Guru mengaji sambil jadi pedagang asongan butuh bantuan

Guru mengaji sambil jadi pedagang asongan butuh bantuan

Abu sedang mengajar para santri. (ACT)

Jakarta (ANTARA) - Sukarman menjadi guru mengaji sambil menjadi pedagang asongan di Kebumen memerlukan uluran tangan dari para dermawan.

Berdasar siaran pers lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap yang diterima di Jakarta, Selasa, Sukarman sudah membawa sekantong plastik barang dagangan menuju sebuah pasar sedari pagi. Setelah berjualan dia mengajar di TPQ sebuah SD di Desa Kawedusan kemudian kembali ke pasar pada siang hari.

Dagangan Sukarman adalah tambal panci dan pegangan tutup panci. Pada sore hari dia mengajar mengaji belasan murid di Masjid Agung Kauman, Kota Kebumen, yang dia lakukan sejak 2012.

Penghasilannya tergolong kecil sebagai guru mengaji yaitu Rp100 ribu dalam satu bulan dan dibayarkan setiap tiga bulan sekali. Berdagang asongan adalah cara untuk menyambung hidup sebagai guru mengaji. Dari berjualan dia mendapatkan Rp30-50 ribu per hari.

"Seperti itulah kehidupan saya. Kami hanya pasrah kepada Allah. Juga mohon doanya kepada masyarakat, semoga kehidupan kami selalu dicukupkan. Saya berjuang itu bukan karena materi," kata dia.

Berbeda dengan Sukarman, Abu seorang guru honorer Yayasan Pendidikan Islam Mathlah’ul Anwar bergaji Rp300 per bulan harus tinggal di sekolah dalam tiga bulan terakhir agar bisa menghemat biaya operasionalnya sehari-hari.

Pada awal tahun, rumah Abu terkena banjir besar dan hingga kini lumpur masih menggenang di dalam dan di kebun depan rumahnya.

Kepala Sekolah di Yayasan Pendidikan Islam Mathlah’ul Anwar, Aminudin, mengatakan pihaknya tidak keberatan dengan Abu menginap di sekolah.

"Berhubung karena jarak dari sekolah ke rumah juga jauh dan ingin menghemat, jadi beliau tinggal di sini. Untuk makan ditanggung sekolah," kata dia.

Sementara itu, Abu menyambut baik program bantuan dari ACT melalui program Sahabat Guru Indonesia Global Zakat – ACT. Sebuah program yang mengapresiasi para guru prasejahtera melalui bantuan biaya hidup.

"Kalau ada yang menggerakannya seperti Global Zakat – ACT ini, sangat bagus. Jadi bisa terangkat dan penerima manfaat merasa terbantu. Mendapatkan angin segar. Alhamdulillah, ada apresiasi untuk membangkitkan semangat," latamya.

Saat ini terdapat 1.070.622 guru honorer masih harus terus berjuang dalam ketidakpastian. Status mereka yang tidak dijamin dengan baik, mengakibatkan mereka tak mendapatkan gaji yang pantas.

ACT mengajak partisipasi masyarakat berpartisipasi memajukan pendidikan bangsa Indonesia dengan menyediakan biaya hidup guru honorer pra sejahtera melalui www.indonesiadermawan.id/SahabatGuruIndonesia.
Pewarta : Anom Prihantoro
Editor: Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2020