LIPI fokus cari SDM unggul diaspora peneliti Indonesia

LIPI fokus cari SDM unggul diaspora peneliti Indonesia

Kepala LIPI Laksana Tri Handoko ketika ditemui dalam diskusi perihal diaspora peneliti Indonesia di Gedung LIPI, Jakarta Selatan, Senin (9/12/2019) ANTARA/Prisca Triferna

Jakarta (ANTARA) - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) fokus mencari diaspora peneliti yang merupakan sumber daya manusia (SDM) unggul untuk kembali ke Indonesia dan tidak langsung membebani mereka dengan kewajiban membuat inovasi, menurut Kepala LIPI Laksana Tri Handoko.

"Fokus kita terkait diaspora adalah bagaimana merekrut sebanyak mungkin orang-orang terbaik, SDM unggul, untuk kembali ke negara ini. Itu dulu, jangan dibebani dengan ini itu," ujar Handoko dalam diskusi perihal merintis ekosistem riset untuk diaspora peneliti di Gedung LIPI, Jakarta Selatan pada Senin.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo dalam kunjungan ke Korea Selatan pada akhir November bertemu dengan para peneliti dan ilmuwan Indonesia. Dalam kesempatan itu, Presiden berpesan agar para pakar tersebut tidak lupa untuk kembali ke tanah air.

Baca juga: Ekosistem riset disiapkan LIPI jadi wadah diaspora peneliti Indonesia
Baca juga: Kemenristekdikti: SCKD "jembatan" bagi peneliti pemula bermitra


LIPI sendiri sejak 2014 sudah melakukan perekrutan pakar dan ilmuwan diaspora untuk menjadi pegawai negeri sipil di lembaga penelitian tersebut.

Pada tahun ini, sudah ada 12 orang peneliti diaspora yang mendaftarkan diri melalui jalur CPNS dari 93 formasi yang disediakan, menurut data Kepala Biro Organisasi dan Sumber Daya Manusia LIPI Heru Santoso.

Para peneliti diaspora tersebut, menurut Handoko, adalah SDM unggul yang diharapkan dapat memberikan karya yang baik untuk Indonesia termasuk salah satunya adalah inovasi.

Baca juga: Menristekdikti dukung ilmuwan diaspora ikut serta bangun SDM
Baca juga: Diaspora bahasakan manajemen talenta sebagai "Kopassus Ilmuwan"

Inovasi, kata dia, tidak akan muncul tanpa adanya SDM unggul yang mencetuskannya dan negara bisa memberikan ruang untuk para peneliti, diaspora atau lulusan S3 terbaik di Indonesia, untuk berkreasi sesuai bidangnya.

Tidak semua riset dan penelitian harus berakhir dengan inovasi oleh peneliti tapi hasilnya mungkin bisa dimanfaatkan oleh pihak luar untuk menciptakan inovasi lain, menurut Handoko.

"Pada saat yang sama kita tinggal membuat ekosistem inovasi yang lebih ramah buat orang luar seperti start up yang dapat membikin inovasi yang tidak terpikirkan oleh mereka (peneliti) meski menggunakan teknologi atau ilmu yang dikembangkan oleh peneliti," ujar Handoko.

Baca juga: Ito, pakar nanoteknologi yang berjaya di Jerman
Baca juga: Menlu: diaspora agen pengembangan modal SDM Indonesia
Pewarta : Prisca Triferna Violleta
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019