologis, kepanikan, kecemasan, dan stres dapat menyebabkan daya tahan tubuh menurun sehingga rentan terhadap penyakit, termasuk infeksi COVID-19. Jadi, kami menilai langkah yang dilakukan Bapak Bupati Muda Mahendrawan sejalan dengan pandangan Himpunan Psikolog Indonesia," kata dia.

Ia menuturkan marah, cemas, sedih, dan tertekan memicu otak mengeluarkan hormon noradrenalin. "Yaitu hormon yang sangat beracun yang membuat fisik kita menjadi lemah, sakit-sakitan, cepat tua, dan cepat mematikan syaraf," katanya.

Ia menjelaskan dalam menghadapi masa krisis COVID-19, masyarakat harus berpikiran positif dan tenang supaya mental sehat dan daya tahan tubuh tidak melemah. Dengan daya tahan tubuh yang terjaga baik, kata dia, tubuh tidak mudah terkena penyakit.

Ia juga meminta warga selalu tenang dan mengikuti arahan pemerintah sehingga dapat bertindak antisipatif, terukur, dengan tidak memiliki kecemasan berlebihan atau kekhawatiran, dan stres berkelanjutan. "Mari kita saling mendukung dan jangan saling menyalahkan," katanya.

Fitri menambahkan jika ingin sehat, hormon endorfin harus banyak keluar dari dalam tubuh karena hormon itu memperkuat daya tahan tubuh dan meningkatkan stamina. Cara memunculkan hormon itu dengan terus berpikiran positif, berperasaan positif, dan bersyukur.

"Dengan begitu secara otomatis tubuh akan mengeluarkan hormon endorfin atau yang dikenal sebagai hormon kebahagiaan," katanya.*

Baca juga: Umat Islam diminta bersabar dengan ditiadakannya pemberangkatan haji

Baca juga: Dinkes: Tambahan tujuh kasus positif COVID-19 baru di Kalbar
Pewarta : Rendra Oxtora
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020