BPBA belum terima arahan tindak lanjut program Katana

BPBA belum terima arahan tindak lanjut program Katana

Dokumentasi - Kepala BNPB Letjend Doni Monardo saat meluncurkan program Katana di Pantai Pasie Jantang Kecamatan Lhoong Kabupaten Aceh Besar, Minggu (8/12). (Foto : ANTARA/Khalis)

Banda Aceh (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) menyatakan pihaknya belum mendapatkan arahan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terkait dengan tindak lanjut dari program keluarga tangguh bencana (Katana).

Kepala Pelaksana BPBA Sunawardi mengatakan Katana merupakan program nasional, yang peluncurannya dilakukan di Lhoong, Kabupaten Aceh Besar. Maka untuk tindak lanjutnya harus menunggu program dari BNPB.

"Jadi belum ada arahan sampai sekarang apa yang harus kita lakukan untuk Katana," katanya di Banda Aceh, Selasa.

Sementara untuk program desa tangguh bencana (Destana), BPBA telah menindak lanjutinya dengan memetakan desa resiko bencana, serta membentuk relawan bencana desa sejenis tim reaksi cepat (TRC) yang menjadi ujung tombak penanganan bencana di desa masing-masing.

Baca juga: Kepala BNPB sebut longsor di Sukajaya Bogor ibarat es krim meleleh

"Kalau (tindak lanjut) desa tangguh bencana kita sudah lakukan. (Pembentukan relawan) belum sampai 10 persen, tapi sudah menyebar di beberapa kabupaten/kota," ujarnya.

Sebelumnya, pada Minggu (8/12), BNPB meluncurkan program Katana yang bertujuan untuk membangun mitigasi kebencanaan kepada seluruh keluarga di Indonesia. Katana merupakan salah program dari Destana.

Kepala BNPB Doni Monardo mengatakan dalam peristiwa gempa dan tsunami maka yang paling merasakan dampak adalah lingkungan keluarga, yang mayoritasnya para ibu-ibu dan anak-anak. Dan program Katana dikatakan mulai berjalan pada 2020.

Baca juga: Ini tiga penyebab longsor di Sukajaya Bogor versi BNPB

"Kita harapkan selama lima tahun yang akan datang seluruh keluarga di Indonesia mendapatkan kesempatan untuk mengikuti program keluarga tangguh bencana," ujarnya, saat peluncuran Katana.

Doni juga menyebutkan sejumlah hasil kajian baik dari peneliti dalam dan luar negeri, membuktikan bahwa diri sendiri merupakan sosok pertama yang dapat menyelamatkan diri saat terjadi bencana. Kemudian baru karena pertolongan keluarga, selanjutnya bantuan lingkungan.

"Hanya dua persen orang luar yang datang untuk memberi bantuan. Berarti 98 persen (penyelamatan) itu adalah karena kemandirian, baik orang-perorang, keluarga dan juga lingkungan," sebutnya.

Baca juga: Kepala BNPB : Penanganan banjir-longsor tanpa masalah sosial ikutan
Pewarta : Khalis Surry
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2020